Deklarasi ND yang digelar pekan kemarin di Senayan memang meriah. Sederet tokoh partai hadir. Dari PDIP tampak Megawati, Taufiq Kiemas, Maruarar Sirait dan Budiman Sudjatmiko, selain Mubarok dari Partai Demokrat, Wiranto dari Partai Hanura, Permadi dari Partai Gerindra, serta Akbar Tandjung, dan Jusuf Kalla dari Partai Golkar.
Banyaknya tokoh yang hadir menimbulkan multitafsir. Itu tidak terhindarkan. Apalagi di lingkaran deklarator dominasi politisi PG amat menonjol. Celakanya, Yuddy Chrisnandi, Ferry Mursidan Baldan, serta beberapa tokoh Partai Beringin minus Akbar Tandjung itu merupakan gerbong yang ditinggalkan lokomotif Aburizal Bakrie. Tidak terkecuali Sri Sultan Hamengkubuwono X yang mandegani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
‘Syak-wasangka’ sama juga dirasakan Partai Demokrat (PD). Warna biru bendera ND dengan dua garis kuning terpampang kecil sepintas mirip bendera PD. Lambang dan simbol itu dipersepsikan sebagai sinyal ND hendak bergerak ‘mengoyak’ kebesaran Partai Demokrat.
Memang benar Surya Paloh berulangkali membantah. ND bukan embrio partai politik. Tapi siapa yang percaya itu. Apalagi setelah kekalahan Surya Paloh berebut kursi Ketua Umum Golkar tersebar sas-sus merancang pendirian partai politik ‘sejenis’ Golkar. Juga rumor susulan yang menyebut Surya Paloh berencana bersanding dengan Wiranto di Hanura. Itu alasan bantahan Surya Paloh tidak menggoyahkan keyakinan banyak pihak.
Namun benarkah ND embrio partai politik? Insting saya mengatakan ‘ya’. Itu kalau arus yang dibangun organisasi massa ini melahirkan simpati rakyat. Kalau program dan visinya memberi manfaat bagi publik. Tapi jika tidak, maka nasib ND tidak jauh dari umur jagung. Setelah ada, habis itu tiada!
Mengapa begitu? Itu tidak lepas dari sosok pelahir ND. Wartawan senior ini telah terbentuk sebagai wartawan. Semboyannya selalu ada yang baru, dan harus terus lahir yang baru. Dalam kacamata politik, ini inkonsistensi, yang menghancurkan basis dukungan, dan ‘anti-kesepahaman’. Itu yang membuat saya pribadi ragu survivenya ND, apalagi sampai reinkarnasi sebagai partai politik.
Benarkah begitu? ‘Satu lagi lahir anak Partai Demokrat’, kata Mubarok berkelakar. Apakah maksudnya gerangan?
*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(iy/iy)











































