Ini era baru bagi keluarga Cendana. Lama berdiam diri, kemarin menyeruak kabar Tommy Soeharto maju berebut posisi Ketua Umum Partai Golkar. Kabar yang belum jelas sumbernya itu menggugah seluruh media berlomba mendapatkan konfirmasi. Sulitnya mencari klarifikasi, akhirnya selentingan itu dijadikan bahan merangkai warta besar itu. Namun benarkah Tommy maju?
Jawabnya ya. Malah tidak hanya sekadar maju. Dia akan all-out berjuang untuk itu. Dia segera melakukan lobi-lobi politik dengan berbagai pimpinan daerah partai ini. Tidak tertutup kemungkinan melakukan negosiasi, untuk membentuk kolaborasi dengan kandidat yang sudah maju duluan. Ini sebagai bentuk keseriusannya meraih jabatan itu. Tapi alasan apakah yang mendasari Pangeran Cendana itu mendadak memasuki ranah yang sudah lama ditinggalkan itu?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, partai ini telah tercabik-cabik. Terkotak-kotak dalam faksi-faksi, yang negasi antar-faksi kian menajam. Konflik internal itu tidak terhindarkan. Dan jika dibiarkan berlarut-larut, maka Beringin tidak hanya lemah, tetapi bisa jadi bakal terkubur zaman.ย
Kalau sampai itu terjadi, maka hal ketiga (dan ini yang paling esensial), maka Tommy serta keluarga Cendana akan kehilangan masa lalu. Sebuah masa yang merasuk dalam kenangan, dan pasti tidak terhapus dalam ingatan.
Sebab bagi klan Cendana, partai ini bukan hanya organ untuk meraih kekuasaan. Partai ini telah menyatu dan menjadi 'legenda hidup'. Legenda yang tidak terberai dari eksistensi keluarga ini. Di dalamnya tersimpan nostalgia indah, kawah candradimuka politisi handal dan negarawan yang kini bertebaran di banyak posisi strategis, serta prestasi dan kejeniusan sang ayahanda Soeharto sebagai kreatornya.
Untuk itu bagi Tommy, kembali membesarkan Partai Golkar yang mulai kehilangan kekuatan adalah bagian dari bakti anak terhadap ayahandanya. Ini menurut saya, yang memotivasi Hutomo Mandala Putra kukuh merealisasi sikapnya bertarung memimpin Golkar. Kendati disadari, langkah itu harus dilalui lewat jalan rawe-rawe rantas malang-malang putung. Berviveri pericoloso, nyerempet-nyerempet bahaya !
Sebenarnya pikiran Pangeran Cendana ini ke politik sudah terbaui sejak pemilihan umum kemarin. Suaranya tidak diberikan ke Gerindra yang didirikan Prabowo. Primordialisme tidak menyurutkan kecintaannya terhadap Golkar. Beringin tetap disokongnya, sebagai bukti, bahwa bagi keluarga Cendana, Partai Golkar itu tidak boleh lapuk ditelan waktu.
Itu karena Golkar memang tidak lepas dari Pak Harto. Sejak embrio bernama Sekber-Golkar hingga menjadi Partai Golkar. Beringin adalah 'riwayat keluargaโ. Partai ini bagian dari eksistensi Cendana. Itu yang membuat keluarga ini sulit melepaskan diri untuk tidak cawe-cawe membenahi Golkar, ketika partai ini terindikasi menjadi bonsai dan menghadapi saat-saat sakaratul maut.
Tapi kemanakah Tommy bernegosiasi ketika di kandidat pemimpin umum sudah mengerucut dua nama terkuat, Aburizal Bakrie dan Surya Paloh, di samping kuda hitam Ridwan Hisjam, Yuddy Chrisnandi, serta Ferry Mursidan Baldan?
Rasanya, tidak penting siapa yang diajak berkawan. Bagi Tommy, Golkar kembali besar adalah kewajiban. Sebab dengan itu inheren kebesaran sang ayah terus dikenang, serta baktinya sebagai anak terlaksana. Itu tujuan utama. Tujuan mulia seorang Tommy yang bakal mengubah peta perpolitikan Indonesia.
Benarkah segalanya akan berjalan seperti itu? Kita lihat sama-sama apa yang akan dihasilkan Munas Golkar di Pekanbaru bulan Oktober nanti.
*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(iy/iy)











































