Baru setelah pendaftaran ditutup, hape saya menerima pesan pendek dari Ketua Komisi Yudisial (KY). "Bismilah saja. Kalau ini terjadi maka merupakan sebuah amanah dari Allah SWT. Doakan saja," ujarnya singkat.
Jujur, sms itu membawa pikiran saya melayang-layang ke medio tahun 80-an saat pertama kali bertemu pria yang santun tersebut. Dan dari waktu ke waktu, dalam pengamatan saya, dosen satu ini tidak berubah perangai alias selalu sama dengan sebelumnya. Bicaranya kalem, apa adanya, sederhana, tegas, serta tidak memiliki ambisi duniawi yang menonjol.
Dalam kehidupan dirinya juga tidak terlihat 'keeksotikan' tertentu. Semua serba biasa dan terukur. Tidak tampak sebagai dosen yang cerdas sekali, tapi tentu bukan asal-asalan. Bisa membuat joke tertentu namun juga tidak membuat orang terbahak-bahak. Mampu menasehati namun tidak dengan marah. Keadaan dirinya saat menjadi dosen kala itu masih mirip ketika ia menjabat sebagai Ketua KY. Tak heran, orang pun jadi kadang tidak mengenal sepak terjangnya dan menganggapnya tidak berprestasi.
Satu-satunya yang tampak dalam kacamata batin saya adalah, bapak satu ini selalu bersandar pada kekuatan Tuhan. Apapun yang ia hadapi maka selalu dikembalikan kepada Allah SWT. Nah, apabila ungkapan tesebut dipertegas lagi dalam bentuk konsep keagamaan (Islam), maka akan berujung pada sifat ikhlas, tawakkal dan lillahi ta'ala.
Menurut para ulama, jiwa tertinggi dalam sebuah karsa dan karya adalah ikhlas. Sifat ini akan memberikan kekuatan yang sangat dahsyat dalam mengarungi kehidupan dan mencegah seseorang untuk tunduk pada kepentingan sesaat. Semua yang dilakukan hanya untuk mencari berkah-Nya, bukan mendapatkan acungan jempol apalagi sekadar materi yang bersifat duniawi. Selain itu, orang yang memiliki jiwa ikhlas akan mampu bekerja keras menerjang badai tanpa harus menunggu komando atasannya.
Sikap ikhlas ini juga memiliki korelasi yang amat erat dengan konsep tawakkal dan lillahi ta'ala. Seorang mukhlis adalah mereka yang tidak pernah mengeluh, bersuara keras, takabur dan mencari muka. Karena kedekatan dan cintanya kepada Allah pula, maka ia memiliki kepercayaan diri penuh bahwa aneka kesulitan di saat ini dan mendatang akan mendapatkan kemudahan dan petunjuk dari Allah SWT.
Ini pula saya kira yang menyebabkan Busyro Muqoddas saat menjadi Ketua Komisi Yudisial terlihat kalem, seperti air yang tak beriak. Tidak berteriak apalagi mengumpat. Namun ia juga tidak pernah berdiam diri. Tidak pernah pula terdengar menggunakan jabatannya untuk kepentingan diri dan keluarganya. Bahkan, pakaian yang dikenakan tampak relatif sederhana dan malah kadang tidak matching.
Apakah karena ia jago bermain? Bisa jadi. Dia selalu bercengkerama dan bercumbu dengan keyakinannya. Kalaupun ia berteriak, mungkin ia lakukan saat sembahyang tengah malam, bukan di depan wartawan. Jika ia merasa kekurangan maka ia tidak sungkan meminta kepada Sang Pemberi Sejati, bukan kepada pengusaha kelas kakap.
Tentu, bagi mereka yang tidak memiliki pemahaman, kurang vokalnya Busyro Muqoddas sering ditafsirkan sebagai kekurangtegasan, mudah diplintir, gampang disetir dan juga tidak sulit diarahkan. Secara umum, pendiam memang cenderung kurang mendapatkan perhatian lebih dan tidak jarang dianggap tidak mampu. Hal ini tentu bisa dipahami karena pemilik suara vokal mudah dipahami isi pikirannya dan gampang ditebak publik keinginan-keinginannya. Namun di sisi lain, tidak jarang peribahasa 'Tong kosong berbunyi nyaring' menjadi kenyataan dalam keseharian.
Adalah sangat penting dipahami bahwa Busyro Muqoddas memang bukan tipe orang yang mengumbar suara. Namun demikian, keyakinannya yang teguh berlandaskan akhlakul karimah dan jiwa ikhlas mengabdi tersebut akan membuatnya sangat kuat tanpa harus meledak-ledak. Diterminasinya untuk menegakkan keadilan tidak akan bisa dikompromikan. Dengan kekuatan transendental itu pula, maka bisa jadi ia tidak akan mencari ketenaran dan tergoda oleh kenikmatan duniawi. Baginya, kenikmatan yang tertinggi tercapai manakala mendapatkan ridho dari Tuhannya.
Bisa jadi, diantara sekian banyak orang yang memilihnya baik langsung maupun secara batiniah, ada yang mengira bahwa Busyro Muqoddas yang relatif irit bicara itu bisa diajak kompomi dan pat gulipat dalam banyak hal. Apalagi, bagi mereka yang memiliki masalah hukum dalam jumlah besar dan berimplikasi sosial tinggi. Dikiranya Busyro dapat dibeli dengan harga yang murah.
Menurut hemat saya pribadi, selama Busyro Muqoddas belum mengalami perubahan kepribadian, rasanya harapan itu terlalu berlebihan, kalaupun tidak mau dibilang naif. Bisa jadi akan banyak yang kecewa tidak bisa bermain kartu dengan pria Yogya ini, sekaligus banyak yang surprise dan tepuk tangan ternyata dosen Universitas Islam Indonesia itu memiliki kecakapan dan keberanian di luar perkiraan masyarakat umum.
Dan, berdasarkan pengamatan selama seperempat abad, Busyro Muqoddas belum berubah. Ia masih seperti yang dulu. Justru karena faktor-faktor internal ini pula, kemungkinan ia akan menghadapi kendala pekerjaan meskipun mendapatkan dukungan dari masyarakat. Bisa jadi, ia tidak terpilih Ketua KPK lagi setahun medatang. Ia tidak akan peduli sebab jabatan yang diembannya hanyalah sebuah amanah dari Tuhan yang akan diambil sewaktu-waktu.
Kini harapan besar masarakat hanya satu, Busyro Muqoddas hanya bisa dibeli dengan kebenaran dan suara hati nurani. Bukan dengan yang lain. Selamat berjuang Pak Busyro, doa masyarakat selalu menyertai.
*) M Aji Surya adalah Konselor Penerangan, Sosial Budaya dan Pendidikan KBRI Moskow, Rusia (ajimoscovic@gmail.com)
(vit/vit)











































