Geger terus berlanjut. Kian hari diikuti kian tidak jelas siapa yang salah dan benar. Malah dari hari ke hari semakin mengentalkan asumsi, bahwa banyak pihak 'bermain', tapi gagal 'memainkan' karena distribusi dana macet, tidak terdistribusikan.
Itu alasan, kenapa ribut tak henti-henti itu dipahami rakyat sebagai keonaran. Onar soal duit sogokan, yang gara-gara duitnya 'gagal' disogokkan karena 'dimakan' Ari Muladi, tersulut keributan. Tidak salah jika pandom rakyat, konklusi rakyat menyamaratakan, bahwa semua 'penegak hukum' negeri ini tidak berdiri tegak. Selalu ada pamrih. Pamrihnya uang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah pertanyaan yang melahirkan tanda tanya itu, sandaran rakyat akhirnya ke dunia lambang. Sebuah area polyinterpretable yang bebas merdeka ditafsir suka-suka. Situasi tidak kondusif yang membiaskan karakter Togog dan Semar, serta belum transparannya kebaikan dan keburukan itu diyakini mendekati titik akhir.
Tapi mengapa 'bertanya' ke jagat lambang? Itu karena lambang dari 'dunia antah-berantah' itu langsung punya jawaban. Pisau analisis moral tidak debatable. Soalnya menimbang dengan hati. Menelisik pancaran mata, roh kata-kata, serta gesture tubuh yang berseteru bersaksi. Dari 'pembedahan' metafisis ini salah dan benar implisit tampil sebening kaca.Β
Dalam dunia lambang, kondisi ruwet sekarang ini masuk episode goro-goro. Sebuah situasi tidak kondusif sebelum harmoni kembali hadir. Lakon dalam goro-goronya mengambil latar Nggugah Kresno Topo, membangunkan Bathara Kresna yang sedang bertapa. Di lakon ini watak 'penggugah' tampil telanjang. Dan watak itulah jawaban hari depan, takdir yang bersangkutan.Β
Dalam lakon itu, Duryudono membangunkan Kresna sambil memukuli Sang Nata dengan pohon. Kalau Kresna tidak bangun, sesepuh Pandawa itu akan mati dengan tubuh remuk. Saat itulah 'suara langit' bicara sebaliknya. Ini refleksi 'ngunduh wohing pakarti'. Memanen yang ditanam, melukiskan kematiannya dalam Perang Bharatayuddha kelak dengan kepala hancur.
Tampil Adipati Karno. Saudara Pandawa Lima yang berpihak pada Kurawa ini melempar muka Kresna dengan kotoran. Ini sebagai gambaran kematian ksatria yang dilahirkan lewat kuping itu mati dengan kepala terpenggal. Sedang Patih Sengkuni yang culas melempari tubuh Kresna dengan kulit pisang sebagai simbolisasi kematiannya tragis dengan badan dikuliti.
Bagaimana dengan Arjuna dari Amarta? Dia tidak melakukan kontak fisik. Ksatria banyak istri ini membangunkan dengan rogo sukma. Meninggalkan tubuh wadag, sukmanya berkelana di Jagat Awang-uwung, mengajak roh titisan Bathara Wisnu kembali memasuki jasad Kresna.
Dalam konteks 'keributan' sekarang ini, Kresna adalah lambang kebenaran sejati. Dalam Islam disebut kebenaran Ilahiah. Tak ada manusia yang tahu siapa salah dan siapa yang benar selain Gusti Allah dan yang menjalani.
'Kebenaran sejati' telah dibangunkan. Dia membawa takdir (konsekuensi) sendiri. Takdir mendua berujud berkah dan musibah. Terus siapakah yang bakal menerima takdir itu? Hendarman Supanji, Kapolri Bambang Danuri, Antasari Azhar, Williardi Wizard, Susno Duaji, Bibit-Chandra, Sri Mulyani, Boediono atau Susilo Bambang Yudhoyono?
Yuk kita sama-sama mengikuti dan mencocok-cocokkan 'takdir' mereka dengan kemiripan lakon Kresno Gugah.
*) Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(asy/asy)











































