Gong Xi Fa Cai dan Membasmi Korupsi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Gong Xi Fa Cai dan Membasmi Korupsi

Jumat, 04 Feb 2011 08:49 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Gong Xi Fa Cai dan Membasmi Korupsi
Jakarta - Tahun baru China, Imlek atau Sincia diperingati setiap tanggal satu bulan kesatu pada setiap tahun China, sering disebut Guo Nian, dibaca Kuo Nian. Pada hari itu semua orang Tionghoa menyambutnya dengan gembira dan biasanya setiap bertemu kerabat dan handai tolan selalu mengucapkan "Gong Xi-Gong Xi" dibaca: Kong Si-Kong Si yang artinya "Selamat-Selamat". Ucapan ini kemudian berkembang menjadi "Gong Xi Fa Cai," dibaca: Kong Si Fa Cai yang artinya "Selamat Semoga Murah Rezeki."

Sebenarnya "Gong Xi Fa Cai" bukanlah merupakan ucapan yang berkaitan langsung dengan tahun baru, ucapan yang paling tepat adalah "Xin Nien Kuai Lok" yang artinya Selamat Tahun Baru. Lebih lengkapnya ucapan pada perayaan Imlek adalah "Gong Xi Fa Cai, Xin Nien Kuai Lok" berarti "Selamat Semoga Murah Rezeki dan Selamat Tahun Baru".

Di Indonesia, masyarakat keturunan Tionghoa dapat merayakan tahun baru Imlek dengan bebas sejak tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Mulai tahun 2003, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tahun baru China, Imlek atau Sincia pada tahun 2011 ini jatuh pada tanggal 3 Februari 2011, tercatat sebagai tahun 2562 diambil dari tahun kelahiran Kong Hu Cu (Kongzi). Perayaan ini akan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke lima belas saat bulan purnama.

Kali ini kita akan memperbincangkan Imlek atau Sincia bukan saja ditinjau dari perspektif kisah atau legenda diperingatinya Imlek, tetapi kita akan melihatnya dalam perspektif yang lebih kontekstual dikaitkan dengan upaya membasmi (mencegah dan memberantas) tindak pidana korupsi.

Legenda Imlek

Di setiap peringatan Imlek nuansa warna merah menyala dan letusan mercon yang membahana biasanya akan merona, disertai dengan pernak-pernik kue keranjang, barongsai dan angpau. Semua ini berakar pada suatu legenda klasik Tiongkok.

Konon, dahulunya sebelum perayaan tahun baru Imlek tiba, orang sering menghadapi hari terakhir pada setiap tahun dengan gelisah. Hari terakhir tahun, atau sap cap meh disebut sebagai Nian Guan yang berarti “gerbang monster”. Untuk memasuki Guo Nian, orang mesti melewati Nian Guan ini.

Berdasarkan legenda ini, dikisahkan bahwa pada zaman dahulu daratan bumi masih dihuni oleh berbagai macam binatang buas dan monster yang menakutkan. Diantara semua monster itu Nian adalah yang paling menakutkan.

Nian adalah sosok monster berkepala mirip singa dengan mulut yang amat lebar. Ia sangat buas dan suka menyedot dan menelan semua makhluk hidup yang ditemuinya. Keganasan Nian itu sangat menakutkan manusia. Nian juga dikenal sebagai makhluk yang sombong dan suka membanggakan dirinya. Ia biasanya merajalela setiap akhir tahun, tepatnya tanggal 30 bulan 12 penanggalan Tiongkok (Lunar Calender).

Untuk menghadapi teror dan keganasan Nian ini para orangtua pun mencari cara bagaimana mengatasinya. Maka muncullah sosok orangtua berambut putih, beralis putih, berkumis dan berjanggut putih yang pintar bernama Hong Jun.

Menjelang akhir tahun di bulan dua belas, saat Nian mincul, Hong Jun yang mewakili warga manusia mendatangi Nian dan berkata: "Kami dengar bahwa engkau sangat perkasa, namun mengapa engkau hanya berani menghadapi manusia yang lemah dan tak berarti ketimbang makhluk-makhluk buas yang banyak berkeliaran di hutan dan sekitar desa?" Mendengar ucapan itu Nian tertantang dan merasa diremehkan. Ia pun segera pergi memburu semua binatang dan monster buas lainnya untuk membuktikan keperkasaannya. Ia tidak tahu, ini sebenarnya akal-akalan Hong Jun agar manusia bisa terbebas dari ancaman monster-monter tersebut dan mengalihkan perhatian Nian.

Setelah memburu habis semua monster tersebut, Nian kembali ke desa dan membanggakan dirinya. Di saat itulah Hong Jun tiba-tiba berubah menjadi seorang dewa dan meloncat ke punggung Nian. Kaget akan hal itu Nian kemudian melompat ke angkasa dengan dikendarai oleh Hong Jun. Sejak saat itu Nian tak pernah muncul lagi ke bumi. Sebelum menghilang ke angkasa, Hong Jun berpesan pada semua manusia agar pada setiap akhir tahun menempelkan kertas merah di setiap pintu dan jendela rumah serta menghidupkan petasan yang bersuara keras agar Nian tidak kembali lagi ke bumi, sebab Nian takut pada warna merah dan bunyi-bunyian yang keras.

Dengan lenyapnya monster di bumi, orang merasa tentram dan menyambut dengan gembira. Guo Nian kemudian juga bisa disebut sebagai Xin Nian atau tahun baru. Mereka merayakan terbebasnya bahaya itu dengan saling mengucapkan "Gong Xi-Gong XI" ucapan yang kemudian menjadi "Gong Xi Fa Cai" untuk menyambut Xin Nian. Dari sinilah tradisi Imlek itu dirayakan.

Angpau dan Membasmi Korupsi


Pada perayaan tahun baru China atau Imlek salah satu tradisi yang menarik lainnya adalah orang-orang saling bertukar salam, yang muda mendatangi yang tua. Orang-orang tua memberi angpao kepada yang muda. Angpao adalah kertas merah yang isinya uang dalam jumlah yang bervariasi, biasanya jumlah uangnya genap asal bukan empat.

Tentu bukan tradisi pemberian angpau pada perayaan tahun baru China, Imlek atau Sincia yang menyebabkan suburnya korupsi dan suap yang dilakukan dalam semua sendi kehidupan kebangsaan kita. Namun kini kita semakin terbelalak dihadapkan pada kenyataan bahwa pejabat yang menerima suap atau "angpau" dalam pengertian yang negatif semakin merajalela. Bahkan monster-monster yang menakutkan berupa para koruptor masih belum sirna dari muka bumi Indonesia. Monster-monster itu siap membinasakan masa depan kehidupan manusia bahkan dapat meruntuhkan eksistensi sebuah negara.

Dalam perspektif semacam inilah disaat sebahagian warga bangsa Indonesia tengah memperingati tahun baru China, Imlek atau Sincia kita memerlukan spirit moral bagi upaya membasmi (mencegah dan memberantas) tindak pidana korupsi melalui: Pertama, kesadaran moral kita bersama mesti terwujud secara kolektif bahwa ancaman dan teror bagi kemanusiaan yang dilakukan oleh para monster berupa koruptor harus dicarikan cara yang paling efektif untuk mengatasinya. Munculnya monster Nian atau terungkapnya para koruptor kakap akan memakan koruptor teri dengan membongkar seluruh jejaring koruptor dan mafia, baik mafia hukum maupun mafia pajak.

Kedua, kita berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga yang superbody dalam mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi dapat menjadi dewa Hong Jun yang dapat membasmi para monster berupa koruptor yang meneror dan mengancam kehidupan warga negara dan bangsa Indonesia.

Ketiga, bila semua monster-monster berupa koruptor itu telah dibasmi di bumi Indonesia, maka KPK selaku dewa Hong Jun akan pergi dan berpesan agar monster-monster atau para koruptor itu tidak kembali lagi dan bangsa Indonesia dapat menata penegakkan hukum khususnya tindak pidana korupsi melalui Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman sebagai institusi penegakan hukum yang bersifat permanen bukan adhoc seperti KPK.

Suatu masa sebahagian warga bangsa Indonesia merayakan tahun baru China, Imlek atau Sincia dan segenap bangsa Indonesia ikut meraskan tahun baru China, Imlek atau Sincia dengan rasa gembira karena monster berupa koruptor itu telah lenyap dari bumi Indonesia dengan ucapan "Gong Xi Fa Cai", atau "Selamat Semoga Murah Rezeki”, dalam arti murah rezeki, merasa tentram dan bahagia yang sesunguhnya lantaran kita telah dapat menata bangsa Indonesia menjadi lebih kaya dan sejahtera. "Gong Xi Fa Cai, Xin Nien Kuai Lok" ("Selamat Semoga Murah Rezeki, Selamat Tahun Baru").

*) Wahyu Triono KS adalah Direktur CINTA Indonesia dan Professional Campaign and Politic Consultant pada DInov ProGRESS Indonesia.

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads