Semula Mega dan calon presiden (capres) lain masih ragu dominasi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Itu karena banyaknya tim sukses yang asbun dan asmu. Asal bunyi dan asal muji. Itu terjadi, karena para pemimpin itu memang terkesan memaksa timnya membuat laporan merak-ati. Bagus-bagus agar dipuji.
Keunggulan Partai Demokrat (PD) dalam Pemilihan Legislatif (pileg) membuat semua skenario berganti. Itu karena yang optimistis jadi superpesimistis. Yang kencang dan gesit kayak burung dadali berubah loyo dan nglokro. Maklum karena memang jauh panggang dari api. Dan besar pasak dari tiang. Njomplang !
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
HB X serupa tapi tidak sama. Raja Yogya ini madep-mantep nyapres via Suhardiman melalui SOKSI. Diangkat Sunardi Rinakit gemebyar menyebar tapi setelah itu mirip damar kanginan. Kadang terang kadang redup. Semilir semriwing dan berakhir kurang greget.
Mbak Mega dan HB X sama-sama maju sebagai capres. Keduanya pantang atret (mundur). Taruhan Mbak Mega kultus Bung Karno yang manjing pada dirinya. Dan tidak terbayangkan dekaden yang menerpanya jika sampai kalah dalam berebut tahta presiden Republik Indonesia. Mbak Mega tidak siap menerima itu.
HB X adalah Raja Yogya (saya kurang berani menyebut Raja Jawa karena banyak diprotes). Sabdo pandito ratu. Ide geni dan mewarisi sikap ksatria. Jika sudah terlanjur bersabda maju sebagai calon presiden, maka ‘haram’ hukumnya untuk menarik kembali. Karena kalau sampai itu dilakukan, menyitir ucapan Eros Jarot yang membuat saya tersenyum sambil membenarkan, maka dia bakal jadi ‘raja plastik’. Raja palsu !
Mbak Mega dan HB X dibatasi norma yang tidak mungkin salah satu mewakili yang lain. Pintu tawar-menawar tertutup untuk itu. Posisi capres dan cawapres tabu jadi agenda pembicaraan keduanya. Itu benang merah yang bisa menunjukkan arah, ada apa di balik kemesraan yang mereka rajut berdua.
Kabar yang sekarang menyebar, PDIP calonkan HB X untuk posisi capres. Cawapres belum disinggung. Tapi jika itu benar-benar terjadi, hampir pasti cawapresnya adalah Puan Maharani. Nama Puan tampil setelah diukur dan ditimbang dengan Pramono Anung.
Ini merupakan skenario kelima bagi elit PDIP. Kelahiran skenario ini didasarkan pada hasil pesimistis yang semula tidak diduga. Tapi karena faktualnya memang begitu, maka HB X didorong untuk disandingkan dengan Puan. Keuntungan Mbak Mega, alih-alih mblajari sang putri untuk bertempur di tahun 2014 nanti.
Adakah akan berjalan mulus skenario itu? Nampaknya onak dan duri masih menghadang perjalanan mereka berdua.
(iy/iy)











































