Bagi saya kabar itu terasa gelap karena saya tidak tahu apa program Presiden. Maka, apa yang disebut 'memuaskan' itu juga tak mudah diyakini karena kita, atau tepatnya saya, tidak mengerti kriteria keberhasilan atau kegagalannya. Di situs resmi Presiden SBY, saya tidak menjumpai apa program utama Pak Presiden.
Padahal, tanpa tahu apa programnya, dan apa kebijakan-kebijakan pendukungnya, saya dan anda atau siapa pun tentu bisa saling cakar memperdebatkan kata 'memuaskan' itu. Dan memang itulah yang sedang terjadi hari-hari ini. Satu pihak akan dengan gampang menyerukan 'Turunkan SBY', sementara dari arah seberang akan terdengar seruan balasan, "Fitnah! Semoga go to hell orang-orang tukang fitnah itu!"
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya kira urusannya akan lain sekiranya Presiden bisa secara terang-benderang memaparkan program dan kebijakan-kebijakan yang mendukung program tersebut. Hal semacam ini dilakukan oleh Barack Obama. Jika anda membuka situs Presiden Amerika itu, dengan sekali klik anda bisa membaca apa Rencana Obama untuk warga Amerika.
Dan itu hanya satu rencana andalan, yakni program kesehatan. Di situ Obama membuat tiga pembagian. Pertama, untuk warga negara yang punya asuransi kesehatan, ada tujuh butir kebijakan. Kedua, untuk warga negara yang tidak punya asuransi kesehatan, ada lima butir kebijakan. Ketiga, untuk semua warga negara AS, ada enam butir kebijakan.
Dengan rencana yang gamblang, dan butir-butir kebijakan yang bisa dijalankan, saya bayangkan pemerintahan Obama akan lebih mudah untuk dikoreksi dan diuji keberhasilan atau kegagalannya. Dan itu membuat siapa pun tidak sulit membedakan mana fitnah dan mana kritik atas kegagalan pemerintah.
Sayangnya, Pak SBY tidak punya rencana segamblang itu. Oh, tunggu dulu, saya keliru rupanya. Setelah njlimet membuka-buka seluruh menu situs Presiden SBY, saya akhirnya menemukan apa yang saya cari. Di situs itu, ada transkripsi keterangan pers Presiden tentang program 100 hari yang isinya, β...saya menetapkan dalam 100 hari ini, ada 45 program penting, program aksi yang akan pemerintah jalankan di seluruh tanah air yang berkaitan dengan pembangunan sektoral dan pembangunan regional.β
Memang agak sulit memastikan apa itu pembangunan sektoral dan apa yang dimaksud pembangunan regional, tapi mari kita lanjutkan, "Dari 45 program aksi itu, saya menetapkan 15 di antaranya saya sebut dengan program pilihan yang ini lebih mendesak untuk betul-betul kita laksanakan pada 100 hari ini."
Presiden kemudian menjelaskan ke-15 program "pilihan" yang "lebih mendesak" itu. Saya persilakan anda membaca sendiri di situs resmi Presiden, sebab saya tidak berani menyarikannya. Itu pekerjaan yang berisiko mengingat pidato Presiden sungguh meliuk-liuk dan sulit disarikan. Lagipula, saya takut dianggap memfitnah jika salah meringkas.
Paling-paling saya hanya bisa menyebutkan bahwa Presiden bicara tentang pemberantasan mafia hukum, revitalisasi industri pertahanan, listrik, pembenahan keruwetan penggunaan tanah dan tata ruang, perubahan iklim, mismatch dalam pendidikan, dan sebagainya sampai genap lima belas. Tiga puluh program lain tidak dijelaskan. Saya kira bukan karena program-program itu tidak penting-semua program Presiden kategorinya adalah penting, sangat penting, dan pilihan-tetapi jika Presiden menjelaskan semuanya, pastilah ia harus berpidato seharian.
Rampung membaca, saya bingung program mana sesungguhnya yang menjadi prioritas Pak Presiden kita dan ia benar-benar bisa mewujudkannya. Tentu saja program yang berguna dan masuk akal, yang paling dibutuhkan oleh seluruh warga negara, dan yang kita bisa terlibat dalam menguji keberhasilan atau kegagalannya. Tanpa itu, saya kira laporan Kuntoro tentang kinerja pemerintah yang memuaskan bisa saja kita sebut sebagai fitnah.
Seperti apa tepatnya kinerja yang memuaskan itu? Ini pertanyaan 'pilihan'-meminjam kosa kata Presiden-dan laporan Kuntoro akan berhadapan langsung dengan berita-berita tentang polisi yang masih saja salah tangkap, petani yang ditembaki karena protes, rusaknya ekologi kawasan (Sukabumi yang dulu merupakan sumber air kini selalu kekeringan karena air tanahnya disedot oleh 14 perusahaan air mineral), pelajar yang banyak menjadi pelacur (berita terbaru, 25 persen pelacur di Sukabumi adalah pelajar yang tergiur hidup mewah), skandal para politisi, transportasi yang tidak aman, calo di segala lapangan, TKI yang dianiaya, dan sebagainya.
Menurut saya, Presiden perlu tahu bahwa rasa frustrasi orang banyak bukanlah fitnah. Itu adalah fakta yang berpotensi memperbesar ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah, yakni ketika rakyat tiba pada kesimpulan bahwa pemerintah tidak mampu.
*) A.S. Laksana, penulis dan cerpenis tinggal di Jakarta (asy/asy)











































