Partai Beringin memang dihuni para cerdik-pandai. Tidak hanya dalam konsep tapi juga empirik. Dia tahu bersikap. Dia paham bagaimana memulai dan mengakhiri. Itu tampak dari sikap Partai Golkar dalam kasus Century yang tidak didramatisasi.
Kini, saat pro-kontra kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Husein Obama menggelinding, Golkar melihatnya secara konstruktif. Tidak ikut putaran arus meributkan, tetapi mengayuh dayung agar dua pulau sekaligus terlampaui.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruwatan bercerita tentang Bethara Kala. Anak hasil nafsu tidak terkendali. Itu akibat Bathara Guru ereksi ketika menunggang Lembu Andini, dan ‘kolo’ itu jatuh ke laut menjadi raksasa pemangsa manusia.
Dalam kisah lain, Dewi Uma, istri Bethara Guru saat bernafsu ‘menyimpang’ juga menjelma menjadi Bethari Durga. Dia memimpin kerajaan Seto Gondomayit dengan rakyat setan bekasakan. Setan-setan itu semula adalah bidadara dan bidadari. Karena bertindak durhaka dan durjana, maka mereka berubah menjadi setan.
Itu semua simbol. Pemimpin yang ambisius plus rakyat yang bertindak sama akan memasuki alam siksa. Siksa lahir dan batin. Nafsu angkara, benci, ambisi, suudzon adalah ke-tidakterpuji-an yang memperpuruk negeri. Dan wayang sebagai metafora, bayang-bayang, adalah cermin yang berguna bagi diri dan lingkungan. Ini wahana instrospeksi. Itu pula latar acara ruwatan yang menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Jawa.
Memang betul ruwatan tidak harus ‘nanggap’ wayang kulit murwokolo. Membaca dan mendengarkan bacaan ‘Serat ruwat’ Sudamala pun juga sama. Apalagi dalam ‘Babad Ila-ila’ disebut ratusan kejadian harus diruwat. Dan sejarawan Belanda CC Berg memberi penegasan, bahwa ruwatan bagian dari sastra puja yang mistis.
Namun bagi partai politik, ini adalah bagian dari ‘jualan’. Penggemar wayang kulit sangatlah banyak. Dengan ‘mentradisikan’ pagelaran wayang sebagai bagian dari jatidiri Golkar, maka partai ini telah mendapatkan ‘sayap’ baru untuk terbang tinggi dalam pemilu mendatang. Terus bagaimana dengan ruwatan bagi Obama?
Ini adalah ikhtiar tambahan. Tatkala yang pro mempersepsikan kebaikan Obama datang ke Indonesia dan yang kontra mendegradasi kedatangannya, mumpung sedang ruwatan, maka ‘doa’ pun dipanjatkan agar kedatangan presiden AS itu baik atau buruk akan bernilai baik bagi bangsa ini.
Partai politik sekarang memang harus cerdas berpolitik. Tanpa itu, maka rakyat yang ‘digarap’ instan akan merasa dibodohi dan dibodohkan.
* Djoko Suud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(iy/iy)











































