Ibu Ani & Langkah Politik yang Mudah Diduga
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Ibu Ani & Langkah Politik yang Mudah Diduga

Rabu, 09 Des 2009 16:57 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ibu Ani & Langkah Politik yang Mudah Diduga
Jakarta - Ketika kabar apa pun berseliweran membingungkan, anda akan membutuhkan sesuatu yang pasti sebagai pegangan. Untuk hal tersebut saya beruntung mempunyai sumber informasi yang bisa saya percaya kebenarannya, setidaknya di tingkat kampung. Ini penting, sebab kalau di tingkat kampung pun tidak ada yang bisa anda percaya, kiamat sudah.

Informan terpercaya ini tinggal di sebelah rumah saya; umurnya 60-an dan sejak dua tahun lalu menjadi duda karena istrinya meninggal. Hampir setiap hari ia memasok kabar, kebanyakan tanpa saya minta, tentang siapa perempuan yang sedang ia kejar untuk dijadikan istri. Itu tema utama pembicaraannya.

Tentu saja tetangga saya itu juga seorang analis politik, tidak beda dengan tetangga-tetangga anda. Kabar terakhir yang dibawa si Engkong adalah soal camat kami yang menjadi tersangka korupsi dana pemberantasan buta huruf. Selesai topik kecamatan, ia menggeser pembicaraan tingkat nasional, yakni tentang Ibu Ani Yudhoyono yang dijagokan memimpin Partai Demokrat (PD).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œSaya sudah menduga hal itu,” katanya. β€œPasti akan begitu.”

β€œYa, saya tahu anda pasti sudah menduganya,” kata saya. β€œDan bagaimana anda bisa menduga begitu tepat?”

β€œItu mudah sekali,” katanya. β€œSama mudahnya dengan hitungan 2+2 = 4.”

β€œJadi karena 2+2 = 4, maka Ibu Ani Yudhoyono pasti akan dipilih menjadi ketua umum Demokrat?”

β€œBukan begitu. Maksud saya, waktu Pak SBY mau maju sebagai presiden, yang jadi ketua partai kenalannya. Lalu Pak SBY menang, terpilih jadi presiden untuk pertama kali, kenalannya diganti iparnya. Sekarang Pak SBY menjadi presiden kedua kali, siapa lagi yang lebih tepat menggantikan posisi ipar selain istrinya?”

β€œTapi belum tentu Pak SBY setuju. Saya dengar ia membatasi peluang keluarganya meneruskan kepemimpinan partai.”

β€œKalau partai maunya dipimpin Ibu Ani Yudhoyono, Pak SBY bisa apa?”

β€œSebagai suami, saya kira dia bisa saja melarang istrinya ikut-ikutan berpolitik.”

β€œItu suami zaman kuno. Tidak bisa begitu sekarang. Bisa dilaporkan melanggar HAM kalau dia sampai melarang-larang istrinya.”

Saya hanya mengangguk-angguk. Menghadapi analis politik seperti ini anda tidak bisa apa-apa selain mengangguk-angguk. Apa yang bisa diperdebatkan?

β€œKarena itu 2+2 = 4?” tanya saya sekenanya.

β€œSemuanya pasti begitu,” katanya lagi. β€œBu Mega pun begitu; pasti nanti anaknya yang dijadikan ketua partai. Siapa lagi kalau bukan anaknya? Dan semua orang di partainya pasti mendukung.”

Dengan kalimat yang penuh kata β€œpasti”, si Engkong membuat saya semakin tidak berkutik. Cepat atau lambat, saya kira saya akan jatuh klenger atau sempoyongan seperti petinju mabuk pukulan. Tapi saya masih mencoba mengayunkan jab ringan ke arahnya: β€œGus Dur juga punya anak.”

β€œPak Gus Dur pun begitu. Dulu ponakan-ponakannya dia majukan; lalu ribut melulu antara paman dan ponakan. Sekarang anaknya yang maju ke mana-mana.”

β€œMasih ada lagi? Atau cuma tiga itu?”

β€œYang lain belum pernah jadi presiden.”

β€œJadi tak usah dibicarakan yang belum pernah jadi presiden.... Sekarang, ada soal lain, anda sudah dengar Pak SBY berniat menjadi presiden selama 6 kali masa jabatan?” pancing saya.

β€œOh, itu melanggar aturan, tidak boleh. Sekarang orang cuma boleh dua kali menjadi presiden.”

β€œMaksudnya begini, Pak SBY dua kali, selesai. Dilanjutkan oleh Bu SBY dua kali, selesai. Dilanjutkan lagi nanti oleh anak Pak SBY dua kali, selesai. Jadi 6 kali seluruhnya.”

β€œKalau itu saya sudah menduganya. Semua juga pasti begitu.”

Apa boleh buat, sekarang saya benar-benar klenger menghadapi analis politik yang sedang berkotbah di teras rumah saya ini. Ia selalu β€œsudah menduga” segala hal. Atau, jangan-jangan ia benar bahwa kaum politisi memang orang-orang yang seperti itu: langkah-langkah mereka selalu mudah ditebak dan karena itu membosankan?


*) A.S. Laksana, penulis dan cerpenis tinggal di Jakarta.

(iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads