Menaklukkan Keperkasaan SBY
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Menaklukkan Keperkasaan SBY

Jumat, 17 Apr 2009 11:20 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Menaklukkan Keperkasaan SBY
Jakarta - Paska Pemilu Legislatif 9 April 2009 banyak calon presiden (capres) yang buru-buru tahu diri. Melihat perolehan yang tidak signifikan lebih baik mengurungkan niat awal dan berputar haluan. Seolah kekalahan perhelatan Pilpres sudah di depan mata dan menjadi sebuah kepastian. Tidak adakah cara untuk melawan keperkasaan SBY?

Think out of the box. Demikian yang selalu disarankan atasan saya dalam menjalankan tugas, beberapa tahun lalu. Dikatakan, cara berpikir konvensional hanya akan menelorkan sikap kaku dan perilaku yang konvensional pula. Susah mencapai kemajuan. Terlebih bila kita telah terkoptasi pada konsep harus selalu itu-itu saja dan tidak boleh ada cara lain. Akhirnya, output yang muncul hanyalah sebuah kenyataan keseharian yang bersifat jadul. Membosankan, dull alias tidak menggairahkan.

Dalam diplomasi, konsep think out of the box sering juga diartikan sebagai total diplomacy oleh Menlu Hassan Wirajuda. Suatu cara diplomasi dengan segala upaya yang ada untuk lebih menjamin keberhasilan misi luar negeri. Tidak boleh terjebak pada resources yang ada. Harus penuh inisiatif dan cerdik dalam memanfaatkan peluang. Sebagai turunannya, kemudian muncul pula istilah baru seperti diplomasi budaya, diplotainment (perkawinan antara diplomasi dan infotainment) serta lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terjebak pada cara pemikiran model tertentu adalah sebuah sikap dan cara pandang yang tidak menguntungkan dalam berkarya. Kontradiksi terhadap inovasi dan bertentangan dengan takdir zaman modern. Ini biasanya hanya sering terjadi pada sekelompok masyarakat yang banyak khawatir atau kurang maju atau tidak pede atau konvensional atau pendukung paham establisme atau penggemar pragmatisme. Penyakit semacam itu jarang muncul pada masyarakat yang dinamis dan suka tantangan baru.

Bila mau dirunut, dalam sejarah panjang Amerika Serikat (AS) misalnya, seorang tokoh kulit hitam semanis apapun bisa dipastikan tidak akan menjadi presiden. Bahkan dalam berbagai kuliah tentang Amerika di manapun, sejak dini sudah dikenalkan dengan apa yang disebut kelompok penguasa sepanjang masa yakni WASP: white, anglo saxon, protestant. Di luar kelompok tersebut, jangan pernah berharap menjadi presiden AS. Selain itu, wanita juga merupakan kelompok yang termarginalkan dalam pemikiran masyarakat AS untuk menjadi presiden. Semua sudah terbentuk sedemikian rupa selama ratusan tahun dan tidak ada seorangpun yang mau melawan pemikiran tersebut. Bahkan, menuliskan tesis yang berlawanan dengan konsep WASP-pun bisa dibatalkan.

Uniknya, kaum Demokrat dalam pemilu AS lalu justru bertekad untuk keluar sangkar pemikiran dan memutuskan Barrack Obama dan Hillary Clinton untuk menjadi balon presidennya. Meskipun, keduanya merupakan barang tabu dalam sejarah pemikiran masyarakat selama 200 tahun. Tidak heran, banyak pihak awalnya cukup melecehkannya karena memiliki konsekuensi: bila dalam konvensi yang menang Obama berarti kulit berwarna hitam (afro-american) dan bila Hillary pastilah bergender wanita. Sama dengan buah simalakama.

Ketika Obama akhirnya memenangkan konvensi Demokrat, masyarakat AS seperti kaget dan bangun dari tidur. Root causes genetika pria yang pernah lama di Indonesia ini seolah terabaikan. Yang mengemuka dan terkuak hanyalah bahwa ia seorang yang muda, cerdas, berjiwa sosial, pede dan berani menempuh jalan baru dengan cara-cara yang inkonvensional. Rating dirinya terus menanjak. Rupanya inilah satrio piningit ala negeri Paman Sam yang diharapkan bisa memimpin negeri adidaya di tengah krisis global dan percaturan dunia yang makin kompleks.

Di sisi lain, meski dari kalangan minoritas, Obama-pun rupanya sangat bernyali. Mengatasi berbagai tantangan dan tuduhan yang bersifat character assasination, ia selalu yakin dengan slogannya ”yes we can.” Hillary yang nyata-nyata kulit putih setali dua uang. Ia lagi-lagi berpikir out of the box seraya sedia menjadi menteri luar negerinya orang afro american yang selama ini sering tidak diperhitungkan. Tidak heran bila kini dengan segala kepedeannya, Presiden Obama nyaring teriak bahwa umat Islam adalah kawan yang harus dirangkul AS dalam memberantas terorisme. Suatu kalimat yang tidak mungkin muncul dari mulut seorang Bush.

Meski Barrack Hussein Obama dan Hillary Clinton dulu dipersepsikan sebagai hil yang mustahal (istilah almarhum Asmuni Srimulat), ternyata sampai saat ini boleh dibilang berkibar. Jajak pendapat awal April ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat AS mengamini sepak terjang presiden barunya. Partai Republik kini harus berpikir keras bila ingin mengalahkan Obama pada pemilu tahun 2013 yang akan datang.

Fenomena Indonesia


Berdasarkan hasil Pileg awal bulan April ini, para bakal capres kita sepertinya sudah mulai kehilangan nyali. Kalau dulu, setengah tahun sebelum Pileg tercatat ada lebih 8 bakal calon ”jawara” yang akan berlaga dalam perhelatan Pilpres mendatang, kini langsung mengkerut dalam jumlah sangat minim. Seolah dunia perpolitikan Indonesia hanya ada dua model, SBY atau bukan SBY. Bahkan bila dikerucutkan lagi, maka bisa jadi hanya ada dua kandidat yang benar-benar akan berlaga. Quo vadis lainnya?

Terdapat suatu asumsi dan pendapat umum bahwa SBY dengan siapapun capresnya, pasti akan melenggang ke istana. Hitungan kasarnya kadang terlalu simpel. Kalau Pileg saja Demokrat menang, pastilah SBY akan mudah berkibar di Pilpres mendatang. Semua lawan SBY seolah terbengong-bengong, terbelalak, tergopoh-gopoh, termehek-mehek dan bahkan sudah patah arang. Dengan cara pikir yang demikian, maka hanya menyisakan dua pilihan: menjadi penguasa di bawah pimpinan SBY atau menjadi oposisi. Inilah sikap kalah sebelum perang.

Sesuatu yang jarang terpikirkan adalah bahwa partai pemenang Pileg kemarin belum tentu mampu memenangkan capresnya. Lagipula, SBY saat ini belum, sekali lagi belum terpilih sebagai Presiden Indonesia 2009-2014. Masih ada kesempatan untuk mencari peluang mengalahkan SBY. Masih ada waktu untuk mencari cara mengatasi popularitas SBY. Tidak perlu ada kata putus asa.

Terkoptasi pendapat bahwa SBY sudah pasti presiden mendatang adalah sebuah kesalahan berpikir yang membelenggu partai yang akan mengusung capresnya sendiri (non-SBY). Langkah-langkahnya pun menjadi sempit dan tidak kreatif. Bahkan cara-cara yang ditempuh seolah menjadi semacam oportunis ataupun pesimis. Dan bila ini terus dilanjutkan, maka kemungkinan besar SBY akan menjadi presiden lagi. Dan itu sah-sah saja.

Cara berpikir terkotak dalam frame politik nasional saat ini memang kemudian tidak menjanjikan pembaharuan apapun. Bahkan justru mengesahkan suatu ketakutan. Bagaimana tidak, dengan hanya berpegang pada materi beberapa capres yang ada misalnya, maka kalkulasi hitam di atas putih menyebutkan bahwa SBY akan lenggang kangkung. Langkahnya semakin mantap dan tegap untuk kembali ke istana kedua kalinya.

Terkesan kuat adanya sebuah kebingungan bahwa hanya itu dan itu saja yang sah dan layak untuk mencalonkan diri sebagai capres. Sedangkan lainnya tidak ada atau belum pantas. Tidak muncul pemikiran adanya sebuah terobosan baru yang spektakuler, lain dari yang lain, melawan arus, di luar kebiasaan dan seabreg istilah keren lainnya. Dengan kata lain, parpol tidak berani tampil beda.

Banyak partai seolah lupa bahwa selain capres yang mereka pastikan akan kalah melawan SBY, masih terdapat jutaan rakyat Indonesia yang memiliki kapasitas memimpin bangsa ini. Mereka ini tidak hanya hidup di partai, namun juga di lembaga pendidikan, LSM hingga berbaur masyarakat umum. Lupa bahwa pemimpin nasional yang kita cari tidaklah selalu harus berasal dari partai, tetapi orang yang benar-benar memiliki kemampuan memimpin, entah itu berasal dari Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra ataupun Jawa.

Di sisi lain, disinyalir memang ada beberapa pemimpin partai yang hanya memberikan peluang bagi dirinya untuk duduk dalam kekuasaan puncak sembari menafikan orang lainnya. Dengan ego dan keakuannya seolah melihat sebelah mata para pendatang baru yang bisa jadi adalah kuda hitam dan satrio piningit. Sementara itu, masyarakat-pun kelihatan terjebak dalam sebuah peta bahwa hanya orang-orang yang dikenal saja yang layak jadi pemimpin nasional.

Sungguh, sekiranya masyarakat AS dan Partai Demokrat masih berpikir konvensional, mungkin Obama tidak punya peluang jadi presiden. Tetap saja yang menang adalah golongan WASP. Dan sekiranya masyarakat Indonesia dan parpol kita tidak berani berpikir out of the box menjelang pilpres Juli mendatang, maka jangan salahkan siapapun kalau SBY kembali memimpin. Inilah yang sering dikatakan: you are what you think atau what we think, we become.

* Aji Surya adalah alumnus UII, UGM, UI serta Pondok Modern Gontor. Kini tinggal di Moskow, Rusia (ajimoscovic@gmail.com).
(iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads