Kesantunan Versi Pacitan dan Versi Lain
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Surat kepada Presiden

Kesantunan Versi Pacitan dan Versi Lain

Senin, 01 Mar 2010 17:49 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kesantunan Versi Pacitan dan Versi Lain
Jakarta - Pak Presiden, untuk kesekian kali saya membaca berita tentang kesantunan. Anda bilang, dalam acara peringatan Maulid Nabi, bahwa demokrasi memerlukan kesantunan. Dulu di masa kampanye anda juga menyerukan permintaan yang sama, seolah-olah anda dikepung oleh orang-orang yang tidak santun. Variasi lain adalah etika dan akhlak, dan kalau mau anda bisa menambahinya nanti dengan ungkapan hati tentang kesopanan dan tabiat.

Apakah kesantunan adalah kata kunci anda untuk segala urusan, Pak Presiden? Jika iya, saya kira itu kata kunci yang mungkin hanya berhasil bagi diri anda sendiri - anda bisa selalu tampak santun seperti yang anda inginkan - tetapi mungkin ia akan gagal bagi banyak orang.

Di luar itu, jika anda menjadikannya kata kunci, anda akan kesulitan menemukan alat ukur yang ajek dan bisa diterapkan pada sembarang orang. Maksud saya, kesantunan versi Pacitan akan berbeda dengan kesantunan versi Banyumas, atau Manokwari, atau Dompu. Kesantunan gaya orang Jawa, yang banyak juga variasi sub-kulturnya, pasti berbeda dengan kesantunan gaya Madura, Dayak, Papua, atau Batak. Saya kira bahkan Ruhut Sitompul pun tidak bisa mewakili Batak, sebab ia mewakili dirinya sendiri, dan ada sejumlah orang Batak yang juga mumet menyaksikan tabiatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tentu tidak salah anda bilang demokrasi memerlukan kesantunan. Tak ada orang menyalahkan truisme semacam itu. Dan, anda tahu, hidup bertetangga juga memerlukan kesantunan, berumah tangga memerlukan kesantunan, berbisnis memerlukan kesantunan, dan berkendara di jalan memerlukan kesantunan. Masalahnya, kesantunan di segala bidang ini membutuhkan prasyarat-prasyarat lain. Anda akan dianggap sebagai presiden yang mau enaknya sendiri jika meminta kesantunan tanpa memperhatikan prasyarat-prasyaratnya.

Orang akan mudah diminta santun misalnya jika rasa keadilan terpenuhi, mendapatkan kepastian dalam setiap urusan (tidak dipalak oleh makelar saat berurusan dengan birokrasi di tingkat mana pun), dan tidak dihajar oleh kemelaratan sepanjang usia (kefakiran mendekatkan orang pada kekufuran, bukan?). Lebih dari itu, orang mudah diajak santun jika tersedia kesempatan baginya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan di sinilah salah satu fungsi penyelenggaraan negara.

Sebaliknya, jika orang-orang susah harus menyaksikan terus pameran keserakahan dan kemelesetan para elite, dan negara gagal menunjukkan performa terbaik untuk mengatasinya, yang mereka butuhkan adalah sebuah tertib yang memberi kepastian. Hari ini saya membaca berita tentang pejabat Deplu yang merangkap pemilik saham perusahaan rekanan, dan itu menyebabkan terjadinya penggelembungan uang tiket yang merugikan negara. Berita lain adalah tentang orang-orang yang menyesalkan Andi Arief ikut terjun dalam lobi-lobi politik kasus Century. Dia staf khusus anda untuk urusan bantuan sosial dan bencana. Kritik orang: Kenapa ikut-ikutan lobi politik sementara di pekarangan dia sendiri persoalan yang ada tak kurang beratnya?

Lalu Satgas Mafia Hukum itu apa tugasnya? Semula saya pikir ia akan membantu kejaksaan dan aparat hukum lainnya dengan membagikan tip-tip ampuh atau panduan praktis atau merumuskan kebijakan tentang bagaimana langkah terbaik memberantas mafia hukum. Jaksa Agung Hendarman pernah mengatakan bahwa makelar kasus itu hanya bisa tercium baunya dan tidak tampak sosoknya. Jadi, kira-kira ia seperti kentut, dan Jaksa Agung kurang lebih kesulitan memberantas kentut.

Namun, Satgas ini tampaknya telah melakukan tindakan yang tidak santun dengan menyatakan siap mengusut kasus Misbakhun, politisi PKS yang oleh Andi Arief dituding memiliki L/C bodong di Bank Century. Satgas ini anda yang membentuknya dan ia bekerja untuk anda. Orang akan mudah menyimpulkan bahwa pekerjaan Satgas adalah mencari-cari kasus hukum para politisi yang tidak satu suara dengan anda. Jika memang itu tugasnya, saya kira anda harus mengganti namanya dengan yang lebih tepat.

Terakhir, pembicaraan mengenai etika, akhlak, dan kesantunan yang anda gemari itu saya kira adalah tema pembicaraan paling mengharukan di abad ke-21. Beberapa waktu lalu saya ngobrol-ngobrol dengan kawan saya, seorang sutradara, ketika ia baru saja menonton film Avatar. "Orang-orang lain sudah bikin film sebagus itu, mereka memikirkan capaian-capaian kreatif yang mungkin diwujudkan oleh pikiran manusia, pembicaraan kita sampai saat ini masih mandek soal etika, akhlak, dan kesantunan," katanya.

Saya tak memiliki penjelasan yang memadai untuk menanggapi pernyataan itu, Pak Presiden. Jadi saya teruskan saja kepada anda untuk menjelaskannya: kenapa kita mandek di situ-situ melulu.

Salam dari saya,

A.S. Laksana
(asy/asy)



Berita Terkait