Demokrat (SBY) Balik Kucing
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Demokrat (SBY) Balik Kucing

Jumat, 11 Mar 2011 17:14 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Demokrat (SBY) Balik Kucing
Jakarta - Teriakan heroik berkumandang. Ikrar talak telah diucapkan. Heboh koalisi retak sudah sampai titik didih. Tapi hanya hitungan hari segalanya sirna. SBY balik kucing. Koalisi pun kembali berlayar tenang setelah 'mimpi' dihempas badai.

Tapi akibat itu, ibarat gerbong, sekarang ini Partai Demokrat saling bertabrakan.  Betapa tidak. Paska angket pajak yang membelah koalisi dalam dua kubu yang berseberangan, diteruskan polemik apologis yang kalah untuk mempertahankan jatah jabatan. Itu bersamaan dengan pidato SBY menggaris tegas nasib koalisi ke depan.

Ketegasan itu sempat diapresiasi kawan maupun lawan. Kawan menyingsingkan lengan dan siap pasang badan. Sedang lawan melakukan lobi dan diplomasi agar di balik perpecahan koalisi tidak mendekonstruksi aset partai dalam kabinet. Itu latar PKS dan Golkar rajin bicara kesopanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pertemuan di Cikeas kalimat 'pedang telah tercabut' menstimulasi kader Demokrat. Kata itu memberi sinyal eksistensi Demokrat harus ditegakkan. Gengsi partai dan harga diri partai. Kata itu juga dimaknai, bahwa Ketua Dewan Pembina yang sering disebut peragu mulai 'paham' realitas politik. Tegas bersikap setelah terus dikadali. Endingnya, 'kekerabatan' dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Golkar memang tamat sudah.

Esoknya Ulil Abshar Abdala, politisi Demokrat lantang bicara. Dia menandaskan sikap partainya. Dengan jernih mengurai kemungkinan yang bakal terjadi dalam koalisi. Termasuk juga kemungkinan ‘habisnya’ pembantu presiden dari unsur PKS yang dapat jatah empat menteri.

Tapi esoknya lagi Sudi Silalahi angkat bicara. Isu perombakan kabinet bukan dari istana. Itu disusul ucapan SBY yang memberi tengara pintu yang tertututp bagi PKS dan Golkar kembali dibuka. Bahasa bersayapnya memformat ulang tata koalisi. Semua itu mengalir searus. Maka ketika sedikit 'bujuk rayu' dari PKS dan Golkar berdatangan, SBY pun reda. Koalisi kembali cool seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

SBY atret memang biasa. Tapi dampak dari 'kebiasaan' itu pasukan menjadi kocar-kacir. Stel kencang akibat kekencangan SBY berbuah  menepuk air di dulang. Para kader harus malu dan dipermalukan omongannya sendiri. Jadi bahan tertawaan. Dicibir sebagai politisi yang mencla-mencle. Gampang menjilat ludah sendiri.

Sikap gampang luluh SBY memang baik dan manusiawi. Dalam etika politik versi Jawa pun disarankan. Melalui sesanti menang nora ngasorake, kalah nora ngisin-isini jelas tersurat, bahwa lawan yang kalah jangan dipermalukan. Dan bagi yang kalah pun kekalahannya jangan membuatnya malu. Namun adakah sikap SBY itu aplikasi dari sesanti itu?

Tidak. Sikap SBY itu telah membalik kemenangannya dan kemenangan Demokrat menjadi kekalahan. Kekalahan yang paling menyakitkan dan sulit untuk disikapi adalah meralat dan menarik ucapan yang sudah terlanjur diungkapkan. Dan itu bukan hanya kader Demokrat di Jakarta, tapi seluruh kader yang sudah terlanjur berucap dan bersikap sama di seantero Nusantara.

Sekarang kalau ingin tahu keresahan di Demokrat, maka kuping dan intip SMS atau pembicaraan antar-mereka. Kelesak-kelesiknya hampir sama. Bagaimana bersikap menghadapi lawan yang 'nakal' sekaligus 'usil' tapi dimenangkan.
 
"Kalau Golkar okelah, karena mereka orang partai sekaligus professional. Tapi PKS? Itulah yang membuat kita pening," celoteh mereka. Adakah akan ada kejutan lain yang bakal mengoyak-oyak Partai Demokrat dari dalam tubuhnya sendiri?

*) Djoko Suud Sukahar
adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.


(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads