SBY, Skandal Century, dan Terorisme
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

SBY, Skandal Century, dan Terorisme

Jumat, 12 Mar 2010 09:24 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
SBY, Skandal Century, dan Terorisme
Jakarta - Kematian gembong teroris Dulmatin di tangan Densus 88 tentu sebuah prestasi yang membanggakan. Apalagi Indonesia masih terpuruk dalam hal ekonomi, penegakan hukum dan indeks korupsi. Tapi mengapa kesuksesan ini juga disikapi sinis oleh sebagian kalangan?

Kelompok yang sinis mengaitkan antara pemberantasan teroris, SBY dan Century saling berhubungan alias direkayasa. Bila dikait-kaitan memang bisa saja ketiganya berkaitan. Sebagai presiden, SBY harus bertanggung jawab atas semua kebijakan yang diambil termasuk kasus Century. SBY pun sudah mengakuinya.

Dalam hal terorisme, SBY selalu bersumpah akan menjaga Indonesia terbebas dari aksi-aksi teror yang meresahkan warga bangsa. Bahkan untuk menyatakan perang terhadap terorisme itu, secara khusus SBY menggelar jumpa pers di Istana Negara sesaat setelah terjadinya peledakan bom di Hotel Rizt Carlon dan JW Marriot 19 Juli 2009 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada periode kedua pemerintahan SBY, prestasi Polri memang layak diapresiasi dalam konteks menangkap teroris meskipun dalam keadaan mati. Gembong teroris seperti Noordin M Top dan Dulmatin berhasil ditumpas. Tapi mengapa harus mati? Polisi berdalih terpaksa membunuh demi menyelamatkan diri dari serangan balik teroris.

Namun ada saja yang bekembang liar di luaran, ada tudingan rekayasa di balik cerita sukses pemberantasan teroris, seperti yang baru saja terjadi (kasus penangkapan Dulmatin). Ada yang menuding penangkapan Dulmatin dalam keadaan terbunuh hanya pengalihan isu semata. SBY dituding selalu membuat episode demi episode soal drama penangkapan terorisme demi menutupi kasus yang terjadi dalam pemerintahannya.

Bila menggunakan kaca mata teori konspirasi, tudingan itu sah-sah saja sebenarnya. Maklumlah kesuksesan penumpasan Dulmatin itu terjadi saat suhu politik sedang panas. Hasil Pansus Century yang dikukuhkan dalam Paripurna DPR baru saja menyatakan ada masalah dalam bailout Bank Century. Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani pun dinilai sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Akibatnya, isu pemakzulan pun bertiup kencang.

Dengan adanya isu baru soal terorisme, apalagi penangkapan beberapa teroris seperti di Aceh dan Pamulang, isu politik yang sedang mencari formasi baru soal tindak lanjut rekomendasi DPR soal century agar terus bergerak akan langsung tertutup dengan peristiwa 'besar' itu. Apalagi ada yang tertembak dan mati, ditambah yang tertangkap adalah teroris besar seperti Dulmatin. Dipastikan isu soal Century bisa istirahat sementara.

Publik semakin diajak berfikir liar, yang menurut saya boleh saja tudingan itu terjadi, saat ternyata Presiden SBY mengumumkan teroris yang mati di Pamulang salah satunya adalah Dulmatin. Apalagi dalam pidato pengumuman yang disampaikan disela-sela sambutannya di depan para legislator negeri Kanguru itu, SBY langsung diberi standing applause. Meskipun banyak kalangan di Indonesia yang menyambut baik atas sikap SBY yang langsung mengumumkan teroris yang tertangkap di Pamulang setelah sesaat mendapat laporan dari Kapolri meski di depan elit dan publik Australia.

Namun, apresiasi beberapa kalangan itu tidak menghilangkan pikiran curiga publik yang semakin menjadi-jadi melihat aksi bapak presiden di Australia itu mengingat Dulmatin adalah salah satu gembong teroris yang dihargai intelijen AS seharga USD 10 Juta dan dicari 4 negara aliansi AS, yakni Australia, Singapura, Filipina dan Indonesia sendiri tentunya.

Publik bertanya kenapa SBY malah mengumumkan itu di negeri asing sebelum otoritas resmi RI mengumumkan. Pangamat Komunikasi politik Tjipta Lesmana pun menuding sikap SBY itu melecehkan publik Indonesia yang menunggu kepastian siapa sesunguhnya yang mati. Kenapa SBY malah 'melapor' kepada PM Australia Kevin Ruud dan elit-elit negeri kanguru itu? Apakah karena dana perang terhadap teroris salah satunya berasal dari sana?.

Lalu benarkan tudingan bahwa berbagai upaya penangkapan terorisme di sela kasus besar soal politik yang menggerogoti kewibawaan SBY dan pemerintahannya sengaja diciptakan sebagaimana kecurigaan sebagian orang itu? Saya kok yakin bahwa pengungkapan teror itu memang kebetulan saja berbarengan dengan adanya kasus besar. Semoga saja saya tidak salah.

*) Muhammad Nur Hayid, Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pendapat perusahaan tempat penulis bekerja. (yid/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads