Beberapa tahun silam terbetik kabar, penghuni Lapas Medaeng, Jawa Timur tidak lagi menjadi ‘tukang sodomi’. Pesakitan baru umur belasan tahun tidak perlu ketakutan lagi. Mereka terbebas dari ‘tradisi pemerkosaan’ yang biasa dilakukan narapidana (napi) lama. Benarkah napi sudah pada tobat, puasa menekan hawa nafsu?
Ketika beberapa napi keluar penjara ditanya kebutuhan seksnya, jawaban mereka membuat bulu kuduk berdiri. Soal itu gampang, katanya. Di lapas tersedia bermacam ragam ‘alat pemuas’. Dari ‘bebek goreng’ dan ‘ayam panggang’, sampai perempuan betulan. Semuanya bisa dibeli, tergantung uang di kocek.
Yang dimaksud ‘bebek goreng’ dan ‘ayam panggang’ adalah ‘membeli’ satwa itu untuk disetubuhi. Sedang perempuan betulan merupakan pelacur yang ‘didatangkan’ khusus dengan layanan khusus dan ‘harga khusus’ untuk memuaskan nafsu syahwat para napi yang berada dalam bui.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disusul penjara dipakai mengendalikan bisnis sabu-sabu, dan sekarang Arthalyta ‘membangun istana’ di dalam penjara.
Duit masih segalanya di negeri ini. Apa saja bisa dibeli. Maka berbahagialah orang kaya di negeri ini. Yang punya duit bisa membeli hukum dan petugas. Tidak peduli itu menista dan mengoyak negara dan kemanusiaan yang ada.
Nasib Arthalyta dan mereka yang berduit sangat kontras dengan Irun. Warga Trenggalek ini gara-gara mengambil ranting kayu di hutan dijadikan ‘obyek bisnis’ mereka yang berkuasa. Dipalaki aparat dijanjikan bebas, dijebloskan ke penjara tatkala ‘pengobyek’ tidak membagi rata. Irun dibui, istri dan lima anaknya terlunta-lunta.
Banyak utang dan tidak ada yang dimakan membuat istri Irun nekad. Dia ikut masuk bui bersama anak-anak. Jatah makan Irun berbagi untuk si buah hati. Dan ini menerbitkan iba para narapidana se-sel. Para bajingan itu ternyata lebih mulia dibanding para ‘pejabat bangsat’. Mereka berikan nasi ransum untuk lima anak Irun yang bersusun-susun.
Kisah nyata seputar bui, petugas, serta manusia yang terpenjara itu membuat kita terus mengelus dada. Dari waktu ke waktu aparat serakah tidak pernah istirah. Ditindak segelintir, segebok merintis karier. Satu dipecat, seribu antre mencari peluang.
Rasanya kita perlu menerapkan hukuman mati bagi mereka agar jera.
*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. (iy/iy)
(iy/iy)











































