Saban 14 Pebruari hampir seluruh dunia ramai dalam kepikukan pesta bagi-bagi permen, coklat, bunga dan 'kartu cinta'. 'Tradisi' itu berjalan berabad-abad, yang kian tahun kian banyak saja pengikutnya.
Sikap kritis hilang sejalan euphoria yang terus dihidupkan. Ditambahย perayaan itu punya nilai bisnis tinggi, tiap Valentineโs Day setidaknya beredar uang setara Rp 140 triliun untuk dibelanjakan, maka semuanya larut dalam 'kegembiraan' yang tak perlu lagi dicari muasal kegembiraan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Legenda tentang pastor Valentine yang hidup di abad ketiga di Roma itu tak lagi ada yang tahu. Pemberontakannya terhadap larangan Kaisar Romawi Claudius II agar perjaka tidak berkeluarga demi penguatan militer tidak disoal. Yang diingat hanya cinta sejati yang membawanya mati. Valentine dipancung akibat menikah.
Romantisme yang berakhir tragis itu sebenarnya tidak terlalu istimewa. Dari sisi kisah lebih melankolis Romeo & Julietnya Shakespeare, Magdalenanya Mustafa Lutfi Al-Manfaluthi (1876-1942). Bahkan dari sisi liris dan keagungan cinta, Laila Majnun karya Nizhami sangatlah berharga lebih tinggi. Betapa cinta Majnun tak hanya dalam koridor manusia dengan manusia, tetapi menyentuh hakikat cinta makhluk terhadap Sang Khalik. Tapi mengapa kisah-kisah itu dikalahkan Valentine?
Itulah bisnis. Jika ada kepentingan dagang di dalamnya, publikasi terus dilakukan. Valentine's Day menjadi paket tahunan dari bisnis coklat, kue, permen, bunga, serta kartu ucapan. Ini masa panen. Kendati Esther A Howland saat memproduksi kartu Valentine di Amerika (1840), Richard Cadbury mengangkat Valentine's day sebagai kemasan coklatnya (1868)ย belum menyadari prospek sejauh itu. Juga kue New England (1902). Pembelian kado Valentine's Day sekitar Rp 140 triliun adalah alasan utama Valentine's Day rutin dirayakan.
Bagi masyarakat Jawa, legenda cinta sejati yang dibawa mati tak sulit dicari. Kisah romantis sekaligus heroik yang dipercaya pernah terjadi di era Mataram menimpa Roro Mendut. Dia gadis sangat jelita sekaligus perkasa.
Kecantikannya menggoyang nafsu birahi elit Mataram, Tumenggung Wiroguno dan Adipati Pragola. Cinta dua pembesar itu ditolaknya. Dengan terang-terangan dia ungkapkan kekasih yang menawan hatinya, yaitu Pronocitro.
Akibat itu gadis ini dikenai kewajiban membayar pajak tinggi. Dia sadar tidak mampu melakukan itu. Namun demi cintanya, dia tak surut. Kecantikannya 'dijual' untuk publik. Dia jualan rokok 'tingwe' (melinting dewe). Tembakau dilinting, dijilati agar lengket dan dijual 'ketengan' dengan harga mahal. Berkat itu Roro Mendut berhasil mengumpulkan uang banyak untuk membayar pajak.
Namun nafsu yang telah sampai di ubun-ubun membuat Tumenggung Wiroguno semakin kreatif. Tidak berhasil menaklukkan Roro Mendut, kini Pronocitro yang โdigarapโ. Dengan alasan 'bela negara', lelaki itu dipaksa maju ke medan perang. Saat itulah Tumenggung Wiroguno mendatangi Roro Mendut dan mengabarkan Pronocitro praloyo (mati). Panglima perang Sultan Agung itu sekaligus melamarnya.
Roro Mendut tetap tak mau menerima pinangannya. Dia dengan sigap mencabut keris Tumenggung Wiroguno, dan menusukkan ke perutnya. Roro Mendut tewas. Dia mati bersama cinta yang diyakininya.
Adakah tidak layak menghadirkan cinta dan kesetiaan Roro Mendut di hati kita ketimbang 'memperingati' Valentine? Selamat hari Roro Mendut, kawan, semoga cinta selalu bermekaran di batin kita.
*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(vit/vit)











































