Mereka bertanya, tetapi tidak memberi kesempatan kepada yang ditanya untuk menuntaskan jawaban. Kata Menteri Tifatul mereka main potong semau mereka. Apakah sesungguhnya mereka memang tidak memerlukan jawaban, sekalipun mereka bertanya?
Padahal dengan cara begitu, saya kira mereka justru sedang membuat diri mereka tampak buruk di mata publik. Saya menyaksikan bagaimana mereka memperlakukan Pak Boediono; saya yakin simpati publik pastilah lebih banyak ditujukan kepada Pak Wapres yang selalu tampak tenang, rapi dalam menjawab, dan enak dilihat. Ketika mereka mencecar Raden Pardede yang juga tampil tenang, orang-orang Pansus itu menunjukkan juga penampilan ganas mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu saya yakin bahwa sekarang ini banyak orang dari kalangan awam yang tidak berpihak kepada Pansus yang tampak cacat akhlak di mata mereka. Dan, sebaliknya, siapa pun yang mereka mereka cecar akan tampak jauh lebih baik dibanding mereka, tampak teraniaya, dan karena itu layak mendapatkan simpati.
Saya betul-betul tidak habis pikir tentang hal ini, Pak Presiden. Kok bisa mereka menampilkan diri dalam cara yang tampak kurang berakhlak semacam itu, seolah-olah mereka tidak membutuhkan dukungan sama sekali dari masyarakat. Ruhut Sitompul, artis sinetron dan anggota Fraksi Partai Demokrat, bahkan bisa enteng mengeluarkan 'bangsat' dari mulutnya dan melepaskannya di ruang rapat panitia angket. Gayus Lumbuun, yang berasal dari PDIP, menghadapi 'bangsat' milik Ruhut dengan melepaskan 'setan' dari mulutnya.
Menurut Ketua DPR Marzuki Alie, keduanya akan disidang karena 'telah terjadi dinamika pada rapat Panitia Angket.' Saya kira Marzuki keliru; yang benar adalah telah terjadi percekcokan antara Ruhut dan Gayus yang disaksikan oleh jutaan rakyat yang menyaksikan penampilan mereka di layar televisi. Mereka sudah bersalaman dan di hari selanjutnya Ruhut meneruskan akting horornya ketika mencoba menyudutkan Pak Jusuf Kalla dengan pertanyaan yang ia ajukan.
Aneh sekali orang-orang Pansus ini, Pak Presiden. Tidak bisakah mereka mempertontonkan penampilan yang sesantun Pak Boediono, misalnya, sehingga orang banyak bisa menaruh dukungan kepada mereka? Apa sesungguhnya yang mereka kehendaki dengan penampilan seperti itu? Saya yakin mereka tidak betul-betul tahu bahwa menampilkan diri sebagai penganiaya adalah cara terbaik untuk kehilangan dukungan publik.
Lebih aneh lagi, di tengah ketidakpercayaan publik kepada reputasi mereka, orang-orang DPR ini justru menjadikan diri mereka tampak semakin mengerikan di mata publik. Tentu tidak semuanya begitu. Ada juga yang lucu di antara mereka, yakni dua orang anggota Pansus dari PKB. Saya akan menutup surat ini dengan mengingatkan anda betapa mengharukannya kedua orang itu: mereka bertanya tetapi tidak tahu apa yang harus mereka tanyakan kepada Pak JK. Karena itu mereka mengulang saja apa yang sebelumnya sudah ditanyakan orang lain.
Sekian, Pak Presiden, salam dari saya.
A.S. Laksana
NB: Soal renovasi pagar istana dengan biaya Rp 22,5 miliar, Pak Presiden, banyak pembaca yang membuat komentar sinis atau marah di situs detikcom ini. Tetapi banyak juga komentar yang membela anda, apa pun yang anda lakukan. Saya setuju-setuju saja jika renovasi pagar istana itu memang merupakan hal terbaik bagi rakyat Indonesia.
(asy/asy)











































