Apa pun vonis yang akan dijatuhkan pada Prita, bebas atau dipenjara, kemenangan ada di pihak perempuan muda yang kini tengah hamil tiga bulan itu. Bukan karena dia personifikasi hak-hak konsumen dan ancaman padanya juga dipersepsi sebagai ancaman pada kemerdekaan berpendapat. Bukan pula karena dia seorang perempuan, yang memantik pembelaan jutaan orang, melainkan karena substansi perkara yang ditimpakan padanya terlihat mengada-ada dan mengesankan ada kolusi dan persekongkolan.
Jika Prita dipenjara, RS Omni tidak menang. Sebaliknya jika Prita divonis bebas, maka pihak RS Omni akan kalah kuadrat. Kerugian citra sebagai penyedia jasa kesehatan, tak akan tergantikan oleh vonis penjara Prita. Fakta-fakta kasus Prita melekat kuat di benak publik luas, yang oleh RS Omni justru telah dibuat menjadi hantu. Orang didorong berpikir, nanti kalau saya mengeluh soal pelayanan seperti Prita, saya pasti akan dipenjara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seandainya dulu Prita didekati secara personal, didengar dan diperhatikan apa keluhannya, maka masalah bisa dilokalisir dan citra RS Omni justru akan naik. Prita bahkan bisa tersentuh, lalu menarik kembali emailnya, yang sesungguhnya masih beredar di kalangan terbatas. Tapi dengan memperkarakan Prita, maka yang terjadi justru sebaliknya. Konsumen mengeluhkan pelayanan kok mau dipenjara. Diberangus, dibungkam. Orang ikut merasa terancam. Prita pun memanen jutaan cinta. Dan kekuatan cinta ini mengalahkan segalanya, Omnia vincit amor...
Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(es/es)











































