Hannah Arendt menulis, bila pemimpin mulai menebar teror dan ketakutan pada rakyatnya sendiri, kemungkinan besar ia tengah membangun pemerintahan otoriter lewat ketakutan itu tadi. Alhasil, masyarakat takut tersebut mudah dikendalikan. Terbukti dibeberapa negara, teror tersebut menjadi alat efektif mendisiplinkan massa, menggebuk oposisi, dan mengkontrol kebebasan media.
Kemudian, usai semuanya dikuasai, kekuasaan (power) menjadi personifikasi pemimpin. Kemauan pemimpin dikaburkan menjadi kehendak bersama. Bila ada yang menentang, ia dituduh melawan "suara rakyat" dan sah untuk dibungkam atau dilenyapkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertanyaanya, seberapa lama sistem tersebut berjalan? Itu yang sulit diukur. Kondisi internal dan eksternal serta masyarakat internasional sangat mempengaruhi kelangsungan sistem diktator. Hanya saja, satu idiom terkenal selalu mengingatkan kita. Bahwa kekuasaan tidak terkontrol cenderung korup. Korupsi inilah yang akan mendorong sistem itu ambruk cepat atau lambat.
Pak SBY, semoga Anda tidak terjebak dalam fase awal orde teror itu !
Ari Saputra: wartawan detikcom, tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mencerminkan sikap perusahaan.
(Ari/iy)











































