Kalau kepemimpinan PD di parlemen tidak mengecewakan para politisi partai-partai lain, Pak Presiden, segala yang layak diketahui publik niscaya akan terus terselimuti rapat-rapat. Untunglah mereka akhirnya saling gertak, satu pihak merasa dikhianati dan pihak lain merasa perlu menegaskan sikap, sehingga jalan kompromi menjadi alot dan agak mustahil. Dalam hal ini, publik diuntungkan karena hak mereka untuk tahu mendapatkan pemenuhan.
Maka saya kira publik patut bersyukur bahwa PDIP, apa pun alasannya, terus memasang sikap kepala batu, bahwa orang-orang Golkar di Pansus sama ngototnya dengan orang-orang Demokrat dalam posisi yang berseberangan. Begitupun mereka dari PKS, Hanura, dan Gerindra, sikap ngotot mereka patut disyukuri. PKB tampak selalu kalem dan merasa tidak ada masalah apa pun. PAN pernah ngotot, tetapi akhirnya seperti menikmati kemelut dan menunggu bola muntah. Sementara itu PPP mirip kanak-kanak
yang bermain ayunan: pada detik pertama di kiri, detik berikutnya di kanan, tetapi mungkin ia ingin berada di tengah-tengah--kiri tidak, kanan tidak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Astaga, kaget sekali saya.
Ia menyampaikan kronologi, namun yang gampang saya ingat adalah kesimpulannya bahwa Pak Ical menginginkan kasus Century dibuka. “Masalahnya,” katanya, “apakah diperlukan Pansus hanya demi menuruti kemauan satu orang?”
Saya terguncang beberapa saat dan tidak tahu harus bicara apa. Ketika saya sudah mendapatkan lagi kesadaran saya, saya melihat jam dinding. “Sekarang hari Kamis,” kata istri saya. Oh, saya terguncang di hari Sabtu dan baru sadar di hari Kamis. Maka, cepat-cepat saya menulis surat ini.
Mungkin ia benar bahwa Pak Ical menginginkan kasus Century diangkat ke permukaan sampai harus dibentuk Pansus. Namun, kalau penalangan Bank Century adalah urusan yang baik-baik saja, bisakah Pansus dibentuk hanya karena Pak Ical ngotot dan dengan alasan yang mengada-ada?
Saya justru berpikir bahwa tidak ada salahnya Pak Ical ngotot agar kasus Century diangkat. Itu sama lumrahnya dengan kasus L/C Misbakhun dimunculkan oleh Andi Arief. Juga kasus suap kepada Komisi IX dalam hal terpilihnya Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior BI yang diungkap oleh Agus Condro. Bukankah Skandal Watergate yang memaksa Nixon mundur juga dibuka pada mulanya oleh seseorang
yang menamakan diri Deep Throat?
Ada maksud tertentu di balik kengototan Ical terhadap urusan Centruy? Saya kira Andi Arief, Agus Condro, dan Deep Throat masing-masing juga punya tujuan. Setiap orang memiliki motivasinya sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dan, begitulah, akhirnya publik menjadi tahu apa yang terpendam.
Memang, sering kasus-kasus besar yang sekian waktu disembunyikan dari pandangan publik bisa tiba-tiba terbongkar oleh tindakan satu orang. Dan, kadang, memang hanya diperlukan satu orang untuk memulai. Mungkin ia orang yang kecewa, atau tersentuh hatinya, atau memiliki tujuan politis, atau tiba-tiba mendapatkan ilham yang memompa nyalinya, atau ia sudah tidak memiliki harapan lagi. Maksud saya, ia bisa siapa saja. Dalam kasus Century, kalau bukan Pak Ical, mungkin akan ada orang lain.
Mengenai Misbakhun, kalau bukan Andi Arief, mungkin juga akan ada orang lain.
Sekarang, publik sedang menyaksikan Pak Susno Duadji rajin membuat kesaksian. Ia pun memiliki alasannya sendiri untuk itu. Tidak ada yang tahu apakah Pak Susno benar-benar punya kesanggupan untuk menyampaikan seterang-terangnya apa yang ia yakini perlu diketahui publik, atau ia sekadar kecewa karena merasa dikorbankan dalam kasus kriminalisasi dua petinggi KPK; karena itu ia pikir perlu melancarkan serangan balasan. Di sini publik hanya bisa menunggu, saya kira dengan rasa penasaran.
Salam dari saya,
A.S. Laksana
(iy/iy)











































