Century & Kutukan Nostradamus
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Century & Kutukan Nostradamus

Jumat, 08 Jan 2010 10:43 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
 Century & Kutukan Nostradamus
Jakarta - Kasus Bank Century masih gulita. Panitia Khusus (Pansus) yang dibentuk menguak β€˜borok’ mulai kelelahan dan emosional. Aksi demo, β€˜diskusi’ serta pemanggilan tokoh terkait juga tidak membantu. Malah George Aditjondro yang diharap berperan sebagai hulu ledak pamungkas justru jadi bumerang.

Benarkah itu kutukan Nostradamus? Inilah β€˜guyonan mistik’ soal itu.

Kasus Bank Century dalam rumor targetnya amatlah besar. Saking besarnya target itu sampai banyak yang menyebut sebagai megalomania, β€˜pengidap kebesaran’, selain utopis. Betapa tidak. Negeri yang baru melantik presiden dan para menteri, justru disebutnya kembali terjadi suksesi. Malah dengan embel-embel,Β  tokoh-tokoh penting akan meringkuk di hotel prodeo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keyakinan itu kian mengental tatkala Pansus terbentuk. Itu disusul statemen Badan Pemeriksaa Keuangan (BPK) yang mengindikasikan sudah terjadi penyimpangan. Namun ketika pemanggilan yang terkait dan aksi demo tidak memancing reaksi rakyat, maka β€˜plan A’ terpaksa dilupakan.

β€˜Plan B’ rasional. Sasaran tembaknya jelas, Sri Mulyani dan Boediono. Dua figur itu gampang dijerat, karena sebelum menduduki posisi sebagai Menteri Keuangan dan Wakil Presiden, keduanya sebagai Gubernur Bank Indonesia dan Ketua KSSK. Strata memberinya ruang kesalahan bisa ditimpakan.

Tetapi sasaran β€˜melengserkan’ Sri Mulyani dan Boediono yang dianggap β€˜mudah dipersalahkan’ pun ternyata tidak juga kena. Di tengah waktu yang terus berpacu, lemahnya pemahaman anggota Pansus soal perbankan, dan nihilnya β€˜kesalahan’ yang bisa dikuak, maka Pansus pun oleng. β€˜Tidak jelas arah’ dan acap saling marah.

Hari-hari bersuasana β€˜damai tapi gersang’ itu membuat setiap sesuatu yang diembel-embeli Century mengundang kegaduhan. Itu selain karena sebelumΒ  β€˜dipansuskan’, bank multimasalah dan bermasalah itu telah bersemi di kisiΒ  tersembunyi, rumor tumbuh subur, dan intrik politik tidak terhindarkan.

Juga akibat Pansus yang mulai menjadi layang-layang kehilangan angin.

Maka ketika George Aditjondro β€˜Menguak Gurita Cikeas’, Sang Doktor ini diibaratkan sebagai β€˜pasukan para’. Pasukan elit β€˜penyulut mesiu’ yang ledakannya diharap mampu menyudahi β€˜lawan’. Dan jika itu terjadi, artinya β€˜Plan A’ atau β€˜Plan B’ terealisasi.

Eh, ternyata β€˜mesiu’ itu meledak mengenai diri sendiri. Gara-garanya selain informasi yang semula ramai sebatas SMS serta email gelap itu dibukukan tanpa konfirmasi, juga George terpancing emosi memukul Ramadhan Pohan, Pemimpin Redaksi Harian Jurnal Indonesia. β€˜Kriminalitas’ itu aib, menodai intelektualitas serta β€˜politisasi di balik Kasus Century’. Akibatnya berbagai pihak bereaksi. Ramai berbantah, dan tuahnya, ramai memperkarakan.

Kasus Century, kendati banyak yang berandai-andai sebagai martir suksesi, toh kini semakin kehilangan greget. Buku George yang diharap punya daya ledak mewujudkan angan-angan itu malah menjadi bumerang. β€˜Gurita’ tidakΒ  meledak berkeping-keping, tetapi berubah bentuk jadi cumi-cumi. Justru George yang β€˜meledak’.

Kisah tidak kunjung tamat dan kian β€˜tidak jelas arahnya’ itu membawa kita ke alam Nostradamus. Peramal Perancis itu memberi kutukan, wajib waspada jika bicara dan mempersoalkan β€˜Century’. Itu karena nama ini telah terlanjur dijadikan β€˜jimat’ dokter sampar itu. Ramalan 'The Century' dipakai Nostradamus untuk menandai kuatrainnya yang terus ditafsir ulang untuk melihat zaman ke depan. Dan sebagai catatan, 'The Century' pula yang telah menjatuhkan banyak orang besar salah arah.

β€˜Sakralitas Century’ memang tidak main-main. Menjelang ajal menjemput, Nostradamus kembali memunculkan kuatrain (sebait) empat baris sebagai peringatan bagi pembaca, penafsir dan β€˜pengguna’ The Century. Mereka harus berpikiran matang jika melakukan itu. Tapi jika bodoh, berpikiran profan serta vulgar wajib hati-hati karena dijamin akan terkena balak. Begitu juga paranormal dan kaum barbar yang memelesetkan kandungan ramalan dalam 'The Century'. β€œSiapa pun yang bertindak sebaliknya akan terkutuk berdasar bunyi baitnya,” begitu ancam Nostradamus.

Anggap saja ancaman Nostradamus itu guyonan. Tapi adakah itu sekadar gurauan jika Hitler yang habis memanipulasi ramalannya untuk propaganda dirinya kemudian mati bunuh diri di pelukan sang kekasih? Juga Napoleon yang diramal naik tahta dan yakin tetap gagah itu ternyata mati merana di Pulau Elba seusai menyelewengkan THe Century?

Ya, 'The Century'Β  Nostradamus memang bukan sekadar ramalan. Ia merupakan ramalan penebar bencana. Tapi adakah juga berlaku pada Bank Century?

*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. (iy/iy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads