Mengurangi Kemungkinan Kegagalan dalam Implementasi Sistem Operasi Penerbangan
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Mengurangi Kemungkinan Kegagalan dalam Implementasi Sistem Operasi Penerbangan

Rabu, 24 Nov 2010 13:47 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Mengurangi Kemungkinan Kegagalan dalam Implementasi Sistem Operasi Penerbangan
Jakarta - Ketika seseorang hendak bepergian dengan pesawat udara, yang dilakukan adalah memesan dan membayar tiket, datang ke bandara tepat waktu, check in, terbang, lalu tiba dengan selamat di tempat tujuan. Sekilas semuanya tampak mudah. Tetapi sesungguhnya di balik itu banyak proses yang harus dilalui.

Sistem Operasi Penerbangan (SOP) adalah bagian dari misi kritis perusahaan penerbangan sehingga dituntut untuk harus selalu tersedia 99,99%, sesuai dengan peraturan perusahaan dan undang-undang yang berlaku, mampu memberi respons dengan cepat, bisa diakses dari berbagai tempat, bisa mengakses data terkini dan aman.

Disamping syarat yang banyak, SOP harus bisa mengatur pergerakan pesawat (jadwal penerbangan, rute penerbangan –ketinggian– dan kecepatan dengan memperhatikan perubahan cuaca, menghitung keperluan bahan bakar, menjadwal maintenance pesawat, penyediaan suku cadang, dll); mengatur pergerakan kru termasuk pilot (jadwal tugas, training, cek kesehatan, mencari pengganti jika ada kru sakit atau disqualified, dll); mengatur pergerakan kargo (mendata isi, jadwal, tujuan, mengatur cargo agar pesawat seimbang, membuat tagihan, dll), mengatur penumpang (data, reservasi, status, jumlah barang, tujuan, check in, dll), dan mengelola applikasi penunjang lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena SOP sangat penting dan kompleks maka diperlukan langkah-langkah untuk mengurangi kemungkinan kegagalan dalam implementasi SOP ini. Setidaknya ada empat langkah.

SOP dicoba dulu di Pre-Production environment. Di lingkungan ini SOP dicek keseluruhan fungsi dan kinerjanya. Uji beban adalah satu keharusan. Rollback (mengembalikan ke keadaan semula) juga perlu dicoba.

SOP dicoba  per modul. Alih-alih kita implementasikan seluruh modul, kita bisa coba
satu demi satu. Misalnya hanya mengimplementasikan modul pengaturan gerakan kru. Setelah berhasil dengan baik dan stabil, lalu kita tambahkan modul berikutnya.

SOP dicoba per wilayah. Alih-alih kita implementasikan SOP keseluruh wilayah Indonesia, jika memungkinkan bisa kita mulai dengan pramugari wilayah Indonesia Timur. Setelah berhasil bisa diperluas menjadi pilot dan pramugari dan/atau diperluas wilayahnya menjadi Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

SOP siap untuk rollback. Salah satu bagian dari dokumen implementasi adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengembalikan sistem ke keadaan semula, termasuk data dalam database.

Dengan melakukan empat langkah diatas, kegagalan implementasi SOP bisa dikurangi, bahkan nyaris tidak ada kegagalan yang merugikan penumpang dan merugikan perusahaan.

*) Rudi Himawan, adalah software architect sebuah perusahaan penerbangan di Amerika Serikat. Penulis kini tinggal di Dallas, Texas.


(vit/vit)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini