Pertanyaan pertama-"Siapa sih orang ini?"-mudah saya jawab. Saya penulis dan pernah menjadi wartawan tetapi hanya sebentar, persis seumuran tabloid DeTIK yang dibredel pemerintah Orde Baru sebelum mencapai dua tahun. Sebetulnya mereka bisa mencari tahu siapa saya lewat google atau mesin pencari yang lain; itu kalau mereka sungguh-sungguh ingin tahu siapa saya dan apa yang saya tulis.
Namun saya mafhum bahwa di negeri dengan budaya membaca yang kandas oleh kemelaratan dan gairah menggebu pada gosip dan sinetron, seorang penulis sebaik apa pun niscaya tak akan sepopuler pemain sinetron dengan akting yang njelehi seperti Ruhut Sitompul misalnya. Saya berani mempertanggungjawabkan pernyataan saya tentang akting Ruhut yang njelehi itu. Dan saya pikir dia tidak perlu menulis, atau membayar orang untuk menulis, buku putih tentang betapa mengharukannya akting dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seandainya mereka ngotot ingin tahu apakah saya bisa menjadi presiden yang lebih baik, maka ada risiko di pihak anda. Itu berarti anda harus rela melepaskan jabatan anda dan memberi saya kesempatan barang 100 hari untuk menjadi presiden. Pada saat itu mereka akan melihat apakah saya lebih baik, atau sama saja, atau tidak lebih baik dibandingkan anda.
Itu tidak mungkin dan inkonstitusional, bukan? Karena itu saya akan tetap pada posisi saya untuk memberi saran. Anda tahu, Pak Presiden, sengsara sekali hidup di negara yang orang-orangnya mudah marah karena himpitan ekonomi, dengan penegak hukum yang gemar memperdagangkan kasus (itu sebabnya ada banyak makelar), dengan politisi-politisi medioker yang secara mencolok menjalankan politik kartel.
Teman saya Kuskridho Ambardi belum lama ini menerbitkan buku bagus berjudul Mengungkap Politik Kartel. Di buku yang semula adalah disertasi doktoralnya pada The Ohio State University, AS, Kuskridho dengan baik mengamati semangat kartelisasi yang mendasari pembentukan koalisi partai-partai. Ia merumuskan bahwa pertarungan ideologi lekas menyingkir setelah pemilu selesai, dan tabiat semua partai sama belaka: sama-sama mendambakan kekuasaan demi kepentingan finansial.
Pertanyaan ketiga jauh lebih mudah saya jawab. Itu pertanyaan yang mencoba membelokkan masalah. Lebih tepatnya itu adalah prasangka buruk yang mencoba menyeret-nyeret urusan kepresidenan anda ke wilayah personal seseorang. Padahal terpilihnya anda menjadi presiden bukanlah masalah personal bagi saya. Saya akan sangat senang jika anda mampu menjadi presiden yang mumpuni bagi negara ini, yang bisa memberi bukti bahwa anda sanggup memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Bukankah itu yang anda janjikan dalam kampanye?
Hanya sayang sekali bahwa KPK, setelah kasus kriminalisasi Bibit-Chandra, kini tampak bekerja sungkan dan kikuk. Dalam menangani Anggodo, misalnya, saya pikir KPK punya ketakutan dianggap melakukan balas dendam jika lekas-lekas memutuskan orang ini jadi tersangka. Selain itu, saya juga tidak yakin KPK akan bekerja leluasa jika tiba waktunya menangani kasus Bank Century.
Sungkan dan kikuknya KPK ini sungguh merupakan kerugian bagi anda. Mestinya anda berbahagia jika KPK makin kuat; ia bisa menjadi bagian penting dari pelunasan janji anda untuk memerangi korupsi-jika anda memang berminat menepati janji. Jika ia melemah, maka anda perlu memperkuatnya. Menurut saya, anda justru memberi peluang besar kepada pihak-pihak yang berhasrat melemahkan KPK, dan membuat kikuk institusi pemberantas korupsi itu, ketika anda membuat pernyataan bahwa KPK sudah menjadi superbody.
Salam dari saya.
A.S. Laksana
NB: Saya berharap gempa politik Century sekarang ini bukan pertanda awal bagi bencana yang bakal datang susul-menyusul sampai masa pemerintahan anda berakhir. Semoga ia bukan seperti tsunami yang mengawali rentetan bencana alam yang terjadi di sepanjang 5 tahun pemerintahan anda yang pertama.
(asy/asy)











































