Pertanyaan itu perlu, karena dari pemilu ke pemilu, perolehan suara PAN terus menurun. Pada Pemilu 1999, PAN meraih suara 7,5 juta dan 35 kursi di DPR. Berikutnya, Pemilu 2004 perolehan suara PAN turun menjadi 7,3 juta, meski kursinya naik menjadi 53.
Pada Pemilu 2009, suara PAN turun lagi menjadi 6,2 juta dan kursinya turun menjadi 48. Kali ini PAN diuntungkan oleh putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang merevisi ketentuan tentang formula perolehan kursi. Jika UU No. 10/2008 dijalankan secara konsisten, PAN hanya mendapatkan 28 kursi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PAN adalah satu-satuya partai yang saat didirikan pada 1998 mendapat sambutan antusias banyak kalangan. Sebagai pendiri sekaligus ketua umum pertama, figur Amien Rais menjai magnet besar. Maklum, Amien Rais adalah sosok utama dalam reformasi politik menjatuhkan rezim Orde Baru.
Sebagai mantan Ketua Muhammadiyah, Amien mampu melepaskan diri dari jeratan politik keagamaan, sehingga PAN menjadi partai pluralis. Tetapi pada saat yang sama warga Muhammadiyah masih menganggap PAN adalah partai politiknya. Tidak heran bila banyak pengamat memperkirakan PAN akan meraih kursi terbanyak di DPR pada Pemilu 1999, sehingga Amien Rais bisa menjadi presiden.
Pasca-Pemilu 1999, PAN dilanda perpecahan internal. Faksi politik Islam yang dipimpin AM Fatwa bersikeras untuk membawa PAN ke jalur politik Islam, mengingat konstituen PAN terbesar ada di sana. Kegigihan Fatwa membuat faksi sekuler dan non-Islam di PAN, yang dipimpin Faisal Basri, mengundurkan diri.
Namun di lapangan, partai ini harus menghadapai kenyataan lain. PAN harus berhadapan dengan PKS (jelmaan dari PK) yang jauh lebih siap. Faktanya banyak kader PKS adalah orang-orang Muhammadiyah. Ketegangan antara PAN dan PKS (dalam perebutan pengurus masjid misalnya) adalah contoh betapa PAN tidak mudah memasuki jalur Islam.
Oleh karena itu, bisa dimengerti apabila pada Pemilu 2004, perolehan suara PAN menurun sekitar 200 ribu, padahal total jumlah pemilih bertambah menjadi 30 juta dari 110 juta pada Pemilu 1999 menjadi 140 juta pada Pemilu 2004. Jika pun kursi DPR PAN naik, dari 35 menjadi 53, itu semata karena keuntungan atas hilangnya Fraksi TNI/Polri.
Pada Pemilu 2009 di bawah kepemimpinan Soetrisno Bachir, PAN menampilkan diri sebagai partai yang menghargai pilihan konsituen. Bersama Partai Demokrat, partai ini ngotot agar calon terpilih ditetapkan berdasarkan suara terbanyak. Meskipun kalah dalam proses pembahasan, namun UU No. 10/2008 akhirnya direvisi oleh MK.
Percaya dengan popularitas tokoh akan menarik banyak suara, PAN merekrut artis untuk dijadikan caleg. Menjelang Pemilu 2009, PAN berubahan menjadi Partai Artis Nasional. Toh strategi ini, secara keseluruhan gagal total. Suara PAN turun hampir 1 juta.
Nah, apa yang akan dilakukan PAN untuk meningkatkan kapasitas elektoralnya nanti? Banyak pihak yang percaya Hatta Rajasa akan menjadi ketua umum PAN. Ketokohan Hatta tentu tidak sebanding dengan Amien, meskipun dia berkali-kali jadi menteri. Kemampuan mengelola organisasi barangkali akan banyak gunanya.
Tetapi partai ini harus mampu memilih strategi elektoral yang tepat. Jika tidak, siap-siap saja masuk jeratan parlementry treshold. Sebab partai lain juga banyak berbenah.
* Didik Supriyanto, Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
(diks/iy)











































