Saran Membangun untuk Presiden
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Saran Membangun untuk Presiden

Sabtu, 12 Des 2009 13:03 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Saran Membangun untuk Presiden
Jakarta - Karena berisiko memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa yang hebat ini kalau saya menyinggung-nyinggung Pak Presiden, Ibu Ani, dan keluarganya, maka saya putuskan saja bahwa hari ini saya akan menyampaikan saran yang bersifat membangun. Adapun saran membangun versi saya bentuknya hanyalah catatan kecil. Akan sengsara saya kalau dituntut melakukan hal-hal berat dan rasa-rasanya muskil saya lakukan, misalnya, melatih kesebelasan nasional agar menjadi jagoan, atau paling tidak agar tidak cepat-cepat pulang kandang dalam berbagai turnamen yang diikuti.

Untuk urusan yang terakhir itu, teman saya yang tinggal di Aceh (minggu lalu saya ke sana dan berjumpa dengannya) lebih bisa memberi saran yang mungkin patut dipertimbangkan. "Menurut saya bubarkan saja PSSI," katanya.

Sebagai penggemar sepakbola, saya tidak setuju. Kalau PSSI dibubarkan, nanti para bonek harus nonton apa? Tetapi dia bilang, "Digelontor dana berapa pun besarnya, sia-sia saja merawat PSSI. Lebih baik uangnya digunakan untuk urusan lain yang lebih bermanfaat".

Saya tetap tidak sepakat. Apa jadinya Republik ini tanpa PSSI?

Nah, soal catatan kecil saya, karena salah satu program andalan Pak SBY mungkin adalah penegakan hukum, catatan-catatan kecil ini pun akan saya sesuaikan dengan program andalan tersebut. Hari ini, saya akan menyampaikan tiga catatan kecil, yaitu:

1.Apa kabarnya Anggodo sekarang? Ini catatan yang cukup penting untuk disampaikan; saya yakin banyak orang yang ingin tahu kabar kawan satu ini.

2.Saya agak menyesalkan bahwa Nenek Minah, pemetik tiga butir kakao, hanya dijatuhi hukuman 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan tiga bulan. Menurut saya seharusnya dia juga didenda Rp240 juta seperti Prita. Itu akan membuat banyak orang dan juga partai-partai politik beramai-ramai menyumbang. Dua pihak akan sama-sama mendapatkan keuntungan di sini. Kalau jumlah sumbangannya berlebih, misalnya ada sisa Rp6,7 miliar, Nenek Minah tentu tidak perlu lagi memetik 3 butir kakao. Partai politik pun punya tabungan untuk modal kampanye 5 tahun mendatang: "Pilih kami. Kami penyumbang terbesar". Dengan vonis yang cuma segitu, Nenek Minah malahan rugi. Menurut pengakuannya, ia malahan didatangi orang yang mengaku polisi dan meminta uang untuk biaya sidang. "Saya sampai harus pinjam uang ke tetangga Rp50 ribu," kata Nenek Minah.

3.Soal salah tangkap oleh polisi dan sanksi bagi aparat. Ini menyangkut nasib buruk kawan saya, J.J. Rizal, yang dikeroyok dan dipukuli oleh sejumlah polisi di Depok. Rizal, asli Betawi, adalah seorang sejarawan mudah yang punya ketekunan. Ia mendirikan dan mengelola penerbitan buku-buku sejarah yang tak banyak diperhatikan oleh penerbit-penerbit besar. Tapi para polisi pengeroyok, yang mungkin tak akrab dengan buku-buku terbitan Rizal, menganggapnya anggota gerombolan kriminal. Akhirnya, kengawuran mereka dan tindakan menghajar orang yang telah mereka lakukan, diganjar dengan sanksi ringan saja. Mereka dihukum kurungan dan mutasi. Yang terberat adalah 21 hari.

Itu saran membangun dari saya. Mengenai kasus Century, tidak ada saran hari ini; itu kasus yang bisa memecah belah. Silakan Presiden menegakkan hukum dengan kualitas aparat yang lebih baik.


*) A.S. Laksana, penulis dan cerpenis tinggal di Jakarta.


(djo/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads