Nasihat ini diawali oleh panggilan telepon yang mengganggu tidur saya. Seorang teman lama, yang sekarang menjadi dosen di UPN 'Veteran' Yogyakarta, meminta saya mengisi acara pelatihan menulis feature mitigasi bencana, Minggu (13/12). Setengah tertidur, saya mengiyakan saja agar telepon cepat-cepat ditutup dan saya bisa tidur lagi. Dan keputusan yang saya bikin dalam keadaan setengah tidur itu membuat saya tidak bisa menghindar pada hari berikutnya.
Saya berangkat ke Yogya, sepanjang jalan memikirkan apa yang terbaik bisa saya sampaikan dalam pelatihan itu, dan saya merasa sangat beruntung satu forum dengan Dr. Eko Teguh Paripurno. Ini perjumpaan pertama saya dengannya. Ia ahli manajemen bencana, dan benar-benar ahli dalam urusan tersebut. Dalam pelatihan itu kami saling mengimbangi: ia menyampaikan apa yang jarang didengar orang, saya menyampaikan apa yang sudah sering didengar orang. Klop.
Β
Ia bilang bahwa pemberitaan media massa tentang bencana salah semua. Pikir saya, brengsek sekali orang ini. Tetapi tidak saya sampaikan kepadanya isi pikiran saya. "Hampir semua media melakukan tindakan klise dalam memberitakan bencana," katanya. "Dan melodramatik."
Saya langsung teringat lagu Ebiet G. Ade, "Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih...." Berkali-kali terjadi bencana alam sepanjang lima tahun pertama pemerintahan Pak SBY, berkali-kali kita disuguhi nyanyian Ebiet. Mungkin variasi untuk itu adalah "Badai Pasti Berlalu."
Itu respons spontan media, dalam hal ini televisi, begitu terjadi bencana apa saja: mereka memberi nasihat, melalui Ebiet, kita mesti telanjang. Mungkin memang kurang menghibur jika berita bencana tidak diiringi lagu Ebiet. Lagu "Online, online..."-nya Saykoji barangkali bisa juga menghibur, tetapi tidak tepat.
Setelah lagu Ebiet, kata Pak Doktor, kita lalu disuguhi pertanyaan-pertanyaan oleh wartawan yang akan membuat korban bencana sedih, menangis, diam sebentar, sedih lagi, menangis lagi. Pola pemberitaannya begitu terus dari bencana ke bencana. Seolah-olah tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh media massa kecuali menunggu saja terjadinya bencana besar dan memproduksi melodrama dari kejadian itu.
Saya kira karena media beriman pada ketentuan suci good news is bad news," kata saya.
"Dalam urusan ini, no news is good news," katanya.
Setelah melaporkan jumlah korban, media massa biasanya lantas mencari-cari melodrama yang bersifat spiritual. Dalam bencana tsunami, misalnya, ketika ada masjid yang bisa tetap tegak, kita diarahkan untuk berpikir bahwa itu karena Tuhan melindungi rumah-Nya. Dari sudut pandang lain, menurutnya, kita mestinya bisa mengatakan bahwa itu karena konstruksi masjid bagus ("Orang takut mengkorupsi pembangunan masjid; takut neraka dia," katanya.). Dalam cara pandang dia, masjid adalah bangunan terbuka dengan pilar-pilar yang kokoh. Jadi, air dipersilakan lewat saja, tanpa menghantam tembok yang menghalangi jalannya.
Kesimpulannya: "Mengatakan bencana sebagai takdir semata-mata adalah sebuah tindakan menghindari tanggung jawab. Itu berarti kita menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam. Padahal yang terjadi adalah salah urus, dan selama ini kita abai, kita tak punya patokan."
Sekarang, inilah nasihat saya untuk Staf Khusus bidang Bencana: Orang yang mendalami menajemen bencana seperti Dr. Eko Teguh ini saya kira perlu dijadikan teman dan digali pemikirannya. Ia punya gagasan yang masuk akal tentang bagaimana memahami karakteristik bencana, bagaimana menyiapkan tindakan pencegahan, kebijakan publik macam apa yang tepat untuk meningkatkan kapasitas keselamatan warga di daerah rawan bencana, dan apa yang bisa dilakukan untuk memperkecil dampak bencana.
Mengenai pola pemberitaan media massa, saya kira Dr. Eko harus bertarung alot dengan mindset para pengelola media dan pandangan dunia (world view) mereka yang klise dan melodramatik. Ia harus gigih memasarkan gagasan-gagasannya, mungkin sampai bibirnya jontor.
*) A.S. Laksana, penulis dan cerpenis tinggal di Jakarta.
(asy/asy)











































