Partai Golkar Meruwat Obama
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Partai Golkar Meruwat Obama

Rabu, 17 Mar 2010 18:31 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
 Partai Golkar Meruwat Obama
Jakarta - Golkar wayangan. Dua kisah disandingkan. Ruwat sekaligus Wirataparwa. Di tengah pikuk kedatangan Obama dan floating kasus Century, partai ini melangkah lebih jauh lagi. Meruwat sambil mewadahi komunitasnya. Obama diruwat agar aura negatifnya bagi bangsa ini sirna.

Partai Beringin memang dihuni para cerdik-pandai. Tidak hanya dalam konsep tapi juga empirik. Dia tahu bersikap. Dia paham bagaimana memulai dan mengakhiri. Itu tampak dari sikap Partai Golkar dalam kasus Century yang tidak didramatisasi.

Kini, saat pro-kontra kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Husein Obama menggelinding, Golkar melihatnya secara konstruktif. Tidak ikut putaran arus meributkan, tetapi mengayuh dayung agar dua pulau sekaligus terlampaui.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hari Jumat besok, partai ini di kandangnya, mempagelarkan wayang kulit dengan dalang Timbul Ki Hadi Prajitno dan Anom Suroto. Mereka melakukan ruwatan. Termasuk meruwat Obama. Ini sebagai ikhtiar  untuk membuang sial, mencari berkah Allah agar bangsa ini aman dan damai, serta kedatangan Obama tidak berefek buruk bagi bangsa ini. Kendati politisnya adalah supaya yang bersimpati terhadap Beringin makin besar. 

Ruwatan bercerita tentang Bethara Kala. Anak hasil nafsu tidak terkendali. Itu akibat Bathara Guru ereksi ketika menunggang Lembu Andini, dan ‘kolo’ itu jatuh ke laut menjadi raksasa pemangsa manusia.

Dalam kisah lain, Dewi Uma, istri Bethara Guru saat bernafsu ‘menyimpang’ juga menjelma menjadi Bethari Durga. Dia memimpin kerajaan Seto Gondomayit dengan rakyat  setan bekasakan. Setan-setan itu semula adalah bidadara dan bidadari. Karena bertindak durhaka dan durjana, maka mereka berubah menjadi setan.

Itu semua simbol. Pemimpin yang ambisius plus rakyat yang bertindak sama akan memasuki alam siksa. Siksa lahir dan batin. Nafsu angkara, benci, ambisi, suudzon adalah ke-tidakterpuji-an yang memperpuruk negeri. Dan wayang sebagai metafora, bayang-bayang, adalah cermin yang berguna bagi diri dan lingkungan. Ini wahana instrospeksi. Itu pula latar acara ruwatan yang menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Jawa.

Memang betul ruwatan tidak harus ‘nanggap’ wayang kulit murwokolo. Membaca dan mendengarkan bacaan ‘Serat ruwat’ Sudamala pun juga sama. Apalagi dalam ‘Babad Ila-ila’ disebut ratusan kejadian harus diruwat. Dan sejarawan Belanda CC Berg memberi penegasan, bahwa ruwatan bagian dari sastra puja yang mistis.

Namun bagi partai politik, ini adalah bagian dari ‘jualan’. Penggemar wayang kulit sangatlah banyak. Dengan ‘mentradisikan’ pagelaran wayang sebagai bagian dari jatidiri Golkar, maka partai ini telah mendapatkan ‘sayap’ baru untuk terbang tinggi dalam pemilu mendatang. Terus bagaimana dengan ruwatan bagi Obama?

Ini adalah ikhtiar tambahan. Tatkala yang pro mempersepsikan kebaikan Obama datang ke Indonesia dan yang kontra mendegradasi kedatangannya, mumpung sedang ruwatan, maka ‘doa’ pun dipanjatkan agar kedatangan presiden AS itu baik atau buruk akan bernilai baik bagi bangsa ini.

Partai politik sekarang memang harus cerdas berpolitik. Tanpa itu, maka rakyat yang ‘digarap’ instan akan merasa dibodohi dan dibodohkan.


* Djoko Suud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.


(iy/iy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads