DPR ke Yunani? Tantalus, Tantalus...
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolma

DPR ke Yunani? Tantalus, Tantalus...

Kamis, 21 Okt 2010 11:57 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
DPR ke Yunani? Tantalus, Tantalus...
Den Haag - Mau belajar etika, tapi dengan cara tidak etis: mengelabui, membohongi. Menipu diri sendiri, menipu rakyat yang diwakili, menipu jutaan anak-anak Acong, Arman, Alex, dan Ali yang keleleran di jalanan memainkan ecek-ecek tutup botol demi beberapa recehan sekadar hidup bisa bertahan, dan jutaan warga lainnya yang dipungut pajak dari hasil kerja keras siang malam.

Ke Yunani, beralasan mau belajar etika itu sudah jelas kebohongan sekaligus kebodohan. Pantaslah kalau dikatakan oleh Maswadi Rauf: DPR Kalau Menipu, Pintar Sedikitlah. Akui saja dengan jujur ke Yunani itu tujuannya mau jalan-jalan dan membobol uang negara secara legal menurut orang DPR, tapi tidak etis menurut moral waras dan adab umum masyarakat. Di Eropa, Yunani itu termasuk paling brengsek, peradaban terpuruk. Korupsi dan skandal demi skandal politik telah menjerembabkan negeri ini ke dalam krisis. Rekayasa laporan keuangan ke Brussel, defisit anggaran -13,6% dipermak seolah-olah sesuai norma Maastricht -3%. Total utang negara 115,1% dari GDP (Eurostat, 2009). Ruilslag bodong tanah biara melibatkan orang dekat PM Karamanlis (Skandal Biara Athos 2008). Sebagian utang negara digelapkan (Skandal Goldman Sachs 2002). Anggota parlemen Theódoros Tsoulákos dan menteri Perhubungan Tasos Mandelis menerima sogok (Skandal Siemens 1998).

Disiplin warga Yunani juga rendah. Pemandangan jalanan mirip Jakarta. Main serobot tiap ada sedikit ruang, mengakibatkan semakin macet. Pemotor juga tak peduli peraturan lalulintas. Wajib pakai helm, tapi cuek. Polisi yang menyaksikan juga membiarkan seperti tak faham peraturan. Mirip pemandangan di jalanan pantura Karawang dan Subang. Komplit sudah. Yunani kini, bukan Yunani kuno dengan filsafat-filsafat yang agung. Yunani yang seperti ini ada di perpustakaan UI dan universitas lain di Indonesia bahkan di sekolah menengah atau toko buku.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jadi akuntabilitas rencana ke Yunani itu nul koma nul. Lagi pula rombongan anggota DPR yang berlagak studi banding itu sebagian besar tidak menguasai bahasa Inggris atau asing lainnya. Boleh dibuktikan, tes mereka semua live di stasiun televisi, siarkan langsung di hadapan rakyat pembayar pajak. Di banyak negara tujuan, 'studi banding' yang cuma 1 jam dengan ongkos miliaran itu menjadi forum memalukan bangsa. Ada informasi, staf KBRI sampai harus menyelamatkan situasi, karena kendala bahasa. Baru berjalan 15 menit, rombongan besar (rata-rata 17 sampai 23 orang) sudah berisik mau merokok. Di tempat lain ada yang lebih konyol, "Kita kan bangsa besar, pakai bahasa Indonesia saja, untuk tuan rumah nanti diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris," Begitulah.

Kelakuan orang-orang DPR itu mengingatkan pada Tantalus dari mitologi Yunani. Orang-orang DPR mengkhianati rakyat, Tantalus mengkhianati Zeus. Sudah mengkhianati, masih mencuri pula. Mereka mencuri (baca: mengambil uang rakyat untuk tujuan bodong), Tantalus mencuri nektar dan ambrosia. Tantalus lalu dihukum dengan cara diikat pada sebuah pohon, di mana dia tak bisa menjangkau buahnya yang lezat. Tubuhnya terendam air, namun tak kuasa meneguk. Dengan begitu dia menderita lapar dan haus selama berabad-abad. Nah, orang-orang DPR itu mau dihukum apa? (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads