Menunggu Profesionalisme PLN
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Menunggu Profesionalisme PLN

Senin, 17 Jan 2011 18:29 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Menunggu Profesionalisme PLN
Jakarta - Belum lama ini, beberapa jurnalis di Pekanbaru diundang liputan ke Selangor, Malaysia. Oleh panitia, rombongan jurnalis diinapkan di sebuah hotel di Selangor. Saat itu liputannya memang tidak tersangkut soal kelistrikan.

Saat akan dilakukan pembayaran hotel, resepsionis memberitahukan bahwa malam itu akan ada pemadaman listrik selama 6 jam. "Mohon maaf ncek, nanti malam mati lampu," kata resepsionis dengan nada datar sembari menyodorkan surat pengumuman dari perusahaan listrik setempat.

Ketika hal itu diberitahukan, aku hanya geleng kepala. Aku teringat di negaraku yang sudah menjadi kebiasaan terjadi pemadaman listrik. Tak ada pilihan lain, kami pun harus menginap di hotel sederhana itu tanpa listrik di malam hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iseng, setelah istirahat sejenak, aku ajak ngobrol resepsionis tadi. Aku ingin tahu, apakah pemadaman listrik ini sama di negaraku. Dengan enteng resepsionis ini menjelaskan, bahwa pemadaman listrik ini memang rutin terjadi. Hanya saja yang membedakan bila di negaraku pemadaman listrik  seperti minum obat, tiga kali terjadi dalam sehari, ternyata di negeri tetangga ini pemadaman bergilirnya setahun sekali. Pemadaman yang terjadi setahun sekali itu, sifatnya hanya pemeliharaan jaringan.

Penasaran akan pemadaman listrik di Negeri Jiran ini, malam harinya aku duduk di teras hotel. Hanya jarak sekitar 100 meter di seberang tempat hotel kami menginap, terlihat lampu listrik dan lampu jalan terang benderang. Penasaran lagi, aku tanya kembali pada resepsionis. Ternyata dia memberitahukan, pemadaman bergilir ini hanya
dirasakan sekitar 300 pelanggan saja. Beda dengan di negaraku, sekali pemadaman
bisa ribuan pelanggan.

Kondisi kelistrikan negara tetangga ini tentulah berbanding terbalik dengan negaraku. Di negaraku, listrik dianggap 'benda' langka yang dibutuhkan banyak orang. Minimnya daya, membuat masyarakat harus antre bertahun-tahun untuk dapat menikmati listrik. Ibarat hukum bisnis, stok terbatas, harga barang pasti melambung. Keterbatasan daya inilah, selalu dimanfaatkan oknum-oknum untuk mendapatkan dana sampingan. Rakyatpun rela di permainkan oknum PLN dengan meminta dana lebih dari ketentuan, asalkan rumah mereka tersalur listrik.

PLN dulunya juga dikenal perusahaan negara yang bermuka badak tak tahu malu. Kritikan masyarakat melalui media massa juga sering diabaikan. Ini mungkin, bentuk keangkuhan PLN  karena rakyat tak punya pilihan lain untuk mendapatkan penerangan lampu selain perusahaan plat merah itu.

Namun, selaku jurnalis, aku juga harus mengakui, kini ketika PLN dipimpin Dahlan Iskan yang juga seorang jurnalis, mulai membawa sedikit perubahan. Jika dulu PLN tidak peduli dengan pemberitaan media massa akan carut marutnya kelistrikan kita, kini di tangan Dahlan para pekerja PLN sedikit membuka mata dan mulai merespon jika terjadi pemberitaan soal kinerja PLN yang tak becus.

Dahlan Iskan juga harus mengakui,  bahwa selama ini soal pembagian pembangkit juga dirasakan ada perlakukan yang berbeda. Bukan bermaksud SARA, tapi memang fakta menunjukan distribusi listrik masih jauh lebih baik di Jawa ketimbang di luar pulau Jawa.

Terlepas siapa pun kelak pemimpin PLN, kita harus ingatkan, bahwa mereka masih memiliki PR yang begitu banyak. PLN harus berlaku adil ke sesama anak bangsa. Jangan ada pelanggan anak emas dan pelanggan anak tiri. Perlu diingat ada 40 persen rakyat di negeri ini belum menikmati listrik. PLN harus kerja keras untuk menunjukkan keprofesionalannya.

*) Chaidir Anwar Tanjung adalah wartawan detikcom. Tulisan ini tidak mewakili
kebijakan redaksi.

(cha/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads