Cara berpikir dan berargumentasi beberapa menteri dan pengelola negara terkesan mengemis, sungguh sangat menjijikkan. Hal ini bisa dilihat dari berbagai ucapan mereka tentang mobil dinas mewah.
Ambil contoh pernyataan Menkum HAM Patrialis Akbar, yang menilai bahwa kebijakan mobil dinas Toyota Crown Royal Saloon adalah merupakan penghematan uang negara (detikcom, 4/1/2010). "Jika dibandingkan dengan uang transpor hingga 5 tahun ke depan, penggunaan mobil itu menghemat beberapa ratus juta rupiah," kata dia. "Mana yang lebih baik, saya minta uang transpor Rp 10-15 juta per bulan, maka saya akan dapat Rp 900 juta selama 5 tahun...," ujarnya lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukankah ini pembodohan politik bagi generasi muda tentang arti nasionalisme? Sang Menteri harus belajar lagi tentang arti nasionalisme, bahwa mengemis kepada rakyat untuk mobil mewah sangat bertentangan dengan rasa nasionalisme Indonesia, yang heroik dan penuh kesediaan berkorban untuk rakyat. Dari pengorbanan harta sampai nyawa, semuanya demi rakyat. Bukan malah meminta-minta. Nasionalisme apa yang dimiliki menteri bermental meminta-minta seperti itu? Bukankah itu nasionalisme sontoloyo?
Apakah logika konyol seperti ini hanya terdapat pada Menkum HAM atau memang berlaku buat kebanyakan pengelola negara? Mentalitas meminta-minta uang rakyat itu disebut secara eksplisit dengan kata-katanya, "Saya minta..." Jika pemerintah dan DPR tetap bertahan untuk tidak menganulir kebijakan mobil mewah yang sangat melecehkan rasa keadilan bernegara, maka apa maksudnya cita-cita kemerdekaan seperti diamanatkan dalam Preambule UUD'45?
Keterangan penulis:
Penulis adalah Direktur ICCN Den Haag dan pengajar pada Universitas Islam Eropa, Rotterdam, Belanda. (es/es)











































