Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melantik sederet menteri untuk duduk di Kabinet Indonesia Bersatu babak dua. Para menteri itu berasal dari partai politik, profesional, dan sebagian lagi orang-orang yang terlibat dalam tim sukses saat kompetisi dalam Pemilu Presiden (Pilpres) lalu.
Komposisi para pembantu presiden itu kian meyakinkan, bahwa pengebirian macan galak, kambing congek, bebek yang suka merengek berjalan dengan sempurna. Partai tipe satwa macam itu kehilangan watak asli. SBY jeli danĀ bertindak taktis. Menerapkan āpolitik timurā. Memberi posisi bagi yang āmembantuā agar tidak muncul Suro dan Nambi di era Majapahit.
Strategi macam ini memang sangat ampuh. Itu gaya pawang menciptakan ketergantungan. Satwa āyang dibinaā diberi makan sekadarnya agar tetap hidup. Dan kalau berbuat macam-macam jatah itu dikurangi atau ditiadakan. Para menteri SBY disuruh menandatangani kontrak politik.
Lima tahun ke depan situasi politik negeri ini diprediksi āaman dan tentramā. Gagasan dan tata laksana eksekutif diindikasikan berjalan lancar. Jangan lagi bermimpi ada nada sumbang di parlemen. Apalagi banjir interupsi kala SBY dan pembantunya sedang laporan.
Tradisi koor massal di jaman Orde Baru kini sedang disetting ulang. Sastra puja yang biasa digunakan para pujangga menaikkan aura raja lagi diotak-atik untuk dipraktekkan. Jika masanya tiba, pidato presiden akan berubah jadi mantra. Menghipnotis semuanya bersatu-padu membuka kedua telapak tangan. Dan hanya kata amin, amin, yang terucap, dilakukan bareng-bareng.
Mengamini setiap tindakan presiden itu juga akan dilakukan PDIP, Gerindra, dan Hanura. Kendati partai-partai itu tidak ikut kebagian jatah, tapi racikan resep āpemaksaanā agar mereka manut (penurut) dan manthuk (mengiyakan) telah ditemukan. Hanya bedanya, jika yang lain mengamini agar jabatannya tak diganti, tiga partai ini mengamini sambil menggerundel.
Memang ini cilakanya. Partai-partai itu semula digadang-gadang sebagai penyeimbang. Diposisikan sebagai partai oposisi untuk mengkritisi jalannya pemerintahan agar demos dan kratos sekecil apapun kadarnya masih bisa diuri-uri.
Tapi catatan masalalu para pimpinan serta timbunan masalah yang memuara pada mereka membuat āsang oposanā jadi āoplosanā. Mereka lemah. Teriak lantang keluarga terpenjara. Sedang berdiam diri demokrasi terpasung di sangkar emas. Jadi, drama sebabak terpaksa sering dipertunjukkan. Intinya, partai-partai itu ditaksir idem dito dengan partai yang berkoalisi.
Ini simalakama sekaligus ironi. Oposisi tidak mampu bersikap sebagai oposan. Mereka berteriak-teriak di hutan belantara karena kalah ājumlahā. Suaranya akan tenggelam di tengah dominasi partai pendukung pemerintah.
Sedang kedua, sebagai āorang lamaā di kekuasaan dipastikan pernah berbuat salah. Kesalahan yang memang salah, atau kebenaran yang dipolitisasi agar menjadi salah. Ditambah naungan massa yang āadigang-adigungā, maka tiap mantan pemimpin yang kini jadi pemimpin partai seperti berhadapan dengan Milan Kundera. Masalalu yang kelam terus dikejar-kejar agar tidak dilupakan.
Di tengah oposisi yang diprediksi tidak bertaji itu, maka harapan tinggal satu. Semoga pemerintahan SBY berjalan seperti yang diharapkan rakyat. Kalau terpaksa, harapan lain memang masih ada, yaitu āoposisi alternatifā. Mudah-mudahan mahasiswa masih punya nyali, kendati akhir-akhir ini penyakit hedonis telah mewabah di komunitasnya.
*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. (iy/iy)











































