Sejarah, Mitos dan Bisnis 'Impian'
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Sejarah, Mitos dan Bisnis 'Impian'

Selasa, 08 Mar 2011 08:30 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Sejarah, Mitos dan Bisnis Impian
Jakarta - Dalam  kisah-kisah kepahlawanan Jawa, yang kraton sentris, dan bercerita hanya tentang orang-orang besar, kita mengenal raja-raja agung binatara dan putri-putri cantik jelita. Di antara para raja ada titisan Dewa, dan banyak puteri turunan bidadari.

Syahdan, seorang raja, titisan Dewa Wisnu, melamar putri sebagai permaisuri. Sang putri bersedia, asal baginda bisa mengumpulkan 800 selir, untuk menjadi abdi-abdinya. Memang aneh. Ideologi kaum feminis menolak mentah-mentah gagasan  poligami, dia malah minta sebaliknya. Di sini kita belajar satu hal: tiap corak ide, atau gagasan, memang merupakan anak kandung dari semangat zamannya. Aneh tak aneh, permintaan pun dikabulkan.

Dan bukan hanya itu. Sang permaisuri pun minta Baginda Raja memindahkan Taman Sriwedari, di khayangan, buat memenuhi citarasa seninya. Baginya, taman keputren yang indah itu bukan apa-apa. Para empu seni pertamanan zaman itu menyebut permaisuri empunya para empu keindahan. Yang lain bilang: dewi keindahan yang mengejawantah di bumi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dan baginda? Beliau raja berwatak pandhita. Permintaan sang permaisuri dianggap tantangan buat menghadirkan kekaguman jagat raya, bahwa apa yang mustahil bagi orang  lain, tak mustahil baginya. Dan itu terbukti. Begitulah kekuatan sabda pandhita ratu.

Tak perlu diceritakan di sini, siapa yang diperintahkan mengemban tugas mustahil ini. Tapi wajib dikisahkan bahwa dunia tiba-tiba membelalak, nyaris tak percaya, bahwa taman Sriwedari telah dipindah ke bumi. Dengan begitu, baginda menjadi semakin termasyhur, dihormati tapi juga ditakuti para raja di negara-negara tetangga. Mereka takluk tanpa dikalahkan secara kemiliteran.

Siapa telah memperalat siapa, kita tak pernah tahu. Tapi kita tahu, baginda mengubah citarasa seni permaisuri menjadi kekuatan politik-ekonomi kerajaan. Permaisuri memikirkan seni demi keindahan, baginda berpikir seni untuk politik, demi mengakumulasi kekuasaan dan kewibawaan. Maka, dari sini tampillah kombinasi kekuasaan yang indah, dan berwibawa: bukti seutama-utamanya raja.

Bung Karno sudah jadi mitos. Beliau mengidentifikasikan diri sebagai Karna, putera Batara Surya. Mitos tentang putera Sang Fajar pun artinya putera Dewa Matahari. Tak mustahil bangsa Jepang, turunan Amaterasu, juga dewa Matahari, takluk tanpa syarat kepada negeri yang rakyatnya berjuang di bawah pimpinan putera Sang Fajar. Boleh saja jepang memitoskan diri sebagai pemimpin Asia, pelindung Asia, cahaya Asia. Tapi semua mitos itu rontok di tangan Bung Karno. Kita jadi tahu, perang bukan cuma memerlukan diplomasi, tapi juga mitos, yang bisa menggempur lawan.

Arsitek bangsa ini pun punya mimpi-mimpi. Beliau ingin agar Ancol dibangun menjadi sebuah taman seindah taman Sriwedari, untuk menjadi tempat rakyat mewujudkan impiannya.

Tapi rakyat tak punya mimpi macam itu. Maka, pemimpin lah yang  mengambil prakarsa. Gagasannya: 'mimpi' itu harus dijual. Kita tahu, tiap menjual barang, hakikatnya kita menjual 'mimpi'. Juga sejarah, dan mitos. 'Mimpi', sejarah, dan mitos selalu melekat pada  produk yang kita jual. Sebuah produk, betapapun bagusnya, tak bisa dijual tanpa bumbu 'mimpi', sejarah dan mitos tadi.

Bang Ali itu gubernur yang mewujudkan mimpi-mimpi Bung Karno tentang Ancol. Dia memilih partner strategis: Ciputra. Ini tokoh ahli membisniskan semua jenis 'mimpi', muatan sejarah dan mitos-mitos. Dia pun ahli mencipta 'mimpi' dan mitos tentang produknya.

Mulanya, tempat hiburan itu disebut Bina Ria. Karena pengaruh 'teater mobil', yang memutar film-film panas yang mendebarkan jiwa muda, maka citra 'mesum' pun menyebar di masyarakat. Lalu diganti: 'Taman Impian Jaya Ancol'. Sekarang 'Taman Impian Ancol' Bahkan lebih ringkas: 'Ancol'. Kesan buruk lenyap. Dan mitos yang kini dijual: taman keluarga. Anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua, dilayani. Basis kinerja pelayanan utamanya kehangatan profesional.
  
Pelayanan teknis, mekanistik, tersedia. Tanda-tanda, petunjuk dan semua hal yang diperlukan di lapangan, ada. Misalnya petunjuk: masjid dan WC umum. Sebelah sana Gelanggang Samodera. Ke arah kiri, Pasar Seni yang terkenal itu.

Pelayanan manusiawi pun tersedia. Petugas -juga satpam- ramah. Semua sadar, ini bisnis jualan jasa. Maka, keramahan dan profesionalisme yang dikedepankan. Kemasan yang menarik itu penting. Tapi kemasan tak boleh mengorbankan kualitas produk. Kita tahu, kolam ya kolam. Tapi dengan kemasan berbau mitos: 'Atlantis Water Advanture' kolam lalu memiliki imajinasi "beyond the boundary of just water". Ada kolam riam jeram, kolam ombak, kolam spiral luncur, volley air, kolam apung, water outbound, rainbow balls, kiddy pool.

Ini daerah pantai, dengan seribu pulau, yang masyhur. Maka, air dijual sebanyak-banyaknya. Kecuali obyek di atas, ditawarkan juga Pulau Bidadari: one of the most exotic "Thousand Islands". Juga Marina: dermaga kapal pesiar bergaya kosmopolitam, pertama dan terkemuka di negeri ini. Keren kan?

Ada juga wisata kuliner yang menggiurkan selera. Ciri khas, 'produk' unggulannya restoran Bandar Jakarta: menawarkan  menu-menu sea food, dengan pelayanan gaya Batavia tempo doeloe. Inilah kekuatan sejarah tadi.

Ada pula bisnis property. Town House mewah, dengan gaya hidup modern. Dibangun 36 unit. Arsitekturnya bergaya mediteranian. Kita bangsa yang sedang go global. Tapi identitas ke-Indonesia-an tak boleh luntur. Di sini dipertahankan agar warna Asia, dan Indonesia menjadi ciri utama. Tak boleh kebarat-baratan.

Patut diakui, managemen Ancol kreatif menciptakan mitos-mitos tentang produknya. Setiap mata dagangan memiliki 'bumbu' sejarah, dan 'pesona' mitosnya sendiri-sendiri, sesuai dengan semangat zamannya. Bisnis harus kontektual. Kesadaran politik global, perlunya 'mitos' produk ramah lingkungan, juga berlaku di sini.

Sekali lagi, konteks historis, dalam bisnis, penting, sepenting peran mitos buat 'membangun' mimpi. The  power of dream  penting buat membuai kesadaran kritis para konsumen.

Tak heran 'Ancol' meraih begitu banyak 'Awards' keunggulan bisnis. 'The Best Companies in Asia and Australia', 2006, 'Indonesia Property Award', 2006, 'Investor Award' 2007, 'Marketing Award', 2007.
 
Malam itu saya menghadiri acara peringatan 36 tahun pasar seni: ruh Ancol secara keseluruhan. Wilayah seluas 600 hektar itu intinya inti ada di pasar seni, yang luasnya 4,5 hektar. Pekan Budaya Nusantara dipamerkan di sana. Budaya daerah dihormati. Ini menegaskan makna kebhinekaan kita. Ini warna Indonesia, yang bikin kita merasa, kita sebangsa. Dan kita bangga memiliki kekayaan budaya yang begitu hebat, dan kita beri merek Indonesia.

Di sana ada 'jazz community', tiap Jumat. Acara Koes Ploes: Kamis. Pekan Budaya, Nusantara, dibuka di sana juga. Budaya daerah tampil, menegaskan kenyataan 'kebhinekaan' kita. Malam Jumat lalu atraksi 'Stensil Arts': seni jalanan, citarasa seni kaum muda. Ini seni kelas dunia. Tahun lalu pagelarannya di Miami, AS. Tahun ini di pasar seni, Ancol. Seni rupa, seni musik, tari, dan seni lukis, berkembang. Interaksi berbagai corak seni itu memberi para seniman inspirasi. Dan membuat mereka kreatif mencipta.

Kerajinan kulit: tas bagus, dan wayang eksotik, ada di sana. Ukiran kayu, terbaik pun ada. Juga seni lukis. Beberapa pelukis yang mulai mendunia,misalnya Mas Cubung, anggota komunitas seni di sana. Mereka sedang 'mengukir' nasib. Dan meraba dalam kegelapan sejarah masing-masing, untuk menjadi the best. Dan mengangkat nama 'Ancol' ke pasaran dunia. Mereka sibuk merayakan makna sejarah dan mitos dalam bisnis 'impian'.

*) Mohammad Sobari adalah budayawan dan mantan Pemimpin Umum Kantor Berita Antara.
(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads