Presiden Minus 26 Persen
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolma

Presiden Minus 26 Persen

Senin, 04 Jan 2010 16:15 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Presiden Minus 26 Persen
Den Haag - Tanpa diiringi tindakan, tekad atau janji adalah omong kosong. Ngibul, kata almarhum Benyamin Sueb. Saya khawatir presiden, pemimpin nasional kita, akan kena cap demikian, terutama oleh masyarakat internasional.

Pada G-20 Summit di Pittsburgh, dunia internasional merekam pernyataan presiden, "Indonesia will reduce carbon emissions up to twenty-six (26) percent by twenty-twenty (2020)." Lalu diulang di Brussel dan Kopenhagen. Saya bersyukur, sebab ini awal baik untuk mereduksi pencemaran udara yang sudah hampir merata di semua kota di Indonesia. Terbayang, sepuluh tahun sesudahnya (2030) menjelang saya pensiun nanti mungkin sudah dapat menikmati udara kota-kota di tanah air dengan nyaman, senyaman duduk di teras di Amsterdam, tanpa setiap kali harus membersihkan lubang hidung dari jelaga hitam.

Tapi apa lacur? Tekad presiden tadi, nampaknya cuma ngibul belaka. Setidaknya begitulah kesan yang diciptakan oleh kabinet. Kebijakan pengadaan mobil kabinet dengan CC kelas berat telah mereduksi kepercayaan pada tekad presiden itu. Bagaimana bisa percaya, kalau ternyata kebijakan kabinet bukan mereduksi tapi malah memberi contoh untuk ramai-ramai menyumbang emisi karbon? Inkonsisten. Kabinet boleh punya skema REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation) dan CTI (Coral Triangle Initiative). Tapi kalau mau dinilai serius, seharusnya paling primer menindak emisi dari kendaraan bermotor, yang punya andil polusi 20 persen, diawali dari kabinet sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berkaca pada Uni Eropa (UE), mereka jauh di tahun 2005 sudah merancang proposal dan di 2007 resmi menjadi Regulation (EC) No 715/2007 yang menindak pencemaran kendaraan bermotor, demi memperbaiki kualitas udara terutama di daerah urban. Perbaikan kualitas udara ini menurut Euro 6 Regulation, akan meningkatkan benefit kesehatan 60% sampai 90%. Regulasi tidak akan efektif kalau tidak ditaati oleh pembuat kebijakan. Oleh sebab itu, para pemimpin pemerintahan dan kabinet di Eropa memberi teladan dengan gaya hidup pro lingkungan, pro planet bumi lestari.

PM Jens Stoltenberg ketika menerima presiden SBY (13/9/2006) enjoy saja berjalan kaki beberapa ratus meter ketika harus menuju suatu gedung. Presiden SBY, yang di Jakarta biasa dimanjakan oleh protokoler dengan mobil kepresidenan atau golfcar untuk jarak beberapa puluh meter di lingkungan istana, mau tak mau mengikuti Stoltenberg mengayunkan kaki berjalan. Di Belanda sebagian besar anggota parlemen dan kabinet kalau ngantor biasa bersepeda atau naik transportasi umum. Konsep mobil dinas juga pro lingkungan: diwarisi dari kabinet sebelumnya atau CC-nya disesuaikan. Mau memperbaiki orang lain dan dunia memang harus dimulai dari diri sendiri. Beri teladan, baru orang lain bisa percaya, mengikuti dan menjalankan. (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads