Ani dan Masa Depan Demokrat
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Didik Supriyanto

Ani dan Masa Depan Demokrat

Kamis, 06 Mei 2010 11:35 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ani dan Masa Depan Demokrat
Jakarta - Di lingkungan Partai Demokrat bukan rahasia lagi, Ani Yudhoyono adalah magnet penarik massa. Dia mewarisi kharisma bapaknya dan berpengalaman mendampingi suaminya. Popularitasnya akan terus menanjak tahun-tahun mendatang.

Perhatikan tulisan tentang Ny Ani Yudhoyono dalam Kompas edisi Rabu (5/5/2010) kemarin. Beberapa orang mengakui betapai piawainya istri presiden ini berbicara di hadapan publik. Naskah pidato mungkin saja disiapkan oleh staf, tetapi melihat susunan kalimat dan pilihan kata, boleh jadi Ani mengoreksinya dengan ketat.

Kepiawaian berpidato tak hanya ditunjukkan bagaimana dia memainkan intonasi dan diksi, tetapi juga saat memberikan penjelasan tambahan tanpa teks. Seperti dikutip Kompas, dia orator menawan. “Artikulasinya jelas, tegas, suaranya empuk dan menawan,” kata dokter Puskesmas yang mendengarkannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tentang kehebatan orasi Ani, sebetulnya bukan hal baru. Saat diberi kesempatan untuk berbicara di panggung kampanye, orasinya memukau hadirin, baik dalam forum besar di lapangan terbuka, maupun forum kecil di ruang tertutup. “Kami bisa terhipnotis oleh orasi Bu Ani,” kata fungsionaris Partai Demokrat dalam Pemilu 2004.

Pengakuan fungsionaris Partai Demokrat itu mengingtkan saya kepada pernyataan Soerjadi, Ketua Umum PDI, menjelang Pemilu 1987. “Kami merekrut Mbak Mega, bukan semata karena dia anak Bung Karno, tetapi juga kemampuannya berorasi. Dia mewarisi kharisma bapaknya saat berbicara di panggung. Hadirin dibuat takjub.”

Terbukti, Megawati kemudian menjadi kekuatan PDI dan PDIP. Dia tak hanya memimpin partai banteng sejak Kongres Luar Biasa 1993 hingga kini, tetapi juga sempat menjadi presiden republik ini. Tak bisa disangkal, Megawati mewarisi kharisma bapaknya, sehingga dengan mudah dia mendapat dukungan rakyat. Apakah hal serupa terdapat dalam diri Ani?

Jika hal itu ditanyakan kepada aktivis mahasiswa 1966, yang kebetulan sempat berinteraksi, atau paling tidak mendengarkan Sarwo Edhi Wibowo bicara di depan umum, maka jawabannya adalah positif. Apalagi jika aktivis itu juga pengurus Partai Demokrat, pasti akan mengacungkan dua jempolnya. “Persis, kacang nggak ninggal lanjaran,” kata pepatah Jawa.

Tentu tak sepadan membandingkan Bung Karno dengan Sarwo Edhi. Namun dalam hal kecintaan terhadap Tanah Air, komitmen terhadap republik, dan pemihakan terhadap rakyat, dua tokoh beda generasi tersebut tidak perlu dipertanyakan.

Kini, setelah lebih dari lima tahun mendampingi suaminya di Istana, Ani tentu memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam kepemimpinan nasional; melebihi pengalaman Mega yang ketika di Istana masih kanak-kanak. Bahkan, dalam berbagai pembicaraan politik, Ani sering disebut-sebut sebagai “penasihat” penting Presiden SBY dalam membuat keputusan.

Sudah pasti, Ani tidak diplot menjadi ketua umum Partai Demokrat. Kongres partai yang akan dilangsungkan di Bandung akhir Mei nanti, hanya menampilkan figur Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum dan Marzukie Ali. Namun tidak ada yang menolak, bila namanya dimasukkan dalam jajaran Dewan Pembina Partai yang akan tetap dipimpin SBY.

Menjadi fungsionaris partai atau tidak, peran Ani akan tetap penting dalam perjalanan Partai Demokrat mendatang. Dia tidak hanya ditempatkan sebagai magnet penarik massa, tetapi juga akan terlibat dalam pembuatan keputusan-keputusan penting. Keberadaan SBY dan Ibas sebagai fungsionaris partai, memastikan akan besarnya pengaruhnya.

Apakah Ani akan dicalonkan menjadi presiden pada Pemilu 2014 untuk menggantikan suaminya? Meskipun SBY dan banyak pimpinan Partai Demokrat tidak mau berspekulasi tentang hal ini, namun banyak pengamat politik yang memperkirakan hal itu akan terjadi. Presedennya sudah terjadi di Argentina.

Namun bukan preseden itu yang menentukan, tetapi popularitas Ani yang dihitung-hitung akan terus meningkat dalam jangka empat tahun ke depan. Selain itu, jika dibandingkan dengan pimpinan partai-partai yang lain, Ani juga masih lebih muda dan bisa membawa suasana baru.

Inilah kelebihan Partai Demokrat, selain akan dipimpin orang muda (Andi Mallarangeng dan atau Anas Urbaningrum), partai ini juga memiliki Ani Yudhoyono. Anda boleh saja mengkritik tentang kepolitikan dinasti yang semakin menguat pada era bebas ini. Tapi, jika rakyat memilih, Anda tidak bisa menolaknya. Itulah demokrasi.

Didik Supriyanto: wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pendapat perusahaan.

(diks/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads