Pak Presiden dan Tongkat Sihirnya
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Surat kepada Presiden

Pak Presiden dan Tongkat Sihirnya

Jumat, 05 Feb 2010 08:30 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
 Pak Presiden dan Tongkat Sihirnya
Jakarta - Pak Presiden, para pengkritik anda sering mengatakan bahwa anda peragu; mereka juga mengatakan anda lamban membuat keputusan. Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina, ketika menjadi anggota tim verifikasi kasus 'Cicak vs. Buaya' pernah melontarkan pernyataan tajam ketika anda diam sekian lama: "Presiden tidak hanya absen, tetapi abstain."

Dalam kasus Century pun anda dianggap tidak tegas mengambil keputusan sehingga membuatnya berlarut-larut. Pertanyaannya, apakah anda memang suka membiarkan urusan menjadi berlarut-larut sampai suara anda betul-betul dinantikan orang banyak? Apakah itu teknik untuk menjadikan diri pusat perhatian? Ataukah anda memang terbiasa abstain?

Seolah menjawab semua keraguan, hari Rabu (3/2/2010) lalu anda membuat kejutan. "Telah ditemukan solusi permasalahan pembangunan," kata anda di Istana Cipanas. Benarkah itu, Pak Presiden? Saya perhatikan sekarang anda cenderung menggunakan kalimat-kalimat yang samar dalam pidato anda, mirip teknik pembingungan yang sering digunakan oleh hipnotis untuk membuat orang tertidur. Namun jika pernyataan anda sungguh-sungguh, saya yakin anda pasti baru saja menemukan tongkat sihir atau lampu Aladin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya tidak sedang skeptis, hanya saya merasa bahwa apa yang anda sampaikan itu benar-benar lucu. Anda menyebut "permasalahan pembangunan" seolah-olah ia adalah sesuatu yang sifatnya tunggal. Dalam pernyataan di atas, ia terdengar seperti nama penyakit dan anda baru saja menemukan obat mujarabnya. Saya setuju bahwa anda perlu optimistis tetapi tidak harus simplistik semacam itu.

Oya, pada hari Rabu ketika anda menyampaikan temuan anda, siangnya saya menyaksikan pertunjukan yang menakjubkan di Metromini. Seorang pemuda, mungkin tiga puluhan usianya, naik ke mobil angkutan yang saya tumpangi dan mengatakan, "Ini bukan nasi, sekarang ini saya tidak punya nasi untuk saya makan, jadi saya makan ini."

Ia menunjukkan silet di tangannya dan kemudian mengunyahnya seperti mengunyah kripik singkong. Selesai makan silet, ia kembali berpidato, "Nah, sekarang saya ingin makan nasi. Sudah lama saya tidak makan nasi." Dan ia mengakhiri wisata kulinernya dengan menyorongkan tangan tengadah kepada semua penumpang Metromini.

Pemuda itu tentu tidak mewakili kondisi seluruh rakyat Indonesia, tetapi saya kira ia mewakili sebagian 'kegilaan' ketika masa depan bagi sementara orang tak bisa terbayangkan akan seperti apa. Saya yakin anda tahu kenapa para aktivis dan mahasiswa turun ke jalan menggugat pemerintah pada 28 Januari lalu. Di antara mereka bahkan ada yang membawa-bawa kerbau segala dan menuliskan nama binatang itu Si BuYa, yang diganti Si leBaY beberapa hari kemudian, dengan tujuan agar dari jauh terbaca sebagai SBY.

Dan anda, sembari mengeluhkan kerbau itu dan mengabaikan sejumlah kondisi yang berlarut-larut, menyatakan bahwa program 100 hari pertama anda 90 persen berhasil. Oh, itu nyaris sempurna, Pak Presiden. Dan mungkin begitulah cara anda memandang diri sendiri: seorang pemimpin yang nyaris sempurna, yang mengepalai sebuah pemerintahan yang juga nyaris sempurna dalam seluruh bidang kerjanya.

Untuk memberi ilustrasi atas 90 persen keberhasilan itu anda lalu memungut apa saja yang bisa anda sebutkan: jalan tol, pabrik es, pabrik gula, banjir kanal timur, kemudahan mengurus paspor, dan sebagainya. Apakah jika ada pabrik karung goni didirikan di Papua, anda akan menyebutnya juga sebagai keberhasilan? Dengan detail seperti itu, Pak Presiden, anda seperti mendudukkan diri sebagai kepala proyek dan bukan presiden. Dan kini saya jadi agak paham kenapa anda sering mengeluh. Mungkin anda merasa diri sebagai mandor yang baik tetapi tidak dihargai.

Saya kira anda tak perlu berlebihan dengan detail yang demikian itu. Cukup bagi anda untuk ikhlas memahami bahwa seorang pemimpin mungkin tidak serta merta dipuji jika ia membuat suatu keberhasilan, sebab rakyat beranggapan bahwa memang itulah yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin. Sebaliknya, jika pemimpin dianggap gagal, seketika itu juga ia akan dihujani kritik. Kadang-kadang itu terasa tidak adil, tetapi begitulah. Pemimpin, menurut sebuah cerita anak-anak, adalah orang yang duduk di singgasana dengan sebilah pedang telanjang digantungkan pada seutas benang di atas kepalanya. Benang itu akan putus dan pedang meluncur menembus ubun-ubun jika sang pemimpin melanggar amanah.

Salam dari saya,


A.S. Laksana


(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads