Menghibur Diri, Menenangkan Diri
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Didik Supriyanto

Menghibur Diri, Menenangkan Diri

Senin, 25 Jan 2010 12:34 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Menghibur Diri, Menenangkan Diri
Jakarta - Hampir 100 hari Presiden SBY menjalani masa kekuasaannya yang kedua. Namun masa awal kekuasaan yang biasanya penuh harap dan semangat ini, harus menghadapi kenyataan pahit. Isu atau skandal Bank Century membuat semua berantakan.

Program 100 hari tidak jelas ceritanya. Sebagian besar menteri dari partai politik harus benar-benar belajar menjadi menteri. Itu penting agar para staf protokoler departemen tidak selalu bingung. Bayangkan, jadwal bertemu dengan menteri dari Jepang sudah dipatok jauh hari, masih terlambat juga. Alasannya seperti karyawan pemalas, macet!

Sementara menteri dari kalangan profesional, sibuk menghadapai manuver partai politik. Waktu, tenaga dan pikiran Sri Mulyani habis untuk melayani Pansus Bank Century. Jangan dikira menteri profesional selain Sri Mulyani tidak menghadapi masalah. Mereka juga sibuk memenuhi jadwal pertemuan dengan para politisi, yang mencari jatah proyek.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makanya, sangat masuk akal apabila SBY melantik sejumlah wakil menteri. Tujuannya tentu saja untuk membantu para menteri menyelesaikan tugas-tugasnya. Tetapi pelantikan wakil menteri pada awal kekuasaan ini justru menambah beban organisasi.Β 

Ya, demi mengakomodasi kehadiran wakil menteri, mau tidak mau harus dilakukan restrukturisasi organisasi. Sebab, seperti ditegaskan SBY, seorang wakil menteri bukanlah ban serep. Ia dihadirkan bukan sekadar untuk mewakili menteri yang sedang berhalangan. Ia mepunyai tanggung jawab dan pekerjaan yang jelas.

Selama 100 hari masa kekuasaannya yang kedua ini, Presiden SBY benar-benar menghadapi situasi yang berbeda dari masa awal periode pertamanya. Perhatian masyarakat terkonsentrasi ke Pansus Bank Century, yang seakan-akan itu bukan bagian dari urusan Presiden SBY. Dan SBY menikmati hal ini.

Buktinya, dia biarkan saja wakil presiden dan menterinya menjadi bulan-bulanan Pansus Bank Century. Nyaris tidak ada upaya pembelaan, meskipun dua kali presiden menyatakan bahwa apa yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dan Departemen Keuangan saat itu, sudah benar demi menyelamatkan perekonomian nasional.

Bagi SBY barangkali apa yang dilakukannya sudah cukup untuk menunjukkan posisi politiknya terhadap kasus Bank Century. Bahkan, dia pun tidak terpengaruh oleh hasil survei yang menunjukkan popularitasnya turun. Dia yakin akan mampu mengemban kekuasaan lima tahun mendatang, sebagaimana syair lagu terbarunya, "Kuyakin Sampai di Sana".

Bukankah menghibur diri adalah cara terbaik untuk menenangkan diri?Β  Simaklah sair lagu SBY:

Meskipun berat/Mesti kulakukan/Kupilih jalan yang kuyakini/Jangan paksakan yang takkan mungkin/Hidupku mesti lurus dan benar/

Reff:

Seribu jalan menuju Roma/Entah mana yang paling baik/Ada begitu banyak pilihan/Engkaulah yang kan menentukan.

Telah kupilih jalanku sendiri/Dalam prinsip kehidupanku/Meski tak selalu akan indah/Aku yakin sampai di sana/


* Didik Supriyanto, wartawan detikcom yang juga Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).

(diks/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads