Sejak pertama dilantik, hiruk-pikuk orang-orang yang berpretensi wakil rakyat di DPR itu tak lepas dari berlomba mengeruk uang negara, nota bene uang pajak jerih payah rakyat. Ingat, dari Rp 1.086 triliun total anggaran penerimaan negara, sebanyak Rp 708 triliun (hampir 70%) berasal dari pajak! Namun penggunaan 'uang keringat nasional' ini bukannya terdistribusi kembali ke rakyat menuju keadilan sosial dan kemakmuran, tapi lebih terkonsentrasi untuk mengongkosi gaya hidup hedonis orang-orang DPR. Tidak partai lama, tidak partai baru era 'reformasi', semua sama saja. Minta mobil mewah, laptop, dana aspirasi, rumah aspirasi, jalan-jalan studi bodong ke hampir seluruh penjuru dunia, padahal substansinya ramai-ramai menggangsir kas negara bermodus perjalanan dinas, lalu sebagian disetor ke kas partai, sebagian lagi masuk kantonge dhewe. Bermewah-mewah, bergelimang fasilitas. Lupa utang negara masih menumpuk, lupa jutaan rakyat miskin keleleran. Sementara itu skandal demi skandal mencuat keluar, dari perselingkuhan, skandal korupsi besar-besaran, sampai pariporno.
Proyek mewah gedung baru DPR RI itu adalah puncaknya. Catat, inilah monumen dekadensi anggota DPR RI, sebuah monumen kemerosotan moral elite Indonesia suatu masa anno 2009-2014. Mereka ngotot kebobrokannya diabadikan, maka jadilah. Saya mengusulkan untuk nama gedung baru itu sebut saja Burj Al-Alie (Menara Alie), dinisbatkan pada sang Ketua yang paling tanpa risih, tanpa malu dan pernyataan-pernyataannya layak dinobatkan sebagai the worst politician ever. Kebetulan disain gedung kontroversial dengan bentuk kopong di bagian tengah itu memunculkan interpretasi seolah menegaskan makna monumen tentang mereka: kopong akal, kopong hati nurani, kopong budi pekerti. Ajaib, disain yang muncul tanpa sayembara nasional itu seperti klop dengan karakteristik mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi.
(es/es)











































