"Hanya ini yang kami punya," katanya. Tetapi suaranya terdengar gembira, mungkin bahkan bangga.
Kesulitan setelah perang delapan tahun melawan Irak, yang didukung oleh AS, masih terasakan di negeri bangsa Arya itu. Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya melancarkan embargo yang membuat perekonomian Iran tersuruk-suruk. "Kami hidup dari apa yang kami punya," kata penjaga stand itu, "dan mengolah sebaik-baiknya apa yang ada di negeri kami. Hari ini kami hanya punya jagung dan kami bisa bangkit dari jagung milik kami."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kami bercakap-cakap tidak lama, tetapi ia memberi sesuatu yang inspiratif dan saya selalu bisa mengingatnya sampai sekarang. Perempuan penjaga stand itu juga dengan ringan hati menceritakan bahwa negaranya sedang miskin. Dan kondisi itu disadari sepenuhnya oleh seluruh warga. Pemerintah Iran waktu itu membuat pengakuan kepada seluruh warganya tentang kondisi negara mereka dan kemudian melakukan "kampanye miskin". Dan saya kira mereka beruntung punya teladan dalam diri Imam Husein.
Anda tahu, Pak Presiden, kampanye semacam ini dengan sendirinya efektif untuk mengusir nafsu-nafsu hedonistik para pejabat publik. Kemabukan akan kemewahan niscaya akan tampak memalukan dan sama sekali tidak punya tempat di sana. Saya yakin tak ada tuntutan-tuntutan berlebihan oleh pejabat publik di saat pemerintah membuat pengakuan kepada warganya bahwa negara sedang miskin. Yang terpenting dari itu, pemerintah sendiri rasa-rasanya agak musykil untuk membelanjakan uang negara demi mobil mewah menteri-menteri atau anggota parlemen. Mereka akan menjadi orang-orang yang memalukan jika di mata publik tampak sebagai orang-orang yang serakah.
Sekarang, kita tahu, Iran bisa bangkit dari rongrongan embargo, dengan tetap gagah. Dan mereka benar-benar bangkit dengan bertumpu pada apa yang mereka punya. Ketika politik membuat negeri itu dikucilkan, diplomasi budaya membuat mereka diterima dengan hangat. Sejak beberapa tahun lalu dunia bisa menyaksikan para sineas mereka menghasilkan film-film yang menakjubkan. Dari sanalah antara lain mereka memasuki pergaulan dunia.
Tak lama setelah pertemuan dengan penjaga stand itu, Pak Presiden, saya membaca berita kecil tentang salah seorang wakil presiden Iran yang berangkat ke kantornya dengan bersepeda. Orang-orang lain segera mengikutinya. Lalu mereka dengan mudah membuat kebijakan bahwa hari Rabu adalah hari bersepeda. Orang-orang mematuhi kebijakan itu dengan senang hati.
Sampai sekarang sesungguhnya saya tak terlalu mengenal Iran, tidak khusus menekuni seluk-beluk negara itu atau Islam syiah yang mereka anut, dan hanya suatu ketika pernah berjumpa dan bercakap-cakap dengan penjaga stand. Namun itu pembicaraan yang terus bisa saya ingat dan, terus terang, "kampanye miskin" yang disampaikannya benar-benar melekat di pikiran saya. Menurut saya itu kebijakan brilian yang bisa disetarakan dengan "New Deal"-nya Franklin Delano Roosevelt ketika Amerika menghadapi depresi besar pasca Perang Dunia I.
Begitulah, Pak Presiden, saya pikir dalam situasi sulit yang diperlukan memang pemimpin yang sanggup memberikan inspirasi melalui kebijakan yang ia tawarkan. Dengan pemimpin semacam itu orang-orang yang paling kesulitan pun bisa memiliki keparcayaan diri untuk bangkit. Sebaliknya, pemimpin yang terlalu defensif hanya akan mengundang kesulitan bagi diri sendiri, dan juga bagi warganya.
Salam dari saya,
A.S. Laksana
(asy/asy)











































