Informan terpercaya ini tinggal di sebelah rumah saya; umurnya 60-an dan sejak dua tahun lalu menjadi duda karena istrinya meninggal. Hampir setiap hari ia memasok kabar, kebanyakan tanpa saya minta, tentang siapa perempuan yang sedang ia kejar untuk dijadikan istri. Itu tema utama pembicaraannya.
Tentu saja tetangga saya itu juga seorang analis politik, tidak beda dengan tetangga-tetangga anda. Kabar terakhir yang dibawa si Engkong adalah soal camat kami yang menjadi tersangka korupsi dana pemberantasan buta huruf. Selesai topik kecamatan, ia menggeser pembicaraan tingkat nasional, yakni tentang Ibu Ani Yudhoyono yang dijagokan memimpin Partai Demokrat (PD).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βYa, saya tahu anda pasti sudah menduganya,β kata saya. βDan bagaimana anda bisa menduga begitu tepat?β
βItu mudah sekali,β katanya. βSama mudahnya dengan hitungan 2+2 = 4.β
βJadi karena 2+2 = 4, maka Ibu Ani Yudhoyono pasti akan dipilih menjadi ketua umum Demokrat?β
βBukan begitu. Maksud saya, waktu Pak SBY mau maju sebagai presiden, yang jadi ketua partai kenalannya. Lalu Pak SBY menang, terpilih jadi presiden untuk pertama kali, kenalannya diganti iparnya. Sekarang Pak SBY menjadi presiden kedua kali, siapa lagi yang lebih tepat menggantikan posisi ipar selain istrinya?β
βTapi belum tentu Pak SBY setuju. Saya dengar ia membatasi peluang keluarganya meneruskan kepemimpinan partai.β
βKalau partai maunya dipimpin Ibu Ani Yudhoyono, Pak SBY bisa apa?β
βSebagai suami, saya kira dia bisa saja melarang istrinya ikut-ikutan berpolitik.β
βItu suami zaman kuno. Tidak bisa begitu sekarang. Bisa dilaporkan melanggar HAM kalau dia sampai melarang-larang istrinya.β
Saya hanya mengangguk-angguk. Menghadapi analis politik seperti ini anda tidak bisa apa-apa selain mengangguk-angguk. Apa yang bisa diperdebatkan?
βKarena itu 2+2 = 4?β tanya saya sekenanya.
βSemuanya pasti begitu,β katanya lagi. βBu Mega pun begitu; pasti nanti anaknya yang dijadikan ketua partai. Siapa lagi kalau bukan anaknya? Dan semua orang di partainya pasti mendukung.β
Dengan kalimat yang penuh kata βpastiβ, si Engkong membuat saya semakin tidak berkutik. Cepat atau lambat, saya kira saya akan jatuh klenger atau sempoyongan seperti petinju mabuk pukulan. Tapi saya masih mencoba mengayunkan jab ringan ke arahnya: βGus Dur juga punya anak.β
βPak Gus Dur pun begitu. Dulu ponakan-ponakannya dia majukan; lalu ribut melulu antara paman dan ponakan. Sekarang anaknya yang maju ke mana-mana.β
βMasih ada lagi? Atau cuma tiga itu?β
βYang lain belum pernah jadi presiden.β
βJadi tak usah dibicarakan yang belum pernah jadi presiden.... Sekarang, ada soal lain, anda sudah dengar Pak SBY berniat menjadi presiden selama 6 kali masa jabatan?β pancing saya.
βOh, itu melanggar aturan, tidak boleh. Sekarang orang cuma boleh dua kali menjadi presiden.β
βMaksudnya begini, Pak SBY dua kali, selesai. Dilanjutkan oleh Bu SBY dua kali, selesai. Dilanjutkan lagi nanti oleh anak Pak SBY dua kali, selesai. Jadi 6 kali seluruhnya.β
βKalau itu saya sudah menduganya. Semua juga pasti begitu.β
Apa boleh buat, sekarang saya benar-benar klenger menghadapi analis politik yang sedang berkotbah di teras rumah saya ini. Ia selalu βsudah mendugaβ segala hal. Atau, jangan-jangan ia benar bahwa kaum politisi memang orang-orang yang seperti itu: langkah-langkah mereka selalu mudah ditebak dan karena itu membosankan?
*) A.S. Laksana, penulis dan cerpenis tinggal di Jakarta.
(iy/iy)











































