Dicari: Tumbal Paling Aman untuk Kompromi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Surat kepada Presiden

Dicari: Tumbal Paling Aman untuk Kompromi

Jumat, 19 Feb 2010 07:09 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Dicari: Tumbal Paling Aman untuk Kompromi
Jakarta - Pak Presiden, karena anda kepala negara saya pikir tepat jika pertanyaan berikut diajukan ke anda: Ke mana anda akan mengarahkan negeri ini dalam lima tahun kepemimpinan anda yang kedua? Saya berharap bahwa setelah anda mengeluarkan album lagu populer, jogging di Senayan bersama istri dan sejumlah pejabat, dan menengok penjara anak-anak di Tangerang, anda menjadi lebih siap membuat kebijakan-kebijakan yang tidak menambah ruwet keadaan.

Segala urusan menjadi kasus yang melingkar-lingkar sekarang. Di tingkat elite, lobi-lobi politik sedang dijalankan demi memuluskan kompromi sebagai penyelesaian untuk kasus Century. Dan saya kira, sampai kompromi politik yang alot itu disepakati, berbagai kasus yang selama ini mengendap di bawah permukaan akan diangkat satu demi satu.

Di satu sisi, berita-berita itu memuakkan. Di sisi lain, gertak-menggertak untuk mengupayakan kompromi ini akan menjadi momentum yang menarik. Dengan cara demikian, kasus Century kini memiliki fungsi barunya sebagai keran pembuka bagi pelbagai kasus lain yang bentuknya bisa apa saja. Bisa masalah penggelapan pajak, tindak amoral para politisi, atau dibukanya harta kekayaan bekas Dirjen Pajak Hadi Poernomo yang kini menjadi ketua BPK.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya ingin menyinggung sedikit laporan Hadi mengenai harta kekayaannya karena sungguh lucu. Di saat pemerintah ingin menyingkirkan pengemis di jalanan yang setiap hari meminta 'hibah' ala kadarnya dari orang-orang lain, kini publik disodori kenyataan bahwa sebagian besar harta kekayaan Hadi Poernomo adalah hibah. Seluruh lahan dan bangunan yang berada di mana-mana, bahkan di luar negeri, sejumlah apartemen, tiga buah mobil, perhiasan, dan sebagainya adalah pemberian. Dan saya yakin para pejabat elite kita adalah orang-orang yang suka menerima hibah.

Kembali ke kasus Century yang sekian waktu menyita perhatian dan menyiksa pikiran, penyelesaian seperti apa yang sedang anda upayakan? Jika terjadi kompromi politik di sana, siapa yang paling kecil risiko politiknya untuk dijadikan korban? Anda tahu, Pak Presiden, rasa-rasanya nyaris mustahil mencapai kompromi politik tanpa ada yang dikorbankan. Atau apakah Pansus Century akan membuat publik semakin frustrasi ketika ia tidak menghasilkan apa-apa?

Dalam hitung-hitungan politik tentulah orang-orang seperti Bu Sri Mulyani dan Pak Boediono bisa dikorbankan. Mereka bukan orang parpol sehingga tidak akan ada gejolak politik yang mencemaskan jika mereka yang dijadikan tumbal kompromi. Tambahan lagi, anda akan tampak mengapresiasi tuntutan para demonstran jika anda mengorbankan mereka. Bukankah mereka berdua yang sekarang dijadikan musuh publik oleh para demonstran? Foto mereka diarak dan diberi taring dan berbagai atribut lain. Bu Sri Mulyani bahkan didandani seperti perompak dalam gambarannya yang paling klise: si mata satu.

Saya yakin anda tahu, Pak Presiden, apakah mereka layak atau tidak layak didandani seperti itu. Dan, sekarang, apa pendapat anda tentang pernyataan George Soros soal Century? Dalam percakapannya dengan Pak Boediono beberapa waktu lalu, Soros menyatakan bahwa bailout itu keliru. Tentu saja anda boleh tidak mempercayai pendapatnya. Bisa jadi Soros yang keliru. Bukankah Indonesia lain dari yang lain? Ia pastilah tidak memperhitungkan misalnya bahwa bailout sebuah bank bisa ada kaitannya dengan pendanaan kampanye untuk kandidat presiden dan wakil presiden.

Mungkin Soros benar jika bailout Century ini murni masalah perbankan. Sebagai investor, orang ini sudah membuktikan diri bahwa ia bisa melumpuhkan Poundsterling dalam aksi tanggal 16 September 1992 yang dalam sejarah keuangan Inggris dikenal dengan nama 'Black Wednesday.'

Kejadian tersebut ia singgung-singgung dalam bukunya 'Soros on Soros'. Dan, ajaibnya, orang yang bergumul akrab dengan angka-angka dan memiliki kecermatan berhitung ini sering mendasarkan keputusannya pada intuisi semata (ia menyebutnya insting hewani). Di buku itu ia bilang bahwa jika ia merasakan punggungnya sakit, itu adalah sinyal kesalahan dalam investasi yang ia lakukan. "Itu bukan cara yang sangat ilmiah," katanya, "tetapi saya menggunakannya sebagai pertanda awal."

Sekarang, Pak Presiden, saya punya satu hal yang ingin saya tanyakan ke Soros kalau ada kesempatan bertemu dengannya. Pertanyaan saya, apakah punggung Soros sakit, atau tiba-tiba ia menderita encok yang parah, ketika pembicaraannya dengan Pak Boediono masuk ke urusan bailout Bank Century?

Sekian surat saya.

Salam,

A.S. Laksana


(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads