Pengiriman TKW Masih Sangat Dibutuhkan, Jangan Khianati Mereka
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Pengiriman TKW Masih Sangat Dibutuhkan, Jangan Khianati Mereka

Jumat, 26 Nov 2010 16:12 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Pengiriman TKW Masih Sangat Dibutuhkan, Jangan Khianati Mereka
Jakarta - Saya memang bukan salah satu dari delapan puluh ribu tenaga kerja yang dikirim ke Saudi Arabia setiap tahun. Namun, saya memang menghabiskan lebih dari setengah masa kerja saya di negeri orang.

Seperti Anda, saya adalah teman dari Sumiati binti Salan Mustapa, TKW berusia 23 tahun yang masih dirawat di RS Madinah sejak 8 November, dengan luka bakar seluruh badannya, jari jemari patah, dan bibir robek akibat digunting. Saya juga teman Kikim Komalasari, yang dibunuh dan dibuang ke tempat sampah di negeri yang sama.

Tidak seperti halnya Sumiati atau Kikim, yang barangkali tidak dapat sering-sering
mengunjungi keluarganya di Indonesia, saya memang hampir setiap bulan menengok keluarga saya di Yogyakarta. Menjadi pemudik rutin, saya sering sekali duduk bersebelahan dengan para TKW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemarin, 22 November, saya terbang dari Yogyakarta kembali ke Singapura. Yogyakarta adalah salah satu daerah miskin. Yogyakarta juga dilingkari oleh daerah-daerah miskin lain sehingga memang menjadi pemasok TKW. Tentu saja ini membuat banyaknya para TKW menggunakan pesawat yang sama dengan yang saya tumpangi pagi itu.

Mencium dan memeluk istri dan dua putri saya di bandara Adi Sutjipto mengakhiri masa
mudik sepuluh hari saya kali ini. Di dalam pesawat, seperti saya duga, mayoritas dari
penumpang adalah TKW. Seorang ibu yang duduk di sebelah saya juga belakangan saya
ketahui seorang TKW yang baru berangkat. Ibu itu terlihat tegang mukanya. Saya mencoba tersenyum kecil tapi kelihatannya dia sedang tidak ingin tersenyum.

Setelah kami bertatap mata lagi, saya berusaha lebih keras untuk tersenyum. Akhirnya
terlihat ketegangan di raut mukanya berkurang dan tersenyum kecil ke saya. Ketika
pesawat terbang hendak lepas landas, saya mulai membaca buku saya lagi. Namun, saya
tidak dapat mengacuhkan bahwa ternyata ibu itu nampak seperti menghitung jari sambil
mulutnya komat-kamit membisikkan suara yang saya tidak asing lagi. Saya pikir ibu itu
sedang berdzikir.

Saya pun terus saja membaca buku saya, karena bisikan-bisikan dzikir dia tidak mengganggu saya. Setidaknya tidak seperti suara headphone ABG yang sering saya dengarkan saat saya naik MRT di Singapura ataupun subway di Tokyo. Iya, saya pikir
dia memang sedang berdzikir menenangkan diri karena lepas landas pesawat.

Sekali lagi saya berkonsentrasi dengan buku bacaan saya dan terlupa dengan ibu di
sebelah saya yang terus menerus berzikir itu. Saya lebih senang membiarkan dia
melakukan apa saja asalkan tidak mengganggu saya yang sedang membaca.

Kira-kira satu jam setelah lepas landas, pramugari membagikan kartu imigrasi untuk masuk ke Singapura. Saya menerima dan memasukkan dalam saku saya. Saya memang selalu mengisi kartu imigrasi di rumah. Ibu sebelah saya terlihat kebingungan mencari-cari sesuatu. Tanpa bercakap, saya berikan ballpoint saya kepadanya, karena biasanya orang memang tidak membawa alat tulis.

Dia menerima uluran saya, dan saya pun kembali dengan aktivitas saya membaca. Kira-kira lima menit kemudian, dia memulai percakapan, "Pak, bisa minta tolong diisiin." Apa?! Kenapa saya harus ikut ngurusin Anda, kata saya dalam hati. Dengan suara lirih, saya bertanya, "Apakah ibu buta huruf?" Jawabnya, "Tidak, tapi kan semua berbahasa Inggris, Pak."

Akhirnya saya memulai percakapan dengan dia sembari mengisi kartu imigrasi Singapura.
Dari paspornya yang dia berikan pada saya untuk keperluan pengisian kartu imigrasi,
akhirnya saya tahu bahwa namanya adalah Rusmiyati, terlahir di Cilacap pada tahun yang
persis sama dengan istri saya. Astaghfirullah, kenapa ibu ini terlihat sangat tua ya?

"Ibu punya keluarga?" tanya saya.
"Ya, anak saya lima, suami saya buruh tani. Gajinya tidak cukup untuk menopang tujuh
anggota keluarga," jawabnya lirih.

Astaghfirullah, tiba-tiba saja saya menjadi sangat iba dengan ibu itu. Ya Allah, kalau
Engkau benar-benar ada, kenapa Engkau tidak segera menolong ibu itu? Saya menjadi
sangat bersimpati kepada ibu itu. Ibu yang memutuskan untuk memberanikan dirinya
menjadi TKW di negeri orang karena himpitan kemiskinannya. Rela meninggalkan suami dan anak-anak yang dicintainya.

Saya menahan air mata saya. Saya sangat salut sama ibu Rusmiyati. Dia tidak menunjukkan setetes pun air mata. Dia hanya berdzikir sepanjang perjalanan. Saya baru sadar kenapa dia berdzikir sangat panjang. Sekarang saya tahu bahwa dzikir dia bukan karena takut lepas landas. Dzikir dia adalah karena dia meminta Allah melindungi kelima anak yang dicintainya, yang ditinggal di desanya. Dia tidak takut karena dia tidak paham mengisi kartu imigrasi. Dia tidak takut bagaimana harus berkomunikasi dengan majikannya yang dia pasti tidak pernah bertemu. Bahkan dia tidak takut mendengar berita-berita tentang penyiksaan TKW. Yang dia takutkan adalah bagaimana seandainya kelima anaknya akan kelaparan.

Ingin rasanya saya belajar dari beliau. Dia pasti percaya penuh pada Allah. Dia tidak
marah pada Allah meskipun terlahir di keluarga sangat miskin. Dia menerima bahwa Allah
menempatkan dirinya di dalam kemiskinan sebagai suatu cobaan. Dia percaya bahwa Allah tidak akan mengkhianati dzikirnya. Dia percaya bahwa tangan-tangan Allah akan
menolongnya.

Baru saja beliau membuktikan bahwa dzikirnya telah memudahkan dia mengisi kartu
imigrasi. Seandainya pemerintah Indonesia mendengar jeritan hatinya. Rusmiyati sudah
melakukan yang terbaik sesuai kemampuanya. Saatnya pemerintah Indonesia bekerja
menolong Rusmiyati.

*) Prof Dr Yunan Prawoto, Universitas Teknologi Malaysia.
(vit/vit)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads