Golkar Hantu Atau Mbaurekso?
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Golkar Hantu Atau Mbaurekso?

Jumat, 09 Okt 2009 10:03 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
  Golkar Hantu Atau Mbaurekso?
Jakarta - Akhirnya Aburizal Bakrie menang. Dia akan memimpin Partai Golkar ke depan. Kemenangan itu memberi sinyal, politisi partai ini masih bisa berpikir jernih.
Idealisasi tak harus 'dijual'. Bagaimana nasib Golkar ke depan? Adakah Beringin bakal dihuni 'hantu-hantu' lagi yang menakuti pengurus dan anggotanya atau ditempati 'Sang Mbaurekso' yang disegani? Ini otak-atik tentang itu.

Perebutan Ketua Umum Partai Golkar happy ending. Suasana dinamis yang sempat ditakutkan berakhir keributan tidak terjadi. Kedewasaan mampu mengarahkan
'perbedaan' berjalan beriring. Harmonisasi terbentuk, dan segalanya berakhir indah.

Aburizal Bakrie (Ical) dianggap representasi penguasa. Itu karena posisi dia sebagai Menko Kesra. Dengan menjabat sebagai Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar, maka banyak yang berasumsi kemenangan Ical ini 'mematikan' Partai Golkar ke depan. Itu karena dikaitkan dengan jabatan Ical sebagai menteri, 'anak buah' Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika Ical 'anakbuah SBY" tampil sebagai Ketum Golkar, pikiran liniernya Partai Golkar sekarang dalam kendali SBY. Dan karena SBY adalah pembina Partai Demokrat, maka Partai Golkar di tangan Ical dimaknai sebagai 'partai tergadai'. Partai yang berada di 'ketiak' Partai Demokrat. Itu yang banyak diungkap para pakar politik.

Pikiran macam itu tidak salah. Idealnya partai itu memang independen. Kompromi dengan 'kekuasaan' tidak dikenal, dan harus berada di luar 'sistem' jika bukan 'partai penguasa'.

Namun 'tradisi politik' negeri ini amat beda. Sampai hari ini belum tampak bentuk 'partai oposisi' yang sesungguhnya. Partai yang memproklamirkan diri sebagai oposisi tidak punya visi jelas dan tegas. Malah banyak yang menterjemahkan oposisi hanya dengan 'teriakan lantang', yang materi teriakannya bersifat apologis.

Bagi saya, Partai Beringin di tangan Ical tidak lagi dihuni 'hantu-hantu' menakutkan seperti di era kepemimpinan Jusuf Kalla (JK). Kala itu partai ini sangat ditakuti. Bukan oleh partai lain, tapi oleh anggota dan pengurus partai ini sendiri. Sedikit salah dikenai sanksi atau dipecat, karena berbeda pandangan dianggap sebagai lawan yang harus diberantas.

Partai Golkar dalam kepemimpinan 'baru' ini saya yakin beda. Ini format lama yang sudah teruji mampu membesarkan Partai Beringin. Akbar Tanjung dan Agung Laksono akan menempati posisi sebagai Ketua Dewan Penasihat dan Sekretaris Jenderal, mendampingi Ical yang sejak lama ingin mengukir sejarah seperti pernah dilakukan saat memegang jabatan sebagai Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin).

Formasi itu amat ideal. Gaya mereka 'mengemudikan' Partai Golkar akan mampu menyatukan potensi partai ini yang sudah terserak kemana-mana. Untuk itu saya
prediksi Beringin ke depan akan dihuni 'Sang Mbaurekso'. Itu karena di dalamnya berisi politisi hebat yang memainkan politik cantik. Politik indah yang
menghanyutkan.

Untuk itu tahun 2014 akan menjadi tahun kejayaan Partai Golkar. Malah partai ini akan mengikis kebesaran Partai Demokrat yang sekarang lagi menikmati uephoria. Adakah prediksi ini akan menjadi kenyataan? Kita lihat dan buktikan di lima tahun ke depan.    



* Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.

(iy/iy)


Berita Terkait