Lalu jenderal-jenderal polisi dengan genit bercerita di depan media, menyampaikan analisis dan teori mengenai kelompok- kelompok teror dan siapa target-targetnya. "Segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia barat, diperangi...," (Kepala BNPT, 17/3/2011). Makin serem dan menakutan saja. Siapa pelakunya, bagaimana profilnya, apa motif sebenarnya? Gelap. Segelap kopi hitam pekat di meja saya. Belum tahu. Belum ada yang ditangkap. Lalu pengamat ramai-ramai berkicau. Polisi menabuh gendang, mereka ramai menari mengikuti irama. Pokoknya gaduh dulu. Genit-genitan dulu.
Padahal pada saat bersamaan pemerintah c.q Kembudpar dan perwakilan-perwakilan RI di seluruh dunia saat ini sedang gencar-gencarnya merayu wisman asing, agar mau berkunjung ke Indonesia. Mereka diyakinkan untuk datang. Segala sumber daya dikerahkan dengan biaya tidak sedikit. Brand baru Wonderful Indonesia dikibarkan. Tapi, orang asing akan bertanya-tanya apanya yang wonderful, kalau kesannya bom ada di mana-mana?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teroris beraksi memang dengan tujuan untuk menebarkan kekacauan, ketakutan, kegaduhan. Di mana-mana begitu. Tinggal cara polisi menanganinya. Apa tidak sebaiknya lebih dingin, irit bicara, kalem, agar kegaduhan teredam, masyarakat tenang. Sikat para pengacau, tanpa banyak show. Baru bicara setelah pelaku ditangkap, jaringannya digulung. Bukan seperti sekarang. Dan itu, bom-bom yang ditemukan itu, tak usahlah secara demonstratif diledakkan di depan media. Kalau warga sendiri saja dicekam ketakutan, bagaimana pula dengan orang asing? Discrete-lah jenderal, bukan genit...
Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi.
(es/es)











































