Kabinet Pelangi & Koor Amin-amin
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kabinet Pelangi & Koor Amin-amin

Senin, 26 Okt 2009 10:55 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kabinet Pelangi & Koor Amin-amin
Jakarta - ‘Pemerintahan baru’ terbentuk. Penggerak roda telah tersusun. Asal para menteri bervariasi. Warna-warni karena kabinet pelangi. Indah dipandang sekaligus ‘menentramkan’. Tentram hari ini dan esok akibat kuasa sampai lima tahun ke depan ‘rata’ dibagi-bagi.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melantik sederet menteri untuk duduk di Kabinet Indonesia Bersatu babak dua. Para menteri itu berasal dari partai politik, profesional, dan sebagian lagi orang-orang yang terlibat dalam tim sukses saat kompetisi dalam Pemilu Presiden (Pilpres) lalu.

Komposisi para pembantu presiden itu kian meyakinkan, bahwa pengebirian macan galak, kambing congek, bebek yang suka merengek berjalan dengan sempurna. Partai tipe satwa macam itu kehilangan watak asli. SBY jeli dan  bertindak taktis. Menerapkan ‘politik timur’. Memberi posisi bagi yang ‘membantu’ agar tidak muncul Suro dan Nambi di era Majapahit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Strategi macam ini memang sangat ampuh. Itu gaya pawang menciptakan ketergantungan. Satwa ‘yang dibina’ diberi makan sekadarnya agar tetap hidup. Dan kalau berbuat macam-macam jatah itu dikurangi atau ditiadakan. Para menteri SBY disuruh menandatangani kontrak politik.

Lima tahun ke depan situasi politik negeri ini diprediksi ‘aman dan tentram’. Gagasan dan tata laksana eksekutif diindikasikan berjalan lancar. Jangan lagi bermimpi ada nada sumbang di parlemen. Apalagi banjir interupsi kala SBY dan pembantunya sedang laporan.

Tradisi koor massal di jaman Orde Baru kini sedang disetting ulang. Sastra puja yang biasa digunakan para pujangga menaikkan aura raja lagi diotak-atik untuk dipraktekkan. Jika masanya tiba, pidato presiden akan berubah jadi mantra. Menghipnotis semuanya bersatu-padu membuka kedua telapak tangan. Dan hanya kata amin, amin, yang terucap, dilakukan bareng-bareng.

Mengamini setiap tindakan presiden itu juga akan dilakukan PDIP, Gerindra, dan Hanura. Kendati partai-partai itu tidak ikut kebagian jatah, tapi racikan resep ‘pemaksaan’ agar mereka manut (penurut) dan manthuk (mengiyakan) telah ditemukan. Hanya bedanya, jika yang lain mengamini agar jabatannya tak diganti, tiga partai ini mengamini sambil menggerundel.

Memang ini cilakanya. Partai-partai itu semula digadang-gadang sebagai penyeimbang. Diposisikan sebagai partai oposisi untuk mengkritisi jalannya pemerintahan agar demos dan kratos sekecil apapun kadarnya masih bisa diuri-uri.

Tapi catatan masalalu para pimpinan serta timbunan masalah yang memuara pada mereka membuat ‘sang oposan’ jadi ‘oplosan’. Mereka lemah. Teriak lantang keluarga terpenjara. Sedang berdiam diri demokrasi terpasung di sangkar emas. Jadi, drama sebabak terpaksa sering dipertunjukkan. Intinya, partai-partai itu ditaksir idem dito dengan partai yang berkoalisi.

Ini simalakama sekaligus ironi. Oposisi tidak mampu bersikap sebagai oposan. Mereka berteriak-teriak di hutan belantara karena kalah ‘jumlah’. Suaranya akan tenggelam di tengah dominasi partai pendukung pemerintah.

Sedang kedua, sebagai ‘orang lama’ di kekuasaan dipastikan pernah berbuat salah. Kesalahan yang memang salah, atau kebenaran yang dipolitisasi agar menjadi salah. Ditambah naungan massa yang ‘adigang-adigung’, maka tiap mantan pemimpin yang kini jadi pemimpin partai seperti berhadapan dengan Milan Kundera. Masalalu yang kelam terus dikejar-kejar agar tidak dilupakan.

Di tengah oposisi yang diprediksi tidak bertaji itu, maka harapan tinggal satu. Semoga pemerintahan SBY berjalan seperti yang diharapkan rakyat. Kalau terpaksa, harapan lain memang masih ada, yaitu ‘oposisi alternatif’. Mudah-mudahan mahasiswa masih punya nyali, kendati akhir-akhir ini penyakit hedonis telah mewabah di komunitasnya.

*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. (iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads