Sherlock Holmes & Teroris Sakti
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Sherlock Holmes & Teroris Sakti

Kamis, 13 Agu 2009 10:35 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Sherlock Holmes & Teroris Sakti
Jakarta - Rumah senyap di atas bukit. Hening, lengang, tenang. Sepasukan bersenjata mengendap-endap. Kala halimun masih menebal, serentetan mesin pencabut nyawa menyalak. Kaca, piring, gelas dan perabotan rumah beterbangan. Saat sepi menyergap, ‘sang teroris’ yang dicari raib entah kemana.

Di lokasi lain pola penyergapan yang dilakukan kurang lebih sama. Hanya yang membedakan, di lokasi kali ini jatuh korban jiwa. Mereka yang disebut ‘teroris’ mati. Dari sirine ambulance yang mendengung-dengung, mayat itu diangkut ke Jakarta. Dijadikan ‘sample’ untuk diteliti dan diidentifikasi.

Esoknya, kabar menyebar menyentak masyarakat. Noordin M Top yang jadi momok dikabarkan mati. Seluruh media menyiarkan itu. Tidak terkecuali Al Jazeera yang akrab di Indonesia gara-gara ‘perang’ Amerika di Afghanistan dan Negeri 1001 Malam, Irak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden SBY mengucapkan selamat. Kapolri merekonstruksi. Malaysia ribut. Keluarga di negeri jiran itu sangsi kabar Noordin tewas. Juga yang ada di dalam negeri. Endingnya, ‘tunggu tes DNA’. Kabar kematian Noordin jadi misteri. Wait and see, yang setelah ditunggu berhari-hari ternyata itu jasad Ibrohim !

Kini warta yang ‘meledak’ akhir pekan itu membawa korban lain. Banyak pihak kehilangan imajinasi. Asupan laporan TV, radio, serta gosip jalanan terlalu berlebih dikonsumsi. Akibatnya di telepon selular bermunculan joke-joke yang memerahkan telinga. Yang ketangkap bukan Noordin Top tapi Noordin Taman Lawang, embeeeer !

Riuh memburu teroris telah memaksa kita peduli. Itu karena gerakan teroris dan aksi aparat antiteror amat menawan terhidang. Operasi yang dilakukan ditayang langsung. Sedang di studio TV para pakar intelijen dan ‘mantan teroris’ membahasnya dengan gayeng. Jangan heran jika tayangan itu amat diminati penggemar bola yang suka ‘keseruan’ senyampang liga dunia belum bergulir.

Di tengah tayangan ‘yang biasa-biasa’ saja itu, di kepala berpendar adegan mirip James Bond agen 007. Di kala aparat menghujani rumah dengan pelor, di benak sedang menguntai paparan Nick Carter yang keras kasar penuh misteri. Dan tanpa sadar, dalam hati berharap jalinan kisah yang dipintal indah itu akan memunculkan tokoh sekaliber Sherlock Holmes. Detektif piawai pakar psikoanalisa, yang makin hebat saja ketika dibantu dokter Watson ahli forensik.

Dari dua tokoh itu kejutan demi kejutan hadir. Sherlock mengenali buruan sampai detail dan menangkap pelaku dengan argumen yang cerdas. Sedang dokter Watson berkemampuan menguak misteri tulang manusia korban pembunuhan. Dua sosok ini jadi tokoh adi-kodrati. Itu karena dalam bahasa kleniknya, dia ‘weruh sak durunge winarah’. Tahu sebelum segalanya jadi semakin membabi-buta.

Di dalam negeri tokoh macam ini diwakili Wisanggeni. Dia sangat sakti, sampai-sampai tidak ada dewa yang mampu menandingi. Kalau dewa hendak berfatwa putera Arjuna ini dengan enteng mencegat dengan jawaban yang diinginkan dari pertanyaan yang belum sempat ditanyakan. Dan semua itu dilakukan dengan berangasan yang justru membuat pemirsa kesengsem karena sembodo.

Memang kisah lokal dan ‘interlokal’ itu rekaan. Tapi reportase perburuan yang gegap-gempita harusnya melahirkan pahlawan baru. Aparat hukum yang andal. Wajib tampil ‘tokoh sakti mandraguna’ yang mirip-mirip James Bond, Sherlock Holmes atau Wisanggeni, biarpun kemiripannya antara bumi dan langit.

Sebab tanpa itu yang dianggap sakti justru terorisnya, seperti situasi batin sekarang ini. Banyak pihak melihat ‘hero’ itu adalah ‘tokoh hitam’ yang mampu menghindar dari segala bentuk jebakan. Malah dia bisa melakukan kawin-mawin dan merekrut martir segala.

Tapi ya kita positive thinking saja. Kegagalan itu sukses yang tertunda. Untuk itu sekarang kita sedang menunggu lahirnya hero pembasmi teroris. Pahlawan spionase yang piawai ‘menangkap ikan’ tanpa mengeruhkan airnya seperti yang barusan terjadi.


*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.

(iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads