Kedua, sebagai bukti keberhasilannya, sedikitnya Fauzi Bowo telah berhasil mengurangi bencana banjir dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Banjir yang dahulu menggenangi semua tempat di Jakarta, sekarang sudah ada wilayah yang mulai terhindar dari bencana banjir. Antara lain dapat disebutkan Kompleks Diklat Lembaga Administrasi Negara di Pejompongan. Tempat itu dahulu dikenal sebagai daerah langganan banjir. Hujan satu jam saja, sudah cukup untuk menggenangi seluruh kompleks sehingga pelatihan terpaksa di liburkan. Tetapi, selama dua tahun terakhir ini tempat itu sama sekali tidak banjir lagi, meskipun hujan turun lebih dari satu minggu dan Sungai Ciliwung penuh air.
Keberhasilan itu mungkin belum dirasakan oleh wilayah-wilayah lain, tetapi dengan keberhasilan yang mulai bersemi itu, patutlah kita mengacungkan jempol memberi penghargaan, dengan harapan semoga di wilayah-wilayah lain dan dalam bidang-bidang lain pun akan berhasil.
Lepas dari itu, keberhasilan pencegahan banjir juga sangat terkait dengan kesadaran kita bersama untuk ikut berpartisipasi. Terutama dalam pembuangan sampah. Sifat "jorok" yang bersumber dari sikap individualistis dan tidak sadar lingkungan harus segera kita hilangkan. Yakni sikap yang menganggap sungai, jalan, situ, kolam dan laut sebagai tempat pembuangan sampah. Jika pandangan dan sikap ini tidak dapat kita tinggalkan, jangan harap bencana alam akan dapat dihindarkan di Indonesia.ย
Bersamaan dengan itu, ada dua kaedah yang antara lain perlu diperhatikan oleh Pak Fauzi Bowo sebagai Gubernur, agar pembangunan Betawi menjadi lebih baik dan lebih berhasil. Kaedah pertama, bahwa pembangunan gedung-gedung, jembatan, jalan dan infrastruktur lain bukanlah pembangunan. Itu adalah pembangunan sarana (pembangunan), bukan pembangunan itu sendiri. Pembangunan adalah pengembangan kemampuan dari rakyat dan masyarakat setempat untuk mampu menentukan nasib ditangan dirinya sendiri dan memanfaatkan sarana yang ada dan yang diperlukan untuk meningkatkan tingkat hidup atau membangun dirinya sendiri itu. Tanpa ada kemampuan untuk memanfaatkan, sarana itu tidak ada gunanya.
Kedua, dalam pembangunan daerah perlu dibedakan antara pembangunan di daerah dengan pembangunan daerah. Pembangunan di daerah adalah pembangunan yang dilakukan dalam wilayah suatu daerah, tidak perlu tahu apakah pembangunan itu bermanfaat kepada rakyat dan penduduk setempat, atau tidak. Maka itu untuk melakukan pembangunan di daerah, kita cukup mengundang modal asing berinvestasi dimana saja mereka mau dengan cara apa pun, dan dengan keuntungan yang dapat sepenuhnya diambil oleh mereka. Rakyat cukup melihat saja, bahwa di sana ada lampu jalan, ada gedung-gedung, ada jembatan, ada mal, ada pabrik-pabrik dan sebagainya. Sedangkan pembangunan daerah adalah pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan rakyat setempat agar mampu merubah nasib dengan tangannya sendiri.
Perubahan nasib itu boleh jadi melalui kerjasama dengan orang lain atau kerjasama sesama sendiri. Tetapi kerjasama yang dimaksud adalah kerjasama yang setara, yakni kerjasama yang saling menguntungkan. Bukan kerjasama antara budak dengan tuannya, bukan kerjasama antara buruh dengan majikan, bukan kerjasama yang a symetris, yang satu menguntungkan terus, sedangkan yang lain merugi terus. Kerjasama seperti itu disebut kerjasama yang eksploitatif.
Untuk itu diperlukan strategi pembangunan yang bertumpu pada kepentingan rakyat dengan mengembangkan kemampuan rakyat atau penduduk setempat melalui pendidikan dan pelatihan (education and training). Itulah sebabnya, mengapa pendidikan disebut sebagai pembangunan yang hakiki, yang dituntut sebagai sebuah kewajiban dalam agama Islam.
Persoalannya sekarang, bagaimana rakyat Betawi dapat ditingkatkan kemampuannya melalui pendidikan itu? Jika pemerintah mempunyai iktikat untuk meningkatkan kemampuan mereka, kepada mereka perlu diberikan kesempatan yang lebih luas dalam bidang pendidikan dari pada yang terbuka untuk orang lain. Mereka yang selama ini tergusur karena ketidak mampuan berhadapan dengan perkembangan "pembangunan di daerah"-nya, terpaksa menjual tanah warisannya. Di atas tanah tersebut kitaย melakukan pembangunan di Ibu Kota ini.
Karena itu sepatutnyalah kalau kepada anak-anak Betawi diberikan fasilitas khusus dalam bidang pendidikan. Dalam hal ini, sewajarnyalah kalau Pemerintah DKI Jakarta, memberi subsidi penuh kepada anak-anak Betawi untuk menempuh pendidikan gratis mulai dari TK sampai ke perguruan tinggi dalam wilayah Jabodetabek. Hal yang demikian juga diperlakukan dinegara-negara lain, misalnya dalam pembangunan wilayah tertinggal melalui Program Appalachia di Amerika Serikat.
*) Said Zainal Abidin adalah ahli majanemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.
(vit/vit)











































