Musyawarah Nasional (Munas)Ā Kadin yang keenam memang tak lepas dari politik dan uang. Sejak pra-Munas Partai Golkar telah mengkonsolidasi anggotanya untuk menjatuhkan pilihan pada SBS. Alasannya sang kandidat kaya pengalaman, karena pernah sebagai duta keliling di masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri.
Partai Golkar berkepentingan terhadap organisasi ini berdasar kesejarahan. Itu tak lepas dari banyak petinggi Golkar (Ical), juga beberapa menteri yang berasal dari organisasi ini. Dan secara pribadi, Ical menganggap SBS adalah nasionalis yang perduli terhadap pengusaha āpribumiā.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiga hari pra-Munas Ical datang. Selentingan perpecahan dukungan dari Golkar terdengar. Sejak itu sampai Munas berlangsung di berbagai hotelĀ terjadi rapat maraton. Intinya Ical marah-marah, dan kalau sampai SBS gagal menang dalam Munas ini kemungkinan akan terjadi perombakan dalam struktur Partai Beringin.
Malam Minggu (25/9) turun hujan, tapi di arena Munas Jakarta Convention Centre semuanya sumringah. Sejak Munas wajah Ical yang tegang dan kuyuh berubah sontak tatkala putaran pertama memberi hasil Adi Tahir 8 suara, Wisnu Wardhana 33 suara, SBS 51 suara, Chris Kanter 15 Suara dan Sandiaga Uno 22 suara.
Memang harus melalui dua putaran. Tetapi dengan tersingkirnya Sandiaga Uno dalam putaran kedua, dan tampilnya Wisnu Wardhana mendampingi SBS dalam putaran kedua, ini sebagai tanda bahwa sudah tidak ada lagi kerikil tajam. Wisnu adalah bagian dari āpaketā. Dan hampir pasti, ini sebagai sinyal, bahwa suara Golkar kembali utuh seperti yang diharapkan.
Dan tatkala putaran kedua dimulai, maka suara yang mendukung SBS mengalir kencang. Suaranya tak terbendung, dengan akhir skor 89 suara untuk SBS dan 40 suara untuk Wisnu Wardhana. SBS menang mutlak! Adakah itu berkat politik uang?
Uang memang tak terhindari dalam Munas Kadin keenam ini. Tak benar kata Adi Tahir yang menyebut pengusaha itu pelit-pelit dan tidak keluar duit. Mungkin itu adalah representasi dirinya sendiri yang habis ādipressure Icalā. Sebab yang bisa dilihat (biarpun sulit dicarikan bukti), uang beredar cukuplah besar. Kisaran uang untuk per suara mulai Rp 200 juta, Rp 300 juta, dan sempat ada rumor menyebut Rp 1,5 miliar untuk putaran final.
Namun benar kata SBS, anggota Kadin masih punya hati nurani saat menjatuhkan pilihan. Bukan besar-kecil uang faktor pendukung kemenangannya, tetapi Partai Golkar yang habis-habisan berjuang untuknya. Maklum, hampir semua pengurus Kadin daerah notabene adalah orang Golkar. So, sekarang Kadin for Golkar!
Djoko Suud, budayawan tinggal di Jakarta.
(nrl/nrl)











































