Untuk memuluskan pergantian kepemimpinan itu, kongres menciptakan jabatan wakil ketua umum. Orang yang menempati jabatan inilah yang akan dimentori Mega untuk menggantikan posisinya kelak. Mega sendiri pada periode terakhir ini lebih banyak berperan sebagai simbol partai. Jika tidak ada masalah krusial, urusan partai ditangani wakil ketua umum.
Namun penciptaan jabatan wakil ketua umum sendiri masih prokontra. Menurut sebagian peserta kongres, jika Mega hanya berperan sebagai simbol partai, maka fungsi kepemimpinan partai sehari-hari bisa diserahkan kepada sekretaris jenderal atau sekjen, sehingga tidak memerlukan jabatan wakil ketua umum. Sekali lagi, ketua umum akan turun bila kondisinya benar-benar mendesak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak Kongres PDIP 2005 lalu, putri pasangan Taufik-Mega, Puan Maharani diperkirakan akan menjadi penerus Mega. Indikasinya jelas, saat itu nama Puan dimasukkan dalam jajaran DPP PDIP menjadi salah satu ketua. Sebelum kongres, dalam berbagai kesempatan bertemu kader partai, Mega juga sering memperkenalkan Puan.
Pemilu Legislatif 2009 lalu, Puan ditempatkan sebagai calon anggota legislatif nomor satu di daerah pemilihan Solo dan sekitarnya. Instruksi DPP jelas: partai harus memenangkan Puan; tidak sekadar menjadi calon terpilih, tetapi menjadi calon peraih suara terbanyak. Meskipun Puan tidak sering turun ke Solo dan sekitarnya, karena mesin partai bergerak, dia pun meraih suara terbanyak. Puan sebagai poilitisi yang memiliki basis dukungan massa kuat pun mendapat pembenaran.
Kiprah politik Puan mulai menonjol pada saat dia terlibat perundingan pembentukan koalisi pencalonan pasangan calon presiden dan wakil presiden. Tidak ada yang menyangkal apa yang dilakukan Puan tidak lain adalah apa yang menjadi kehendak Mega. Pada titik inilah semakin jelas, tidak lama lagi Puan akan menjadi pengganti Mega memimpin PDIP.
Tapi perkembangan politik pascapemilu presiden menyebabkan Puan berada di tengah tarik menarik antara Mega yang menginginkan PDIP menjadi partai oposisi, dengan Taufiq Kiemas yang menginginkan PDIP berkoalisi dengan Partai Demokrat (PD). Tidak bisa dibayangkan, betapa sulit peran yang harus dibawakan oleh seorang anak, ketika kedua orang tuanya beda jalan.
Dalam suasana seperti itu, nama Prananda Prabowo dimunculkan ke permukaan, sebagai salah satu tokoh baru PDIP yang hendak diorbitkan dalam Kongres Bali 2010 ini. Prananda adalah anak pertama Mega dari suami pertamanya, Surandro, letnan satu penerbang TNI AU yang hilang dalam tugas pada zaman Orde Baru. Tersebarlah spekulasi bahwa Mega tidak percaya lagi dengan Puan, karena Puan lebih condong memilih jalan bapaknya, Taufiq. Sebagai gantinya adalah Prananda.
Sesungguhnya tidak begitu jelas, apakah pertentangan politik Mega-Taufiq benar-benar telah melibatkan kedua anaknya, sehingga Prananda dan Puan pun ikut bertarung. Yang jelas, pertentangan Mega-Taufiq dan Pranada-Puan ini menjadi komuditas menarik, untuk menunjukkan ke publik bahwa keluarga Soekarno adalah pewaris sah PDIP.
Bagi masyarakat umum nonwarga PDIP, siapapun yang akan dipilih Mega untuk melanjutkan kepemimpinan partai, tidaklah penting. Toh, partai ini telah gagal menunjukkan jatidirinya sebagai partai yang memegang teguh prinsip kerakyatan (sebagaimana diangankan Soekarno), baik pada saat berkuasa, maupun saat jadi oposisi.
Tapi bagi warga PDIP, pertanyaan yang sering jadi bahan diskusi ini harus segera dijawab tuntas: PDIP membutuhkan anak ideologis Soekarno, atau sekadar anak biologis Soekarno; atau jangan-jangan apa yang disebut dengan ideologi Soekarno itu sudah jadi masa lalu, sehingga siapapun yang merasa menjadi anak ideologis Soekarno maupun anak biologis Soekarno, sama-sama tidak mampu membumikan pemikiran Soekarno dalam konteks sosial politik ekonomi kekinian dan kedisinian.
Didik Supriyanto: wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pendapat perusahaan.
(diks/iy)











































