Tentang Saran yang Wajar kepada Presiden
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Tentang Saran yang Wajar kepada Presiden

Senin, 30 Nov 2009 14:09 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Tentang Saran yang Wajar kepada Presiden
Jakarta - Beberapa orang mengecam surat terbuka yang saya tulis untuk Presiden, beberapa sepakat dengan saya, dan beberapa yang lain menganggap bahwa saya melakukan tindakan sia-sia. Itu reaksi yang lazim-lazim saja saya kira. Beberapa teman dekat mengirimi saya SMS. Dan salah seorang menyempatkan diri menelepon saya kemarin malam; kami bicara agak panjang.

"Kau terkesan memojokkan SBY, Bung," katanya.

"Saya memberi saran," kata saya. "Pak SBY adalah presiden Republik Indonesia dan saya warga negara. Langsung atau tidak langsung performa pemerintahannya akan membawa pengaruh bagi kehidupan saya, demikian pula bagi kehidupan setiap warga negara ini. Saya kira saya telah mengirimkan saran ke alamat yang tepat."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pembaca yang kritis terhadap SBY mungkin bisa sepakat dengan apa yang kautulis, tetapi pendukung SBY kurasa tidak mungkin menyukai isi suratmu."

"Dan apa yang mereka sukai?"

"Itu harus kautanyakan sendiri kepada mereka. Tapi, bagaimanapun, tulisanmu bisa saja dianggap sebagai bagian dari upaya merongrong kewibawaan Presiden."

Itu pendapat yang mengejutkan. Saya hanya mengingatkan Presiden tentang satu hal, yakni iklan "go to hell" yang memosisikan diri sebagai pendukungnya, dan menyampaikan saran yang perlu saya sampaikan. Saya merasa teman saya ini agak mengada-ada.

"Kau sudah membaca surat saya?"

"Teman-teman membicarakannya. Aku sendiri belum membaca, tapi aku hapal dengan gayamu, lah."

"Jadi kau bisa tahu apa yang saya tulis karena kau hapal gaya saya?" Satu jam kemudian ia menelepon lagi.

"Aku sudah membacanya," katanya. "Ada bagian yang aku bisa sepakat, dan ada bagian yang aku tidak bisa sepakat."

"Saya kira Presiden juga begitu. Ada yang dia bisa sepakat dan ada yang dia tidak bisa sepakat. Dan tak ada masalah dengan itu. Kau tidak bisa seratus persen mengunyah apa pun saran orang seperti kanak-kanak melahap manisan, kan?"

"Ini pertanyaan serius, kenapa kau menulis surat terbuka macam itu?"

"Oh, itu yang kau tidak sepakat?"

"Mereka mempertanyakan kau ini siapa, apa hakmu menulis surat semacam itu kepada Presiden, dan tahu apa kau tentang urusan Presiden."

"Dan menurut mereka apa hak saya?"

"Yah..., ini juga harus kautanyakan sendiri kepada mereka."

"Oke. Di luar itu, bagaimana kalau pertanyaannya saya balik: tahu apa Presiden tentang kehendak rakyat Indonesia?"

"Guyonanmu semacam inilah yang kurasa bisa tidak menyenangkan."

"Aku bersungguh-sungguh. Kautahu, setiap kandidat presiden dalam pemilu kemarin mencitrakan dirinya sebagai orang yang paling dekat dengan rakyat, paling tahu kehendak rakyat, dan paling bisa memenuhi harapan rakyat. Semuanya suka berfoto bersama orang-orang melarat, datang ke sawah, bertandang ke tempat-tempat kumuh, mampir ke warung-warung. Semuanya meminta dukungan rakyat. Pertanyaannya, apakah setelah jadi presiden Pak SBY tidak memerlukan lagi dukungan rakyat? Apakah ia akan pukul rata menganggap setiap saran dan kritik sebagai fitnah atau manuver politik atau, sebaliknya, sebagai kehendak baik untuk memperkuat pemerintahannya?"

"Aku hanya mencoba memahami orang-orang yang tidak sepakat denganmu."

"Dan apa yang kaupahami?"

"Ya, itu tadi, mereka tidak suka apa yang kautulis."

"Kau sendiri?"

"Aku sama dengan penulis email yang pernah kauceritakan tempo hari. Jangan-jangan kau memang sedang menjadi Don Kisot yang merasa bertempur dengan raksasa, tetapi sesungguhnya hanya bertarung melawan kincir angin."

"Kalau begitu jawaban saya juga sama. Saya sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Don Kisot yang terus dikenang orang sepanjang empat abad hingga sekarang. Yang saya lakukan hanyalah hal kecil yang bisa dilakukan semua orang, yakni menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Dan, di atas semua itu, saya tak pernah membayangkan presiden kita adalah kincir angin. Ia presiden yang pernah berjanji memberikan yang terbaik ketika kampanye, dan karena itulah sesekali rakyat perlu mengingatkannya."

*) A.S. Laksana, penulis dan cerpenis tinggal di Jakarta

(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads