Generasi terakhir yang mengalami amnesia sejarah gerakan kelompok ini hanya tahu bahwa polisi adalah musuh. Padahal awal gerakan kelompok ini di Indonesia adalah melawan umat kristiani (Poso dan Ambon) serta menghancurkan kepentingan Amerika seperti terlihat dalam beberapa rentetan bom-bom di tanah air selama 11 tahun belakangan ini.
Kasus penyerangan posko Brimob di Loki, Ambon pada tahun 2005 oleh kelompok Dahlan alias Asep Djaja adalah di luar tugas Dahlan oleh kelompok ini. Ia dikirim ke Ambon untuk merawat peralatan senjata yang kelompok ini miliki dan tidak melakukan tindakan ofensif. Karena muncul kombatan dari Poso sajalah, kemudian Dahlan ikut dalam penyerangan. Padahal dulu pada waktu konflik, kelompok ini selalu melobi aparat 'face to face' untuk masuk daerah obet (wilayah Kristen). Aparat bertindak sebagai wasit. Kelompok ini sadar kalau menyerang aparat berarti musuh mereka menjadi dua, yaitu umat kristiani dan aparat itu sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian dari kelompok ini sadar bahwa 'Qoidah Aminah' (wilayah aman untuk penerapan syariah) susah diterapkan di Indonesia, baik di Poso maupun Ambon dan Aceh, karena masih dalam wilayah Indonesia. Konsekwensinya, mereka pasti berhadapan dengan aparat yang secara de facto kekuatan mereka jauh di atas kelompok ini.
Dalam menyikapi peristiwa bom bunuh diri ini, mohon pihak-pihak di luar polisi untuk menahan komentar untuk tidak membicarakan secara teknis. Misal sebuah organisasi keagamaan Islam terbesar di negara ini menuduh pelakunya adalah orang lama. ”Dari mana mereka tahu?".
Mohon juga pada masyarakat untuk tidak kontraproduktif. Terimalah jasad pelaku dengan baik, karena pelaku yang mati tidak bisa divictimisasi. Karena kalau ada penolakan dari masyarakat, akan menambah kebencian saja.
Kelompok ini tidak 'cohesive' (satu pandangan) dalam melakukan aksi. Mayoritas mereka mengatakan bahwa di Indonesia apabila dilancarkan melawan pemerintah (yang masih muslim) perlu dikaji ulang. Ini berbeda dengan kasus jihad di Moro melawan Philipina (Katolik), di Afghanistan (komunis), di Pattani (Buddha), dan di Kashmir (Hindu). Kalo di Arab Saudi pun, mujahidin hanya menyerang objek-objek Amerika, belum secara frontal menyerang pemerintahan.
Di Irak, karena pemerintahnya masih disuplai oleh Amerika, maka bagi kelompok ini boleh diserang. "Dosa pemerintah Indonesia belum terlalu parahlah. Jangan karena kita gagal menyerang Amerika kemudian menyalahkan polisi sebagai kambing hitam", demikian argumentasi faksi dari kelompok ini.
Diduga, pelaku bom bunuh diri masjid Mapolresta Cirebon, Muhammad Syarif terlibat secara aktif dan cenderung anarkis dalam demonstrasi anti Ahmadiah. Ini menunjukkan bahwa ketika konflik di wilayah Ambon dan Poso berangsur pulih dan kelompok MILF mulai berunding dengan pihak Manila, maka gerakan anti kristenisasi seperti terlihat dalam kasus FAKTA, Forum Anti Kemurtadan, di Palembang yang menjadi radikal dan sekarang munculnya sosok Muhammad Syarif yang diyakini sebagai aktivis gerakan anti Ahmadiah, menunjukkan pola rekruitmen baru.
Dalam pandangan saya, aksi bunuh diri ini bukanlah keputusan organisasi tertentu, namun lebih dari aksi 'sekelompok orang' (bunch of guys) yang mempunyai visi yang sama. Sulit dibayangkan bahwa aksi ini dilakukan secara mandiri, karena diperlukan orang lain yang merakit bom dan memasangkannya.
*) Noor Huda Ismail, Alumnus Pondok Pesatren Ngruki, Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian dan penulis buku 'Temanku, Teroris?', dapat dihubungi di noorhudaismail@yahoo.com
(asy/asy)











































