Gedung Baru DPR Monumen Dekadensi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolma

Gedung Baru DPR Monumen Dekadensi

Selasa, 12 Apr 2011 05:43 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Gedung Baru DPR Monumen Dekadensi
Prinsenhof - Jika para anggota DPR RI ini sudah berkalang tanah, hiruk-pikuk Senayan berganti hiruk-pikuk cacing-cacing kelaparan menyantap jasad-jasad mereka, kira-kira apa yang akan Anda kenang dari mereka? Silakan Anda telisik nama-nama politisi di Senayan itu. Adakah dari nama-nama itu mampu membuat Anda bangga dan bersemangat menceritakan kepada anak cucu sebagai figur-figur negarawan yang patut dijadikan teladan? Adakah karya besar mereka dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, mewariskan undang-undang hebat, yang menjadi pijakan terwujudnya kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan sosial sebagaimana konstitusi telah memberi amanat? Siapakah dari nama-nama itu? Adakah dari mereka yang layak dikenang?

Sejak pertama dilantik, hiruk-pikuk orang-orang yang berpretensi wakil rakyat di DPR itu tak lepas dari berlomba mengeruk uang negara, nota bene uang pajak jerih payah rakyat. Ingat, dari Rp 1.086 triliun total anggaran penerimaan negara, sebanyak Rp 708 triliun (hampir 70%) berasal dari pajak! Namun penggunaan 'uang keringat nasional' ini bukannya terdistribusi kembali ke rakyat menuju keadilan sosial dan kemakmuran, tapi lebih terkonsentrasi untuk mengongkosi gaya hidup hedonis orang-orang DPR. Tidak partai lama, tidak partai baru era 'reformasi', semua sama saja. Minta mobil mewah, laptop, dana aspirasi, rumah aspirasi, jalan-jalan studi bodong ke hampir seluruh penjuru dunia, padahal substansinya ramai-ramai menggangsir kas negara bermodus perjalanan dinas, lalu sebagian disetor ke kas partai, sebagian lagi masuk kantonge dhewe. Bermewah-mewah, bergelimang fasilitas. Lupa utang negara masih menumpuk, lupa jutaan rakyat miskin keleleran. Sementara itu skandal demi skandal mencuat keluar, dari perselingkuhan, skandal korupsi besar-besaran, sampai pariporno.

Proyek mewah gedung baru DPR RI itu adalah puncaknya. Catat, inilah monumen dekadensi anggota DPR RI, sebuah monumen kemerosotan moral elite Indonesia suatu masa anno 2009-2014. Mereka ngotot kebobrokannya diabadikan, maka jadilah. Saya mengusulkan untuk nama gedung baru itu sebut saja Burj Al-Alie (Menara Alie), dinisbatkan pada sang Ketua yang paling tanpa risih, tanpa malu dan pernyataan-pernyataannya layak dinobatkan sebagai the worst politician ever. Kebetulan disain gedung kontroversial dengan bentuk kopong di bagian tengah itu memunculkan interpretasi seolah menegaskan makna monumen tentang mereka: kopong akal, kopong hati nurani, kopong budi pekerti. Ajaib, disain yang muncul tanpa sayembara nasional itu seperti klop dengan karakteristik mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kita sebenarnya berharap bukan seperti itu wakil-wakil kita di DPR. Soal gedung sebenarnya bisa diselesaikan dengan mengurangi jumlah anggota DPR melalui amandemen UU Susduk DPR RI, agar gedung lama tetap liveable dan kawasan hijau Senayan tidak dikorbankan. Triliunan rupiah uang pajak bisa dihemat dan diredistribusikan kepada rakyat untuk mempercepat pemerataan kemakmuran. Lagipula buat apa anggota DPR banyak-banyak sampai 560 orang? India dengan populasinya 1,2 miliar orang, anggota parlemennya cuma 545 orang. Indonesia yang populasinya cuma 237 juta orang, anggota DPR RI idealnya cukup 300 atau 330 orang. Dan masih banyak varian-varian lainnya. Apalagi staf ahli banyak-banyak sampai 5 orang per 1 anggota DPR, ternyata juga tidak berbanding lurus dengan prestasi dan kinerja mereka. Sayang sekali, yang bisa bervisi begini cuma para negarawan dan itu kita tak punya.

Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi.

(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads