Pahlawan, Sekolah Rakyat dan Kontradiksi Indonesia
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Pahlawan, Sekolah Rakyat dan Kontradiksi Indonesia

Kamis, 11 Nov 2010 10:37 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Pahlawan, Sekolah Rakyat dan Kontradiksi Indonesia
Jakarta - Kemerdekaan Bangsa Indonesia diraih dengan suatu perjuangan sampai titik darah penghabisan dengan satu pekikan "merdeka atau mati" diperjuangkan oleh para pejuang kemerdekaan yang kita menyebutnya sebagai pahlawan bangsa. Tetapi, pahlawan juga merupakan sebutan bagi setiap pejuang yang gagah berani atau orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran.

Kebanyakan pahlawan bangsa adalah para pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam ketentaraan dan pasukan yang berperang melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia. Begitu heroiknya perjuangan para prajurit perang kemerdekaan dan kita mengenal pula satu semboyan 'old soldier never die'. Bahwa, prajurit, meskipun telah tua, tidak akan pernah mati atau berhenti berjuang.

Semboyan 'old soldier never die' itu benar-benar melekat pada para pejuang kemerdekaan. Sebagaimana perjuangan para pejuang yang telah pensiun dari dinas kemiliteran. Meskipun mereka telah tua dan telah pensiun tetapi mereka tidak pernah pensiun untuk berjuang membangun bangsanya. Perjuangan ikhlas, tanpa pamrih dari para pejuang semacam itu jarang kita catatkan dalam sejarah bangsa.
 
Sekolah Rakyat

Saya mulai menulis catatan ini dengan suatu pembahasan tentang "Sekolah Rakyat". Mengapa "Sekolah Rakyat?" Karena, ini adalah sebahagian perjuangan para pejuang kemerdekaan yang tak pernah berhenti berjuang dengan mendirikan satu sekolah yang disebut "Sekolah Rakyat". Sekolah yang dibangun dan didirikan atas swadaya dari rakyat dan prakarsa para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Para pejuang sebagaimana para pejuang kemerdekaan adalah orang-orang yang umumnya tidak sempat menjalani pendidikan tinggi. Mereka kebanyakan hanya lulusan Sekolah ELS (Eurospeesh Lagere School) atau disebut juga HIS (Hollandsch Inlandsch School).

Ada juga HBS (Hogere Burger School), AMS (Algemeen Metddelbare School), Sekolah Bumi Putera (Inlandsch School), Sekolah lanjutan untuk Sekolah Desa (Vervolksch School) Sekolah peralihan (Schakel School), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Hanya sedikit para pejuang kemerdekaan yang mengecap pendidikan tinggi seperti di STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen) yang sering disebut juga sebagai Sekolah Dokter Jawa dengan masa belajar selama tujuh tahun sebagai lanjutan MULO.

Ir Soekarno Bapak proklamator Bangsa Indonesia menyelesaikan sekolah di perguruan tingggi THS (Technische Hooge School) atau Sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Drs Mohammad Hatta dan banyak para pendiri bangsa (the founding fathers) Indonesia menamatkan sekolah di perguruan tinggi di Negeri Belanda.

Meskipun para pejuang kemerdekaan Negara Indonesia tidak sempat menjalani pendidikan yang memadai. Namun, melihat kondisi bangsa Indonesia pada saat itu di mana pemerintah telah membangun Sekolah Dasar yang disebut Sekolah Dasar Negeri Inpres karena dibangun atas Instruksi Presiden Republik Indonesia.

Namun, dengan mulai banyaknya anak-anak lulusan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) masih sedikit jumlahnya. Biasanya hanya ada satu Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) yang ada di Ibu Kota Kecamatan yang jaraknya sangat jauh. Dengan kondisi jalan yang memprihatinkan dan harus dilalui dengan menyeberang beberapa kali yang bila sedang musim hujan terjadi banjir dan tidak dapat dilalui.

Kondisi yang memprihatinkan ini mendorong para pejuang kemerdekaan membentuk kepanitiaan untuk pembangunan Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) di desa-desa. Dengan status Sekolah Swasta dengan para tenaga guru dan pendidik yang dibantu dari guru-guru Sekolah Dasar di sekitarnya. Guru-guru dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan dan guru-guru dari TKS-BUTSI (Tenaga Kerja Sukarela-BUTSI).

Pada umumnya Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut akhirnya diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah dan statusnya menjadi Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri. Tak berhenti sampai di situ. Para pejuang kemerdekaan melanjutkan perjuangan untuk mendirikan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang beberapa tahun kemudian juga pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah dan statusnya telah menjadi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri.

Kita sebagai anak bangsa patut memberi penghormatan bagi para pejuang kemerdekaan yang tak pernah berhenti berjuang secara ikhlas dan tanpa pamrih berjuang untuk negaranya bukan untuk merdeka dan mengusir penjajah. Tetapi, berjuang memerangi kebodohan dan keterbelakangan.

Catatan ini sebagai pembuka atas berbagai kondisi Bangsa Indonesia yang tengah berjuang memerangi Bangsa Indonesia dari belenggu kebodohan melalui pendidikan. Memerangi kondisi kekurangan gizi dan gizi buruk karena kemiskinan melalui pembangunan kesehatan dan sedang bersungguh-sungguh memperioritaskan pembangunan kesejahteraan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan negara Republik Indonesia.

Namun, patut kita merenungkan seluruh perjuangan para pejuang kemerdekaan. Para pendiri bangsa (the founding fathers) Indonesia dan para pahlawan bangsa bila kondisi bangsa Indonesia kini justru mengalami kontradiksi.
 
Kontradiksi Bangsa


Kontradiksi artinya adalah berlawanan. Jadi di sini pernyataan kontradiksi adalah pernyataan yang selalu berlawanan dengan pernyataan sebelumnya. Kontradiksi bukanlah sebuah negasi dari pernyataan. Tetapi, kontradiksi lebih mengacu pada pembuktian suatu pernyataan.

Kali ini kita ingin membuktikan satu demi satu kontradiksi bangsa Indonesia. Suatu pertentangan antara kondisi masa-masa awal kemerdekaan dengan kondisi bangsa Indonesia pada saat sekarang ini yang sama sekali berlawanan atau bersalahan.

Bila dahulu para pejuang kemerdekaan, para pendiri bangsa (the founding father) Indonesia, para pahlawan bangsa berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengorbankan jiwa dan raga, kini belakangan banyak pejuang yang merasa Bangsa Indonesia menjajah daerahnya dan ingin memisahkan diri dari Bangsa Indonesia yang merdeka.

Bila para pendiri bangsa (the founding fathers) Indonesia keluar masuk penjara dan menjadi tahanan penjajah Belanda lalu setelah Indonesia merdeka para pendiri bangsa (the founding fathers) Indonesia kemudian berjuang mengisi kemerdekaan dengan menjadi pejabat dan pemimpin negara. Tapi, kini banyak para pejabat dan pemimpin serta mantan pejabat dan pemimpin yang dipenjara karena berbagai tindakan mengkorupsi uang negara.

Para pejuang kemerdekaan yang tak sempat mengenyam pendidikan tinggi karena berperang untuk bangsanya merdeka ketika berjuang mengisi kemerdekaan membangun sekolah memerangi kebodohan dan keterbelakangan kini setelah pemerintah menyediakan dana pendidikan mencapai dua puluh persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) malah dana-dana untuk membangun pendidikan itu banyak yang dikorupsi oleh orang-orang yang tinggi-tinggi pula pendidikannya.

Sudah lama sekali kita tidak melihat anak-anak bermain Petak Umpet, Petak Jongkok, Petak Banteng, Petak Patung, Petak Besi, Petak Kayu, Main Tembak-tembakan (Perang-perangan), Permainan Galah Asin (Gobak Sodor), Main Loncat Gunung, Main Gambaran, Ngadu Cupang, Gebokan, Tazos, Catur Inggris (Catur di Tanah), Ular Naga, Gasing, Congkak, Yoyo, Gundu, Lompat Tali dari Karet Gelang, Patok Lele, Main Kelereng, dan Main Layang-layang.

Permainan itu diganti dengan permainan Game Online, Play Station, cerita Si Unyil dan Si Windu diganti dengan Upin dan Ipin, Satria Baja Hitam, Dora Emon, Si Encan, Berby, Naruto, dan segudang permainan robot dan peralatan modern lainnya.

Ada stasiun televisi yang rajin menayangkan cerita-cerita rakyat, ada Bocah Petualang, Laptop Si Uyil dan lainnya. Peran nenek, ibu dan orang tua telah digantikan dengan mesin yang secara psikologis mengubah pola kedekatan dan kasih sayang orang tua dan keluarga.

Kita tidak ingin generasi dan Bangsa Indonesia kembali pada era masa lalu. Apalagi masa-masa ketika Bangsa Indonesia dalam belenggu penjajahan Belanda dan Jepang. Kita hanya ingin bangsa Indonesia mengambil spirit perjuangan para pejuang, para pendiri bangsa (the founding fouders) Indonesia dan para pahlawan bangsa. Kita tidak ingin genarasi dan bangsa Indonesia tetap dijajah oleh multi bangsa, dijajah melalui budaya, ekonomi, politik dan kedualatannya.

Untuk mengenang dan menghargai para pejuang dan pahlawan Bangsa Indonesia itulah maka kita harus menghentikan berbagai kontradiksi Bangsa Indonesia. Kita harus menghentikannya saat ini juga. Kini Bangsa Indonesia memerlukan para pahlawan yang berjuang dengan gagah berani dan berkorban dalam membela kebenaran. Selamat berjuang para pahlawan Bangsa Indonesia.

*) Wahyu Triono KS, adalah Direktur CINTA Indonesia dan Professional Campaign and Politic. Consultant pada DInov ProGRESS Indonesia.
(nvt/nvt)


Berita Terkait