Menjadi Optimis
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Menjadi Optimis

Jumat, 17 Des 2010 08:38 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Menjadi Optimis
Jakarta - Saya tidak habis pikir dengan masih adanya orang-orang Indonesia yang pesimis dengan keadaan negerinya. Ketika menonton pertandingan Sepak Bola AFF Suzuki Cup antara Indonesia dan Malaysia saya benar-benar kesal terhadap orang yang selalu merendah-rendahkan tim Indonesia.

"Bakal kalah Indonesia, mah!", kurang lebih seperti itu ujarnya. Saya berkata dalam hati, "pantas saja, Allah belum menghendaki Indonesia untuk maju. Ternyata, masih ada 'oknum' masyarakat Indonesia yang berpikir seperti itu'.

Ya, kesuksesan dimulai dari sikap optimis. Hanya ada tiga kata dalam pikirannya. Positif, positif dan positif. Kata itu memberikan motivasi yang berbeda dengan tiga kata lain, yaitu negatif, negatif, dan negatif. Hanya dengan sikap optimislah kita bisa membangun diri kita ke arah yang lebih baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesuksesan individu akan berujung kepada suksesnya suatu komunitas, bahkan bangsa. Kita lihat saja prestasi Indonesia di Asian Games 2010 Guangzhou. Prestasi individu seorang Markis Kido dan Hendra Setiawan bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah Asia.

Di bidang bahasa, ada nama Maria Adventia Gita Elmada yang berhasil meraih juara 3 untuk Tingkatan A pada ajang Olimpiade Internasional Bahasa Jerman. Para saintis muda Indonesia pun turut mengharumkan nama bangsa di dunia karena telah berhasil menjadi juara umum pada event 17th International Conference of Young Scientists (ICYS) 2010.

Para seniman masa depan Indonesia tidak ingin ketinggalan untuk mencapai prestasi. Mereka adalah Michelle Wijaya (6) dan Ellen Setiawan (8 tahun) untuk kelompok usia di bawah 10 tahun, serta Shubham Patni (13) untuk kelompok usia 11-15 tahun. Lukisan ketiga anak tersebut masuk dalam 315 lukisan terbaik dari sekitar 10.000 lukisan yang disampaikan kepada panitia Kompetisi Seniman Internasional 2010.

Jadi, apa yang tidak bisa kita banggakan dari Indonesia yang kaya akan prestasi ini? Media memang terlalu memunculkan kekurangan-kekurangan negara kita.

Kasus korupsi para oknum pejabat yang tidak henti-henti dan mafia hukum yang menjadi 'ciri' akan kebobrokan bangsa ini selalu jadi obrolan sehari-hari di media mana pun. Jika media kita tetap mengedepankan kebobrokan negeri ini lalu di mana prestasi negeri kita akan dipublikasikan?

Kita sebagai generasi yang telah 'terlebih dahulu' memiliki rasa optimis ini harus benar-benar mulai giat untuk memunculkan prestasi-prestasi yang banyak diraih oleh bangsa kita. Dengan sering menyimaknya masyarakat kita terhadap prestasi bangsa kita bukan tidak mungkin saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air yang lainnya bisa ikut terinspirasi dan terpacu untuk berprestasi. Dengan prestasi yang kita miliki itu akan jauh lebih baik.

*) Prama Adistya Wijaya tinggal di Cianjur, Jawa Barat.


(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads