Tuan SBY No 3?
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolma

Tuan SBY No 3?

Jumat, 01 Okt 2010 16:55 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Tuan SBY No 3?
Den Haag - Kunjungan kenegaraan adalah bentuk tertinggi kontak diplomatik antar dua negara. Oleh sebab itu wajar jika rencana kunjungan kenegaraan presiden Yudhoyono ke Negeri Belanda mendapat perhatian besar dari media massa kedua negara. Hanya saja patut disayangkan klaim yang menyebutkan bahwa kunjungan kenegaraan presiden Yudhoyono ke Negeri Belanda itu merupakan yang pertama sejak kemerdekaan. Ini harus diteliti dengan cermat, sebab dampaknya bisa sangat signifikan terutama untuk data sejarah dan kepentingan pendidikan.

Sebelum presiden Yudhoyono, sebelumnya presiden Abdurrahman Wahid telah lebih dulu melakukan kunjungan kenegaraan ke Negeri Belanda (2/2/2000). Presiden Wahid dan Ibu Negara Shinta Nuriyah disambut oleh Ratu Beatrix dan Pangeran Claus di Istana Noordeinde, Den Haag, dengan upacara penyambutan kenegaraan oleh pasukan kehormatan, salvo 21 kali, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan oleh korps musik pasukan istana. Masih kuat di ingatan saya seolah-olah baru terjadi kemarin sore, pada detik-detik khidmat itu presiden Wahid terlihat membisikkan sesuatu ke arah telinga Ratu Beatrix, disusul reaksi Ratu yang terlihat tak kuasa menahan tawanya. Dalam tradisi penyambutan tamu kepala negara, suasana dan protokol sangat sakral dan ketat, namun Ratu tak kuasa menghadapi guyonan presiden Wahid.

Kedua kepala negara selanjutnya melakukan pembicaraan dan tukar-menukar cenderamata. Setelah santap siang di kediaman resmi Ratu, Istana Noordeinde, presiden diterima oleh De Staten Generaal (parlemen), disusul pertemuan dengan Perdana Menteri Wim Kok. Malamnya berlangsung state dinner (jamuan makan malam kenegaraan) di Istana Noordeinde dan pada kesempatan bersulang, presiden Wahid menyampaikan keinginannya agar Belanda dapat menjadi jurubicara Indonesia di Uni Eropa. Wahid juga menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Twente, berdialog dengan komunitas Maluku dan masyarakat lainnya di Wisma Duta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah besar delegasi ekonomi yang dibawa oleh presiden Wahid menggelar pertemuan bisnis di tempat prestisius Kurhaus Scheveningen. Misi utama, menciptakan impuls baru kerjasama ekonomi, terutama menarik investor ke Indonesia, sebagai dukungan untuk proses demokratisasi. Saya duduk satu meja dengan Fadel (kini Menteri Kelautan). Ketika Menko Ekuin Kwik Kian Gie menyampaikan pidato kunci, Abu Rizal Bakrie (Ical) tiba-tiba berdiri, menyambar overcoat-nya dan meninggalkan ruangan. Rupanya, Ical not amused pada bagian pidato Kwik yang secara blak-blakan membeberkan sebab-sebab krisis ekonomi di Indonesia di hadapan dunia usaha Belanda, notabene pihak yang hendak diyakinkan agar mau menanamkan uangnya di Indonesia.

Semua komponen kunjungan negara terpenuhi pada kunjungan presiden Wahid itu. Ada upacara penyambutan kenegaraan oleh Kepala Negara (Ratu), pasukan kehormatan, tembakan salvo 21 kali, jamuan kenegaraan, tukar-menukar cenderamata antar-kepala negara, diterima oleh badan legislatif, dst. Laporan-laporan saya, waktu itu detikcom baru berusia sekitar 1,5 tahun, menyebut itu 'kunjungan kenegaraan' sesuai keterangan jurubicara presiden. Media massa di Belanda juga melaporkan kunjungan Wahid itu sebagai staatsbezoek (kunjungan kenegaraan), bukan informeel bezoek (kunjungan tak resmi). Sebelum presiden Wahid, presiden Soeharto juga telah melakukan kunjungan kenegaraan ke Negeri Belanda (3/9/1970). Arsip di Belanda merekam kunjungan itu sebagai staatsbezoek.

(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads