Kuntoro Mangkusubroto baru saja ketemu Presiden. Ketua Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) itu tinggal hitungan hari menyerahkan 'nilai' para menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid dua. Ini sebagai evaluasi menteri. Diganti atau dipertahankan.
Jika bulan Januari 'nilai' itu dipublikasikan, hampir pasti parpol yang merugi akan berteriak. Melontarkan seabreg bantahan sekaligus 'ancaman'. Dan itu pembuka tahun 2011, warsa yang diramal diwarnai kelucuan-kelucuan konyol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uniknya ide ini mengemuka persis di saat Ketua UKP4 itu baru mengucap soal evaluasi kinerja menteri yang akan disampaikan presiden bulan depan. Rapor itu memuat kapabelitas, kapasitas, hingga kedisiplinan dan sopan santun. Yang akhir ini memang tak penting bagi rakyat. Tapi sebagai representasi partai pendukung, 'sopan santun' berharga lebih mahal ketimbang kemampuan.
'Biaya kemahalan' itu terbaca dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid dua ini. Menteri tidak bidangnya dan tidak punya kapasitas sebagai menteri 'dipasang' juga sebagai menteri. Itu demi representasi. Demi bagi-bagi jabatan agar 'tak digoyang'.
Bagi profesional, βketidak-layakanβ itu mengganggu. Sampai ketika pertemuan Ikatan Alumni Institut Teknologi Surabaya (IKA ITS) ada yang nyeletuk. "Ih kita malu punya bapak buah yang kampusnya saja tidak jelas, jurusannya Gubeng-Wonokromo (angkot) tapi tiba-tiba mimpin kita." Jadi jangan kaget jika arah kementerian ini pun seperti 'babi buta' nabrak-nabrak.
Dari sisi kapasitas dan kapabelitas memang terlalu banyak yang tidak memenuhi kriteria. Menurut Daniel Sparinga, Staf Khusus Presiden, jumlah menteri yang begitu jumlahnya tujuh sampai delapan. Nilai merah sangat layak. Tapi bagaimana dengan ucapan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyiratkan menterinya sangat profesional, 'the right man on the right place'?
Rasanya yang perlu dicermati adalah kalimat sambungannya, 'and the right time'. Ke-tidakprofesionalan itu tersembunyi dalam skema waktu, situasi, kondisi yang memberi ruang tampilnya sosok yang tidak seharusnya tampil terpaksa ditampilkan. Dalam khasanah kuasa versi Jawa, dialah 'lembu peteng'. Penguasa yang tidak jelas asal-usulnya.
Tapi SBY butuh 'pendamping' seperti itu. Membuatkan sabana bagi sekelompok 'kuda liar' agar terlena merumput dan keliarannya berubah jadi 'bebek' penurut. Tidak diharap mampu berpacu. Perannya mengamini dan mengikuti kemana SBY pergi. Marah hanya wek wek wek. Dimarahi wek wek wek. Dan terus bersuara begitu di penggembalaan.
Setahun berjalan, ternyata wek wek wek tidak membantu membangun citra SBY. Wek wek wek menjelma Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung di jaman Singosari. Dan wek wek wek itu bak keris Empu Gandring yang dipinjamkan pada Kebo Ijo. Menggerus pamor SBY.
Jika 'pergantian' menteri di bulan Februari nanti terjadi, komposisi pembantu itu bisa dijadikan kaca brenggolo. Apakah SBY takut untuk meluruskan alur negeri ini, atau dia benar-benar idu geni yang titahnya diugemi. The right man on the right place, tanpa the right time!
Terus bagaimana dengan penggalangan kekuatan yang dilakukan PKS? Mudah-mudahan gebrakan itu bukan didasari 'ketakutan' karena sikapnya 'tidak santun' yang berakibat 'kontrak' kadernya tidak dilanjutkan. Tapi benar-benar ingin menciptakan perimbangan kekuatan.
*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(vit/vit)











































